Paus Yohanes Paulus
II
Sorga menurut Paus
Yohanes Paulus II
Dalam tiga kali pertemuan hari
rabu yang kontroversial itu, Paus
Yohanes Paulus II menjelaskan bahwa ciri hakiki dari sorga, neraka dan api
pencucian adalah bahwa yang dimaksud dengan hal-hal tersebut ialah “keadaan” dari eksistensi roh seperti
malaekat, setan dan roh manusia, dari pada suatu
tempat, seperti dimengerti dan diterangkan dalam bahasa manusiawi pada
umumnya. Istilah “tempat”, menurut Paus, tidaklah tepat untuk menjelaskan
keadaan yang dimaksud, karena tempat terkait dengan keadaan temporal yang
mengkondisikan keberadaan duniawi dan diri kita. Dalam menjelaskan sorga,
neraka dan api pencucian, Paus mengaplikasikan kategori filsafat yang digunakan
oleh Gereja dalam berteologi dan mengatakan kembali apa yang telah dikatakan
oleh St. Thomas Aquinas jauh sebelumnya.
“Hal-hal yang bukan jasmani
tidak berada di dalam suatu tempat menurut cara yang kita ketahui dan yang
biasa kita alami di mana kita mengatakan bahwa tubuh jasmani berada di suatu
tempat; makhluk rohani berada dalam suatu ‘tempat” yang sesuai dengan
hakekatnya sebagai substansi spiritual, cara itu tidak dapat sepenuhnya
dinyatakan kepada kita” (Summa Theologiae, Supplement, Q 69, a. 1, reply 1)
Sorga adalah kepenuhan persatuan dengan Allah
Sorga sebagai kepenuhan
persatuan dengan Allah adalah tema katekese Bapa Suci pada audiensi umum
tanggal 21 Juli 1999. “Sorga bukanlah suatu tempat yang abstrak dan bukan pula suatu tempat fisik di awan-awan;
melainkan suatu relasi yang hidup dan personal dengan Allah Tritunggal. Sorga
adalah perjumpaan kita dengan Bapa yang terjadi di dalam Kebangkitan Kristus
melalui kesatuan dengan Roh Kudus,” kata Paus.
1. Ketika wujud dunia ini
berlalu, mereka yang telah menerima Allah di dalam hidup mereka dan dengan
tulus hati membuka diri mereka bagi cinta-Nya, sekurang-kurangnya pada saat
menjelang ajal, akan menikmati kepenuhan kemuliaan dengan Allah, yang adalah
tujuan hidup manusia.
Seperti yang diajarkan oleh
Katekismus Gereja Katolik, “Kehidupan yang sempurna bersama Allah Tritunggal
Mahakudus ini, persekutuan kehidupan dan cinta bersama Allah, bersama Perawan
Maria, bersama para malaekat dan orang kudus, dinamakan “sorga”. Sorga adalah
tujuan terakhir dan pemenuhan kerinduan terdalam manusia, keadaan bahagia tertinggi
dan definitif.” (n.1024).
Hari ini kita akan mencoba
untuk mengetahui makna biblis dari “sorga” itu agar supaya kita memiliki
pemahaman lebih baik tentang realitas yang ditunjuk oleh ungkapan “sorga” itu.
2. Dalam Kitab Suci kata
“sorga” jika dihubungkan dengan “bumi”, menunjuk pada bagian dari alam semesta.
Alkibat mengatakan tentang alam ciptaan, “ Pada awal mula Allah menciptakan
“sorga” (langit) dan bumi (heavens and
earth) Kej 1;1).
Sorga
adalah tempat kediaman mahatinggi dari Allah yang hidup
Secara metaforis, sorga
dimengerti sebagai tempat tinggal Allah; yang adalah berbeda dari tempat
tinggal manusia (bdk Maz 104: 2dst; 116: 16; Yes 66: 1). Allah melihat dan
mengadili dari sorga tinggi (Maz 113: 4-9) dan turun ke bawah jika Nama-Nya
diserukan (bdk. Maz 18:9; 10: 144: 5). Dari metafor biblis itu nampak jelas
bahwa Allah tidak menyamakan diri-Nya dengan sorga; Ia juga tidak dapat dimuat
di dalamnya (bdk I Raj 8: 27); dan ini sungguh benar, meskipun dalam beberapa
ayat dari buku pertama Makabe, “sorga” hanyalah salah satu nama dari Allah (I
Makabe 3: 18, 19, 50, 60; 4: 24, 55).
Gambaran ‘sorga” sebagai tempat
kediaman mahatinggi dari Allah yang hidup sama dengan gambaran tempat di mana
para orang beriman, melalui rahmat, bisa naik ke atasnya dan masuk ke dalamnya,
seperti kita lihat dalam Perjanjian Lama dalam kisah Henoh (Kej 5: 24) dan Elia
(2 Raj 2: 11). Dengan demikian sorga menjadi suatu gambaran kehidupan di dalam
Allah. Dalam arti ini Yesus berbicara tentang “upah di sorga” (Mat 5:12) dan
mengajak umat untuk menaruh harapan pada harta sorgawi (Mat 6:20; 19:21)
3. Perjanjian Baru memperluas
pengertian sorga dalam relasinya dengan misteri Kristus. Untuk menunjukkan
bahwa pengorbanan Sang Penyelamat menghasilkan nilai yang sempurna dan
definitif, surat kepada orang Ibrani mengatakan bahwa Yesus telah melintasi
semua langit (Ibr 4:14) dan Kristus
telah masuk bukan ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya
merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri
untuk menghadap hadirat Allah demi kepentingan kita. (Ibr 9:24). Oleh karena
orang beriman itu dikasihi oleh Allah Bapa secara istimewa, mereka dibangkitkan
bersama dengan Kristus dan dijadikan penduduk sorga. Baiklah kita menyimak apa
yang dikatakan oleh rasul Paulus tentang hal itu dalam suatu ungkapan yang
sangat jelas; “Allah yang kaya akan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar,
yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan
Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih
karunia kamu diselamatkan – dan di dalam Krisus Yesus Ia telah membangkitkan
kita juga dan memberikan tempat
bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia
menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai
dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.” (Ef. 2:4-7). Kebapaan
Allah, yang penuh rahmat, dialami oleh ciptaan melalui cinta Sang Putera yang
disalibkan dan bangkit, yang duduk di sorga di sebelah kanan Bapa sebagai
Tuhan.
4. Setelah peziarahan hidup
kita di dunia ini berakhir, partisipasi sempurna dalam intimitas dengan Allah
terjadi melalui dimasukkannya kita ke dalam misteri Paskah Kristus. Rasul
Paulus menekankan perjumpaan kita dengan Kristus di sorga pada akhir zaman
dengan gambaran keduniaan yang hidup dan nyata: “Sesudah itu, kita yang hidup,
yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan
menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama
dengan Tuhan.” ( 1 Tes 4: 17-18).
Kehidupan
Sakramental adalah antisipasi sorga
Dalam konteks Wahyu, kita tahu
bahwa ‘sorga” atau “kebahagiaan” di dalam mana kita akan menemukan diri kita
itu bukanlah sesuatu yang abstrak dan bukan pula suatu tempat fisik di
awan-awan, melainkan suatu relasi yang hidup dan sangat personal dengan Allah
Tritunggal. Sorga adalah perjumpaan kita dengan Allah yang terjadi di dalam
Kristus yang bangkit melalui kesatuan dengan Roh Kudus.
Perlu juga untuk bisa menahan
diri dalam keinginan besar untuk menjelaskan “sorga” dan “kehidupan abadi” itu
karena gambaran yang kita buat tentangnya selalu tidak memuaskan. Dewasa ini,
bahasa personalisme lebih cocok untuk menggambarkan keadaan bahagia dan
“tempat” yang akan kita nikmati dalam kesatuan definitif kita dengan Allah. Katekismus
Gereja Katolik meringkaskan ajaran Gereja tentang kebenaran ini demikian, “Oleh
kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus Kristus telah “membuka” sorga bagi kita.
Kehidupan orang bahagia berarti memiliki secara penuh buah penebusan oleh
Kristus. Ia mengundang mereka, yang selalu percaya kepada-Nya dan tetap setia
kepada kehendak-Nya, mengambil bagian dalam kemuliaan sorgawi-Nya. Sorga adalah
persekutuan bahagia dari mereka semua yang bergabung sepenuh-penuhnya dengan
Dia (no. 1026).
5. Keadaan akhir itu dapat
diantisipasi atas salah satu cara dalam hidup kita sekarang melalui sakramen,
yang pusatnya adalah Ekaristi, dan melalui pemberian diri dalam kasih
persaudaraan. Jika kita dapat “merasakan” dengan tepat hal-hal baik yang Tuhan
curahkan setiap hari pada kita, kita sudah mulai merasakan kedamaian dan
kegembiraan itu yang suatu hari kelak akan menjadi milik kita secara sempurna.
Kita tahu bahwa di dalam dunia ini segala sesuatu adalah terbatas, namun
pemikiran tentang hal-hal yang tak-terbatas dapat membantu kita untuk
menghidupi secara lebih baik “realitas terbatas sebelum yang tidak terbatas itu
(“penultimate”, before the “untimate”
realities). Kita tahu bahwa ketika kita sedang berziarah di dunia ini, kita
diundang untuk mencari “hal-hal yang di atas, tempat Kristus duduk di sisi
kanan Allah Bapa” (Kol. 3;1), agar supaya kita bersatu dengan-Nya dalam
kepenuhan eskatologis, ketika Roh Kudus secara paripurna akan mendamaikan
segala-sesuatu dengan Bapa, segala sesuatu yang ada di bumi maupun di sorga”
(Kol 1:20).
We know that on this
earth everything is subject to limits, but the thought of the
"ultimate" realities helps us to live better the
"penultimate" realities.
Taken from:
L'Osservatore Romano
Weekly Edition in EnglishHeaven: 28 July 1999, 7Hell: 4 Augt 1999, 7Purgatory: 11/18 Augt
L'Osservatore Romano
Weekly Edition in EnglishHeaven: 28 July 1999, 7Hell: 4 Augt 1999, 7Purgatory: 11/18 Augt
Artikel ditemukan oleh P.
Jan van Paassen, msc
Diterjemahkan oleh P.
Albertus Sujoko, msc
Tidak ada komentar:
Posting Komentar