Sabtu, 13 Februari 2016

Makna Penderitaan



Makna Penderitaan dan Sakramen Orang Sakit
Pendahuluan
            Manusia setiap saat pasti akan bertemu dengan penderitaan. Entah karena sakit, tua, dan  mungkin karena kemiskinan apalagi ketika menanti ajal kematian. Manusia mau tidak harus menerimanya dengan berat hati. Ataupun dengan tenang hati. Teologi Kristiani mengajarkan bahwa penderitaan yang dihadapi manusia berarti merasakan juga apa yang diderita Yesus dalam sengsara dan wafatnya. Oleh karena itu sadar atau tidak sadar, Gereja mengajarkan umatnya untuk menerima dan mengambil makna dibalik penderitaan tersebut. Kalau dibandingkan dengan ajaran Buddhisme yang mengajarkan bahwa manusia dapat menghindari penderitaan bahkan melenyapkan penderitaan dengan ajaran Buddha tentang delapan jalan kebenaran.[1]
            Tentu pada paper ini tidak membandingkan antara ajaran Buddha dan Gereja Katolik. Tetapi mau menekankan dari aspek Gereja mengenai penderitaan. Kalau Buddha dengan memberikan ajaran tentang jalan-jalan kebenaran. Lalu bagaimana dengan Gereja menghadapi penderitaan dan sakit?
Untuk itu paper ini akan dibahas tentang makna penderitaan dan Sakramen orang sakit. Maka ada beberapa pokok yang hendak dituangkan pada paper ini. Pertama, pengertian penderitaan itu sendiri. Ada apa dibalik penderitaan, mengapa manusia merasakan derita. Pokok kedua berhubungan dengan orang sakit. Karena derita lebih banyak berhubungan dengan orang sakit apalagi mereka yang tinggal menanti ajalnya. Maka, apa makna dari Sakramen tersebut bagi mereka yang menderita apalagi yang sedang menanti ajal ?
1.                  Makna Penderitaan
Dikatakan bahwa setiap manusia akan mengalami penderitaan terslebih karena sakit. Derita bisa berhubungan dengan fisik dan batin manusia. Ketika lemah tak berdaya karena sakit parah maka itulah penderitaan. Karena luka dalam batin yang dalam itu juga disebut dengan penderitaan. Dalam kutipan Pst. Joko pada uraian Jean Vimort menerangkan “Menyadari bahwa dalam kematian sudah mendekat menyebabkan shock yang sangat kentara dalam level sensibilatas dan afektivitas. Kegelisahan, rasa sakit, sikpa protes dan keputusasaan saling campur aduk”[2]. Demikianlah gambaran bagaimana seseorang yang sedang menderita.
Dalam Perjanjian Lama, manusia mengalami bahwa penyakit, atas cara penuh rahasia berhubungan dengan dosa dan dengan yang jahat, dan bahwa kesetian kepada Allah dan hukumNya mengembalikan hidup (Kel 15:26). Nabi Yesaya mengerti bahwa sengsara juga dapat mempunyai arti penyilihan bagi orang-orang lain (Yes 53:11). Yesaya juga menubuatkan kedatangan suatu waktu di mana Allah akan mengampuni setiap kesalahan dan menyembuhkan setiap penyakit (Yes 33:24). Nubuat ini akan genap dalam Perjanjian Baru[3].
Dalam Perjanjian Baru, kedatangan Yesus untuk mengasihani orang sakit dan menyembuhkan segala penyakit sebagai tanda nyata bahwa Allah telah melawat umatNya (Luk 7:16), dan bahwa Kerajaan Allah sudah di amabang pintu. Dengan tidak hanya menyembuhkan penyakit tetapi juga mengampuni dosa (Mrk 2:5-12), Yesus membebaskan manusia seutuhnya, jiwa dan badan. Walaupun Yesus malah menjadikan sengsara para penderita sebagai sengsaraNya sendiri. Yesus pun mengajak para muridNya supaya dengan mengikuti Dia dan memikul salib mereka memperoleh pandangan baru tentang penyakit dan penderita sakit. Para murid mengambil bagian dalam pelayanan belas kasihan dan keselamatan yang diberikan Yesus itu[4].
Setelah melihat dua penjelasan singkat dari Perjanjian Lama dan Perjanjian baru maka selanjutnya dari pokok ini akan dilihat dua bagian yakni makna penderitaan bagi Si sakit dan bagi orang lain yang tidak menderita saat itu.

1.1.            Makna penderitaan bagi yang sedang menderita
Kerap kali penyakit mendorong orang untuk mencari Allah dan kembali kepadanya. Penyakit dapat menyebabkan rasa takut, sikap menutup diri, malahan kadang-kadang rasa putus asa dan pemberontakkan terhadap Allah. Tetapi ia juga dapat membuat manusia matang, dapat membuka matanya terhadap apa yang tidak penting dalam kehidupannya, sehinga ia berpaling kepada hal-hal yang penting. Seringkali penyakit membuat orang mencari Allah dan kembali lagi kepadaNya (Katekismus, 1500-1501)[5].
Selain itu bagi orang yang sakit dan hampir meninggal, dia akan kembali memikirkan eksistensinya selama hidup di dunia ini. Ia menimbang-nimbang hal yang fundamental. Hal ini memiliki beberapa manfaat bagi mereka yang sakit: pertama, tumbuhnya keyakinan bahwa tidak pernah terlambat untuk berubah (bertobat). Kedua, yakin bahwa manusia punya arti yang besar bagi dirinya sendiri. Ketiga, menghidupi kembali pilihan-pilihan fundamental. Keempat, percaya pada kelanjutan sejarah manusia[6].
Selain itu, bagi mereka yang menderita, kadang penderitaan yang dialami dihubungkan dengan dosa yang telah dilakukan di masa lalu. Penderitaan memang ada sangkut pautnya dengan dosa manusia, sekalipun tidak bisa dikatkan bahwa setiap orang sakit menderita karena dosanya atau menderita setimpal dengan dosa-dosanya (bdk Yoh 9:3). Allah menghendaki agar manusia berjuang dengan gigih melawan setiap penyakit dan memelihara kesehatan sebaik-baiknya, agar dalam kondisi itu dapat menunaikan kewajibannya dalam Gereja dan masyarakat. Dilain pihak manusia harus selalu  siap bila waktu sakit dan menderita sebab dengan demikian ia menggenapkan apa yang masih kurang dalam penderitaan Kristus demi keselmatan dunia[7]. 
Umat beriman menyadari bahwa penyakit seseorang kadang-kadang menghalangi mereka unutk menghayati peranan mereka dalam masyarakat atau Gereja. Namun, mungkinlah bagi mereka yang sakit untuk mengambil makna atau bagian dalam penderitaan dan penebusan Kristus, sebagai peringatan baig masing-masing orang akan keterbatasan kehidupan duniawi dan tujuan abadi manusia[8].

1.2.            Makna penderitaan bagi orang lain yang sedang tidak menderita
Berhadapan dengan orang yang mendekati ajal, sebagai orang sehat tentu belajar banyak. Kita disadarkan akan penderitaan yang akan kita terima nantinya. Peranan penderitaan bagi hidup manusia juga menumbuhkan iman yang kuat kepada Allah. Penyakit dan sengsara sejak dahulu kala termasuk pencobaan yang paling berat dalam kehidupan manusia. Di dalam penyakit manusia mengalami ketidakmampuan, keterbatasan dan kefanaan hidup. Setiap penyakit dapat mengingatkan kita akan kematian.
Di dalam Gereja, kesaksian orang beriman yang menderita sakit mengandung suatu ajaran konkret yaitu untuk memperingatkan orang lain bahwa manusia lemah bisa kuat dalam Kristus, bahwa hidup abadi lebih luhur dibandingkan hidup fana di dunia, dan bahwa sama seperti dalam hidup dan wafat Kristus, sengsara menjadi sarana untuk menghasilkan kemenangan. Berarti disini, mereka yang menderita menjadi teladan bagi umat beriman lain. Ketika mereka takut menghadapi penderitaan, mengajarkan bagi orang lain bahwa derita itu menyengsarakan. Sehingga memperingatkan mereka untuk mengarahkan hidup kepada Tuhan. Karena sebagai orang yang sehat masih memiliki kesempatan baik. Sedangkan bagi mereka yang sakit dan menerima dengan lapang dan tenang penderitaan mereka. Telah memberikan suatu contoh yang baik bagi orang lain, bahwa penyakit yang derita adalah bagian dari hidup dan hal tersebut ikut mengalami sengsara Yesus[9].   
Orang sakit dapat menjadi kutuk dan berkat bagi siapa saja yang berkontak dengan dia. Umumnya tergantung dari sikap pasien terhadap penderitaan. Beberapa orang mendekati penderitaan dengan tabah. Lainnya menghadapi penyakit dengan sikap rohani.  Pada waktu yang sama penyakit menantang mereka yang merawat si sakit. Para perawat, dokter, keluarga, sahabat, dan rohaniwan/ti ditantang untuk mendekati si sakit dengan segala upaya penyembuhan, membantu si sakit secara fisik, mental, emosional dan spiritual. Demikian juga penyakit yang jarang dan tak tersembuhkan menantang para peneliti untuk menemukan obatnya.
Penyakit dan rasa sakit dapat memberi banyak pelajaran bagi orang lain. Misalnya penyakit jantung, mengajarkan agar orang lain menyesuaikan gaya hidup yang selaras dengan keterbatasan fisik. Rasa sakit dan kematian dapat menjadi kesaksian positif mengenai kepercayaan dan keyakinan seeorang. Tak terbilang para kudus menerima penderitaan fisik dan kematian sebagai kesaksian atas iman mereka yang tak terbatas keapda Yesus, yang menderita dan mati bagi keselamatan manusia[10].

2.                  Sakramen Untuk Orang Sakit
Ketika sedang menderita penyakit dan seseorang hampir meninggal, menimbulkan kegelisahan dan kekhawatiran. Mental emosional seseorang yang sedang menderita tentu diantara menerima dan tidak menerima. Ada yang bergumul dengan tenang dan ada pula yang tidak sanggup menenangkan dirinya. Mereka yang sedang menderita parah seperti ini harus didampingi secara baik dan benar. Orang disekitarnya harus memberikan dukungan yang sesuai.
Maka dengan melihat kondisi seperti itu, orang beriman yang sedang menderita tentu menginginkan sesuatu yang dapat menenangkan dan menguatkan dia dalam menerima penderitaannya. Gereja merupakan solusi yang baik bagi umat beriman. Karena ada sakramen pengurapan orang sakit. Maka hendaklah dilihat dengan cermat tentang sakramen ini.

2.1.            Sakramen Pengurapan Orang Sakit
Pelayanan orang sakit mencapai puncaknya dalam liturgi atau perayaan Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Upacara pengurapan orang sakit dilengkapi dengan memberikan Komuni Suci kepada si sakit (komuni terakhir menjelang kematian disebut Viaticum atau bekal perjalanan)[11]. Ketika semua orang tidak sanggup lagi memberikan ketenangan dan rasa untuk menerima segala penderitaan oleh yang sakit maka hendaklah sakramen ini menjadi tujuan akhir dan puncak dari segala pencarian makna dari penderitaan. Sehingga ia dapat menerima segalanya.
Sakramen ini dimaksudkan untuk menyerahkan mereka yang sakit itu kepada Tuhan yang bersengsara dan telah dimuliakan di surga, supaya Ia menyembuhkan dan menyelamatkan mereka. Gereja mendorong mereka untuk secara  bebas menggabungkan diri dengan sengsara dan wafat Kristus dan dengan demikian memberi sumbangan bagi kesejahteraan umat Allah. Penerima sakramen ini adalah orang yang sakit berat, orang yang menghadapi operasi besar ataupun orang yang sudah lanjut usia sehingga kekuatannya melemah. Bila sesudah menerima sakramen ini ia sehat kembali, ia dapat menerima lagi sakramen ini apa bila sakit berat lagi[12].
Tujuan dari sakramen ini ialah untuk memberikan penghiburan kepada yang sakit dan membantu mereka mendamaikan diri dengan Allah dan Gereja. Dan juga untuk membantu orang agar memiliki keteguhan iman, sikap iman yang positif dan menolong dan penyembuhan fisik, mental dan rohani[13].
2.2.            Buah-buah Sakramen untuk orang sakit
Buah-buah Sakramen untuk orang sakit mempunyai empat rangkap. Rahmat pertama adalah anugerah khusus Roh Kudus yang memberikan kepada si penderita kekuatan, ketenangan, dan kebesaran hati untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan penyakit berat atau kelemahan karena usia lanjut. Rahmat kedua ialah orang sakit menerima kekuatan untuk mempersatukan diri lebih erat lagi dengan sengsara Yesus. Ia seakan-akan ditahbiskan untuk menghasilkan buah melalui keserupaan dengan sengsara Juru Selamat yang menbebus. Rahmat ketiga ialah bersifat kegerejaan, yaitu bahwa sebagaimana dalam sakramen ini Gereja mendoakan orang sakit di dalam persekutuan dengan para kudus, begitu pula melalui rahmat sakramen ini si sakit menyumbang demi pengudusan Gereja dan kesejahteraan semua orang yang untuknya Gereja menderita dan menyerahkan diri kepada Allah Bapa melalui Kristus. Rahmat keempat ialah menyiapkan orang sakit unutk perjalannnya yang akhir dan perpisahannya dari hidup ini. sakramen orang sakit mendefinitifkan keserupaan kita dengan kematian dan kebangkitan Kristus yang telah dimulai oleh Sakramen Baptis[14].


[1]               Delapan jalan kebenaran itu ialah pengertian yang benar tentang penderitaan, pikiran yang benar, bicara yang benar, bertindak atau berbuat yang benar, penghidupan yang benar, usaha yang benar, perhatian yang benar dan konsentrasi yang benar. (Traktat Filsafat India dari Pst. Barnabas Ohoiwutun, MSC, Hlm. 57 -58).
[2]               Makna penderitaan” oleh Romo Albertus Sujoko, bahan kuliah, Hlm. 2
[3]               Dr. Nico Sykur Dister, OFM, “Teologi Sistematika 2”, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), Hlm. 404.
[4]               Ibid, Hlm. 405.
[5]               Alfred Mcbride, O. Praem, “Pendalaman Iman Katolik, jilid 2” (Jakarta: Obor, 2005), Hlm. 34.
[6]               Makna penderitaan” oleh Romo Albertus Sujoko, bahan kuliah, Hlm. 3-5
[7]               A. Bakker SVD, “Ajaran Iman Katolik 2: untuk mahasiswa”, (Yogyakarta: Kanisius, 1988) hlm. 124 – 125.
[8]               Alfred Mcbride, O. Praem, “Pendalaman Iman Katolik, jilid 2” (Jakarta: Obor, 2005), Hlm. 36
[9]               A. Bakker SVD, “Ajaran Iman Katolik 2: untuk mahasiswa”, (Yogyakarta: Kanisius, 1988) hlm.125.
[10]             Alfred Mcbride, O. Praem, “Pendalaman Iman Katolik, jilid 2” (Jakarta: Obor, 2005), Hlm. 36-37
[11]             A. Bakker SVD, “Ajaran Iman Katolik 2: untuk mahasiswa”, (Yogyakarta: Kanisius, 1988) hlm. 126.
[12]             Dr. Nico Sykur Dister, OFM, “Teologi Sistematika 2”, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), Hlm. 406
[13]             Alfred Mcbride, O. Praem, “Pendalaman Iman Katolik, jilid 2” (Jakarta: Obor, 2005), Hlm. 34-35
[14]             Dr. Nico Sykur Dister, OFM, “Teologi Sistematika 2”, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), Hlm. 407-408

Tidak ada komentar:

Posting Komentar