Sabtu, 20 Februari 2016

Pembinaan Generasi Muda




RESENSI BUKU
1.                  Identitas buku
Judul buku      : Pembinaan Generasi Muda
Penulis             : Drs. Philips Tangdilintin MM
Penerbit           : Kanisius (Yogyakarta)
Tahun terbit     : 2008
Tebal buku      : 201 halaman

2.                  Isi buku
Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2005 menempatkan kaum muda sebagai kelompok dengan peran strategis dalam upaya membentuk keadaban public baru bangsa. Dalam TOR SAGKI 2005, hlm. 7 – 8, ditegaskan: “Komunitas Basis dengan kaum muda sebagai gerakan utama perlu berperan aktif di dalam pembentukkan keadaban publik baru tersebut. inilah kntribusi sekaligus peran utama yang dapat dilaksanakan oleh Gereja Katolik Indonesia dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa di tengah-tengah kecemasan dan harapan masa kini dan dalam menyongsong masa depan yang lebih baik”.
Pemeo lama, ‘siapa yang memiliki generasi muda, akan memiliki masa depan’, tampaknya sudah harus dipertanyakan. Pengalaman membuktikan bahwa barisan orang muda yang tidak terdidik dan terbina yang kemudian menjadi penganggur yang membebani masyarakat semakin panjang. Maka memiliki saja tak cukup. Mendidik, membina, dan memberi peran generasi muda di usia musa harus menjadi kata kunci menuju masa depan.
Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda, panduan pendampingan OMK secara nasional dari Komisi Kepemudaan KWI, Merumuskan 5 bidang pembinaan :
1.      Pengembangan kepribadian, yang mencakup pengenalan dan penerimaan diri, kemampuan berelasi dan ketangguhan fisik mental
2.      Pengembangan katolisitas, yang meliputi kehidupan iman dan penghayatan hidup rohani, serta kehidupan menggereja
3.      Pengembangan kemanusiaan dan kemasyarakatan untuk menumbuhkembangkan kepekaan dan kepedulian sosial, solidaritas sosial, pembelaan martabat dan hak asasi manusia, serta kesiapsediaan untuk terlibat dan berperan aktif dalma hidup bermasarkaat dan bernegara
4.      Pengembangan kepemimpinan dan keorganisasian untuk enyiapkan dan membekali OMK potensial dengan kemampuan leadership agar semakin efekti menjadi garam dan terang, serta menumbuhkan minat dan kemampuan berorganisasi
5.      Pengembangan intelektualitas dan profesionalitas yang antara lain meliputi kemampuan berpikir kritis analitis reflektif, serta penguasaan dan tanggung jawab profesi dengan mengembangkan etika profesi dan etos kerja.
Sedangkan untuk strategi pembinaan penulis mengatakan tentang pengertian strategi. Strategi berasal dari bahasa Yunani strategos atau kemampuan seorang jendral untuk memenagkan perang, selalu dikatikan dengan perencanaan yang komprehensif, sistematik dan menjangkau masa depan. Maka pembianaan prang muda adalah sesuatu yang pada dirinya bernilai strategis karena orang muda adalah kelompok strategis.
Salah satu masalah utama bahkan dosa berat dalam pembinaan orang muda kita adalah tidak adanya komitmen bagi kesinambungan dan konsistensi pembinaan. Semua tergantung pada figure yang hampir cenderung mulai dari nol dengan gaya dan kebijakan pejabat baru. Tidak ada strategi, tidak ada system.
Dalam satu lokakarya regional Jawa di Malang, Romo Y.B. Mangunwijaya, pr. Menggunakan istilah “Taman Bunga” untuk pembinaan kawula muda. Berbagai jenis bunga bertumbuh kembang sesuai dengan ciri dan karakternya masing-masing. Tugas tukang kebun adlah merawat, menyiram, menyiangi, memberi pupuk bila perlu. Dia harus membiarkan mawar tetap mawar, melati tetap melati. Dia tidak boleh mencoba mengubah melati menjadi mawar misalnya dia hanya senang pada bunga mawar. Analogi ini angat tepat untuk melawan berbagai kecenderungan penggiringan dan pemaksaan dalam pembinaan yang mengarah pdaa penyeragaman seperti terjadi di zaman orde baru. Strategi dasar pembinaan harus menerima dan menghargai keanekaragaman ini, lalu menciptakan iklim yang sehat, kondusif, dan supportif bagi pertumbuhan berbagai kelompok atau komunitas dan organisasi.
Analogi taman bunga juga dikenakan pada kenyataan adanya berbagai kelompok, komunitas, organisasi degnan keunikan masing-masing. Komunitas seperti itu sudah dan masih akn terbentuk melalui jalur berikut: territorial, kategorial dan fungsional. Teritorial berdasarkan jalur wilayah paroki, rukun atau kring, misalnya Mudika Paroki, Mudika Wilayah dan Mudika Rukun atau Kring. Kategorial berdasarkan kategori aspirasi dan minat misalnya PMKRI, Pemuda Katolik, Choice, KHK, Legio Mariae Junior, Pencita Alam, Paduan Suara, dan Vocal Group. Funsional berdasarkan fungsi dan tugas tertentu yang diemban dalam gereja, misalnya komunitas Misdiniar dll.
Kalau kita sering mengikuti berbagai pertemuan di tingkat lokal, regional, maupun nasional, salah satu kenyataan paling memprihatinkan ialah bahwa mayoritas peserta tidak menguasai teknik dasar diskusi kelompok. Banyak pertemuan seperti itu gagal mencapai hasil optimal hanya karena kualitas peserta yang tidak terbiasa berdiskusi secara benar. Kalau yang memimpin suatu diskusi tidak tahu teknil memimpin diskusi, hasilnya pasti tidak lebih dari kumpulan pendapat pribadi. Sekurang-kurangnya ada 4 manfaat diskusi kelompok yakni :
1.      Mengembangkan pengertian pada diri sendiri: keberanian berpikir dan mengemukakan pendapat, menyadari keterbatasan, motivasi untuk mengembangkan wawasan dan kecakapan berbicara dan beragrumentasi secara cerdas. Juga berani mempertahankan pendapat sampai dapat membuktikan bahwa pendapat itu tidak atau kurang tepat.
2.      Belajar bersikap terbuka untuk menyadari perbedaan sebagai berkat, menghargai pendapat dan pandangan yang berbeda, belajar menerima orang lain sebagaimana adanya dengan kekuatan dan kelemahannya.
3.      Meningkatkan pemahaman terhadap masalah yang jadi topic diskusi, secara mendalam maupun meluas untu mencari solusi yang tepat dalma kebersamaan.
4.      Melatih kemampuan mengelola perbedaan, mencari titik temu dari pendapat-pendapat yang berbeda untuk mencapai kesimpulan sebagai hasil diskusi. Hasil itu bisa berupa kesepakatan, bisa juga ketidaksepakatan.
Oleh karena itu kalau digunakan dalam pembinaan, teknik diskusi kelompok harus dilatikan dengan benar. Bakan latihan tekni diskusi harusnya menjadi topic pembinaan. Dewasa ini ada cukup banyak buku bermutu tentang teknik diskusi.
3.                  Kelemahan
Pada buku tersebut masih ada salah pengetikan. Buku ini ditulis pada tahun 2008, bisa dikatakan bahwa buku ini masih relevan dengan perkembangan dunia saat ini. Ketika membawa buku ini, sangat menarik perhatian pembaca, namun sayang pada kenyataan masih kurang minat dari orang muda untuk mengembangkan kehidupan mereka sehingga menjadi mudika yang memiliki kualitas yang lebih baik. Hendaknya penulis mempertimbangkan keadaan masa kini bukan hanya memaparkan metode yang digunakan untuk membina mudika tersebut.
4.                  Kekuatan
Penulis mampu memparkan apa yang menjadi masalah yang dialami oleh kaum muda katolik. Kalimat yang sangat menarik yang diulis penulis ialah “ketika ada orang muda disitu pasti ada masa depan atau orang muda menjadi masa depan gereja”, sudah tidak menjadi suatu istilah yang bisa dipertahankan. Mengapa? Karena kaum muda saat ini rentan terhadap permasalahan, tidak tahan banting.
Kelebihan yang lain, penulis mememberikan metode-metode pembinaan kepda kaum muda. Dengan melihat situasi dan kondisi, penulis penulis memberikan pedoman bagi pembinaan kaum muda atau lebih dikenal dengan strategi pastoral kaum muda. Bagaimana kaum muda di Paroki hingga ke wilayah rohani, dibina sehingga menjadi kaum muda yang siap menjadi garam dan terang di dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar