RESENSI BUKU
1.
Identitas buku
Judul buku :
Pembinaan Generasi Muda
Penulis :
Drs. Philips Tangdilintin MM
Penerbit :
Kanisius (Yogyakarta)
Tahun terbit :
2008
Tebal buku :
201 halaman
2.
Isi buku
Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2005
menempatkan kaum muda sebagai kelompok dengan peran strategis dalam upaya
membentuk keadaban public baru bangsa. Dalam TOR SAGKI 2005, hlm. 7 – 8,
ditegaskan: “Komunitas Basis dengan kaum muda sebagai gerakan utama perlu
berperan aktif di dalam pembentukkan keadaban publik baru tersebut. inilah
kntribusi sekaligus peran utama yang dapat dilaksanakan oleh Gereja Katolik
Indonesia dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa di tengah-tengah kecemasan
dan harapan masa kini dan dalam menyongsong masa depan yang lebih baik”.
Pemeo lama, ‘siapa yang memiliki generasi muda, akan
memiliki masa depan’, tampaknya sudah harus dipertanyakan. Pengalaman
membuktikan bahwa barisan orang muda yang tidak terdidik dan terbina yang
kemudian menjadi penganggur yang membebani masyarakat semakin panjang. Maka
memiliki saja tak cukup. Mendidik, membina, dan memberi peran generasi muda di
usia musa harus menjadi kata kunci menuju masa depan.
Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda, panduan
pendampingan OMK secara nasional dari Komisi Kepemudaan KWI, Merumuskan 5
bidang pembinaan :
1.
Pengembangan
kepribadian, yang mencakup pengenalan dan penerimaan diri, kemampuan berelasi
dan ketangguhan fisik mental
2.
Pengembangan
katolisitas, yang meliputi kehidupan iman dan penghayatan hidup rohani, serta
kehidupan menggereja
3.
Pengembangan
kemanusiaan dan kemasyarakatan untuk menumbuhkembangkan kepekaan dan kepedulian
sosial, solidaritas sosial, pembelaan martabat dan hak asasi manusia, serta
kesiapsediaan untuk terlibat dan berperan aktif dalma hidup bermasarkaat dan
bernegara
4.
Pengembangan
kepemimpinan dan keorganisasian untuk enyiapkan dan membekali OMK potensial
dengan kemampuan leadership agar semakin efekti menjadi garam dan terang, serta
menumbuhkan minat dan kemampuan berorganisasi
5.
Pengembangan
intelektualitas dan profesionalitas yang antara lain meliputi kemampuan
berpikir kritis analitis reflektif, serta penguasaan dan tanggung jawab profesi
dengan mengembangkan etika profesi dan etos kerja.
Sedangkan untuk strategi pembinaan penulis
mengatakan tentang pengertian strategi. Strategi berasal dari bahasa Yunani
strategos atau kemampuan seorang jendral untuk memenagkan perang, selalu
dikatikan dengan perencanaan yang komprehensif, sistematik dan menjangkau masa
depan. Maka pembianaan prang muda adalah sesuatu yang pada dirinya bernilai
strategis karena orang muda adalah kelompok strategis.
Salah satu masalah utama bahkan dosa berat dalam
pembinaan orang muda kita adalah tidak adanya komitmen bagi kesinambungan dan
konsistensi pembinaan. Semua tergantung pada figure yang hampir cenderung mulai
dari nol dengan gaya dan kebijakan pejabat baru. Tidak ada strategi, tidak ada
system.
Dalam satu lokakarya regional Jawa di Malang, Romo
Y.B. Mangunwijaya, pr. Menggunakan istilah “Taman Bunga” untuk pembinaan kawula
muda. Berbagai jenis bunga bertumbuh kembang sesuai dengan ciri dan karakternya
masing-masing. Tugas tukang kebun adlah merawat, menyiram, menyiangi, memberi
pupuk bila perlu. Dia harus membiarkan mawar tetap mawar, melati tetap melati.
Dia tidak boleh mencoba mengubah melati menjadi mawar misalnya dia hanya senang
pada bunga mawar. Analogi ini angat tepat untuk melawan berbagai kecenderungan
penggiringan dan pemaksaan dalam pembinaan yang mengarah pdaa penyeragaman
seperti terjadi di zaman orde baru. Strategi dasar pembinaan harus menerima dan
menghargai keanekaragaman ini, lalu menciptakan iklim yang sehat, kondusif, dan
supportif bagi pertumbuhan berbagai kelompok atau komunitas dan organisasi.
Analogi taman bunga juga dikenakan pada kenyataan
adanya berbagai kelompok, komunitas, organisasi degnan keunikan masing-masing.
Komunitas seperti itu sudah dan masih akn terbentuk melalui jalur berikut:
territorial, kategorial dan fungsional. Teritorial berdasarkan jalur wilayah
paroki, rukun atau kring, misalnya Mudika Paroki, Mudika Wilayah dan Mudika
Rukun atau Kring. Kategorial berdasarkan kategori aspirasi dan minat misalnya
PMKRI, Pemuda Katolik, Choice, KHK, Legio Mariae Junior, Pencita Alam, Paduan
Suara, dan Vocal Group. Funsional berdasarkan fungsi dan tugas tertentu yang
diemban dalam gereja, misalnya komunitas Misdiniar dll.
Kalau kita sering mengikuti berbagai pertemuan di
tingkat lokal, regional, maupun nasional, salah satu kenyataan paling
memprihatinkan ialah bahwa mayoritas peserta tidak menguasai teknik dasar
diskusi kelompok. Banyak pertemuan seperti itu gagal mencapai hasil optimal
hanya karena kualitas peserta yang tidak terbiasa berdiskusi secara benar.
Kalau yang memimpin suatu diskusi tidak tahu teknil memimpin diskusi, hasilnya
pasti tidak lebih dari kumpulan pendapat pribadi. Sekurang-kurangnya ada 4
manfaat diskusi kelompok yakni :
1.
Mengembangkan
pengertian pada diri sendiri: keberanian berpikir dan mengemukakan pendapat,
menyadari keterbatasan, motivasi untuk mengembangkan wawasan dan kecakapan berbicara
dan beragrumentasi secara cerdas. Juga berani mempertahankan pendapat sampai
dapat membuktikan bahwa pendapat itu tidak atau kurang tepat.
2.
Belajar bersikap
terbuka untuk menyadari perbedaan sebagai berkat, menghargai pendapat dan
pandangan yang berbeda, belajar menerima orang lain sebagaimana adanya dengan
kekuatan dan kelemahannya.
3.
Meningkatkan
pemahaman terhadap masalah yang jadi topic diskusi, secara mendalam maupun
meluas untu mencari solusi yang tepat dalma kebersamaan.
4.
Melatih
kemampuan mengelola perbedaan, mencari titik temu dari pendapat-pendapat yang
berbeda untuk mencapai kesimpulan sebagai hasil diskusi. Hasil itu bisa berupa
kesepakatan, bisa juga ketidaksepakatan.
Oleh karena itu kalau digunakan dalam pembinaan,
teknik diskusi kelompok harus dilatikan dengan benar. Bakan latihan tekni
diskusi harusnya menjadi topic pembinaan. Dewasa ini ada cukup banyak buku
bermutu tentang teknik diskusi.
3.
Kelemahan
Pada
buku tersebut masih ada salah pengetikan. Buku ini ditulis pada tahun 2008,
bisa dikatakan bahwa buku ini masih relevan dengan perkembangan dunia saat ini.
Ketika membawa buku ini, sangat menarik perhatian pembaca, namun sayang pada
kenyataan masih kurang minat dari orang muda untuk mengembangkan kehidupan
mereka sehingga menjadi mudika yang memiliki kualitas yang lebih baik. Hendaknya
penulis mempertimbangkan keadaan masa kini bukan hanya memaparkan metode yang
digunakan untuk membina mudika tersebut.
4.
Kekuatan
Penulis
mampu memparkan apa yang menjadi masalah yang dialami oleh kaum muda katolik.
Kalimat yang sangat menarik yang diulis penulis ialah “ketika ada orang muda
disitu pasti ada masa depan atau orang muda menjadi masa depan gereja”, sudah
tidak menjadi suatu istilah yang bisa dipertahankan. Mengapa? Karena kaum muda
saat ini rentan terhadap permasalahan, tidak tahan banting.
Kelebihan
yang lain, penulis mememberikan metode-metode pembinaan kepda kaum muda. Dengan
melihat situasi dan kondisi, penulis penulis memberikan pedoman bagi pembinaan
kaum muda atau lebih dikenal dengan strategi pastoral kaum muda. Bagaimana kaum
muda di Paroki hingga ke wilayah rohani, dibina sehingga menjadi kaum muda yang
siap menjadi garam dan terang di dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar