Makna Penderitaan dan
Sakramen Orang Sakit
Pendahuluan
Manusia setiap saat pasti akan
bertemu dengan penderitaan. Entah karena sakit, tua, dan mungkin karena kemiskinan apalagi ketika
menanti ajal kematian. Manusia mau tidak harus menerimanya dengan berat hati.
Ataupun dengan tenang hati. Teologi Kristiani mengajarkan bahwa penderitaan
yang dihadapi manusia berarti merasakan juga apa yang diderita Yesus dalam
sengsara dan wafatnya. Oleh karena itu sadar atau tidak sadar, Gereja
mengajarkan umatnya untuk menerima dan mengambil makna dibalik penderitaan
tersebut. Kalau dibandingkan dengan ajaran Buddhisme yang mengajarkan bahwa
manusia dapat menghindari penderitaan bahkan melenyapkan penderitaan dengan
ajaran Buddha tentang delapan jalan kebenaran.[1]
Tentu pada paper ini tidak
membandingkan antara ajaran Buddha dan Gereja Katolik. Tetapi mau menekankan
dari aspek Gereja mengenai penderitaan. Kalau Buddha dengan memberikan ajaran
tentang jalan-jalan kebenaran. Lalu bagaimana dengan Gereja menghadapi
penderitaan dan sakit?
Untuk
itu paper ini akan dibahas tentang makna penderitaan dan Sakramen orang sakit.
Maka ada beberapa pokok yang hendak dituangkan pada paper ini. Pertama,
pengertian penderitaan itu sendiri. Ada apa dibalik penderitaan, mengapa
manusia merasakan derita. Pokok kedua berhubungan dengan orang sakit. Karena
derita lebih banyak berhubungan dengan orang sakit apalagi mereka yang tinggal
menanti ajalnya. Maka, apa makna dari Sakramen tersebut bagi mereka yang
menderita apalagi yang sedang menanti ajal ?
1.
Makna
Penderitaan
Dikatakan
bahwa setiap manusia akan mengalami penderitaan terslebih karena sakit. Derita
bisa berhubungan dengan fisik dan batin manusia. Ketika lemah tak berdaya
karena sakit parah maka itulah penderitaan. Karena luka dalam batin yang dalam
itu juga disebut dengan penderitaan. Dalam kutipan Pst. Joko pada uraian Jean
Vimort menerangkan “Menyadari bahwa dalam kematian sudah mendekat menyebabkan
shock yang sangat kentara dalam level sensibilatas dan afektivitas.
Kegelisahan, rasa sakit, sikpa protes dan keputusasaan saling campur aduk”[2].
Demikianlah gambaran bagaimana seseorang yang sedang menderita.
Dalam
Perjanjian Lama, manusia mengalami bahwa penyakit, atas cara penuh rahasia
berhubungan dengan dosa dan dengan yang jahat, dan bahwa kesetian kepada Allah
dan hukumNya mengembalikan hidup (Kel 15:26). Nabi Yesaya mengerti bahwa
sengsara juga dapat mempunyai arti penyilihan bagi orang-orang lain (Yes
53:11). Yesaya juga menubuatkan kedatangan suatu waktu di mana Allah akan
mengampuni setiap kesalahan dan menyembuhkan setiap penyakit (Yes 33:24).
Nubuat ini akan genap dalam Perjanjian Baru[3].
Dalam
Perjanjian Baru, kedatangan Yesus untuk mengasihani orang sakit dan
menyembuhkan segala penyakit sebagai tanda nyata bahwa Allah telah melawat
umatNya (Luk 7:16), dan bahwa Kerajaan Allah sudah di amabang pintu. Dengan
tidak hanya menyembuhkan penyakit tetapi juga mengampuni dosa (Mrk 2:5-12),
Yesus membebaskan manusia seutuhnya, jiwa dan badan. Walaupun Yesus malah
menjadikan sengsara para penderita sebagai sengsaraNya sendiri. Yesus pun
mengajak para muridNya supaya dengan mengikuti Dia dan memikul salib mereka
memperoleh pandangan baru tentang penyakit dan penderita sakit. Para murid
mengambil bagian dalam pelayanan belas kasihan dan keselamatan yang diberikan
Yesus itu[4].
Setelah
melihat dua penjelasan singkat dari Perjanjian Lama dan Perjanjian baru maka selanjutnya
dari pokok ini akan dilihat dua bagian yakni makna penderitaan bagi Si sakit
dan bagi orang lain yang tidak menderita saat itu.
1.1.
Makna
penderitaan bagi yang sedang menderita
Kerap
kali penyakit mendorong orang untuk mencari Allah dan kembali kepadanya.
Penyakit dapat menyebabkan rasa takut, sikap menutup diri, malahan
kadang-kadang rasa putus asa dan pemberontakkan terhadap Allah. Tetapi ia juga
dapat membuat manusia matang, dapat membuka matanya terhadap apa yang tidak
penting dalam kehidupannya, sehinga ia berpaling kepada hal-hal yang penting.
Seringkali penyakit membuat orang mencari Allah dan kembali lagi kepadaNya (Katekismus, 1500-1501)[5].
Selain
itu bagi orang yang sakit dan hampir meninggal, dia akan kembali memikirkan
eksistensinya selama hidup di dunia ini. Ia menimbang-nimbang hal yang
fundamental. Hal ini memiliki beberapa manfaat bagi mereka yang sakit: pertama, tumbuhnya keyakinan bahwa tidak
pernah terlambat untuk berubah (bertobat). Kedua,
yakin bahwa manusia punya arti yang besar bagi dirinya sendiri. Ketiga, menghidupi kembali
pilihan-pilihan fundamental. Keempat, percaya
pada kelanjutan sejarah manusia[6].
Selain
itu, bagi mereka yang menderita, kadang penderitaan yang dialami dihubungkan
dengan dosa yang telah dilakukan di masa lalu. Penderitaan memang ada sangkut
pautnya dengan dosa manusia, sekalipun tidak bisa dikatkan bahwa setiap orang
sakit menderita karena dosanya atau menderita setimpal dengan dosa-dosanya (bdk Yoh 9:3). Allah menghendaki agar
manusia berjuang dengan gigih melawan setiap penyakit dan memelihara kesehatan
sebaik-baiknya, agar dalam kondisi itu dapat menunaikan kewajibannya dalam
Gereja dan masyarakat. Dilain pihak manusia harus selalu siap bila waktu sakit dan menderita sebab
dengan demikian ia menggenapkan apa yang masih kurang dalam penderitaan Kristus
demi keselmatan dunia[7].
Umat
beriman menyadari bahwa penyakit seseorang kadang-kadang menghalangi mereka
unutk menghayati peranan mereka dalam masyarakat atau Gereja. Namun, mungkinlah
bagi mereka yang sakit untuk mengambil makna atau bagian dalam penderitaan dan
penebusan Kristus, sebagai peringatan baig masing-masing orang akan keterbatasan
kehidupan duniawi dan tujuan abadi manusia[8].
1.2.
Makna
penderitaan bagi orang lain yang sedang tidak menderita
Berhadapan
dengan orang yang mendekati ajal, sebagai orang sehat tentu belajar banyak.
Kita disadarkan akan penderitaan yang akan kita terima nantinya. Peranan
penderitaan bagi hidup manusia juga menumbuhkan iman yang kuat kepada Allah. Penyakit
dan sengsara sejak dahulu kala termasuk pencobaan yang paling berat dalam
kehidupan manusia. Di dalam penyakit manusia mengalami ketidakmampuan,
keterbatasan dan kefanaan hidup. Setiap penyakit dapat mengingatkan kita akan
kematian.
Di
dalam Gereja, kesaksian orang beriman yang menderita sakit mengandung suatu
ajaran konkret yaitu untuk memperingatkan orang lain bahwa manusia lemah bisa
kuat dalam Kristus, bahwa hidup abadi lebih luhur dibandingkan hidup fana di
dunia, dan bahwa sama seperti dalam hidup dan wafat Kristus, sengsara menjadi
sarana untuk menghasilkan kemenangan. Berarti disini, mereka yang menderita
menjadi teladan bagi umat beriman lain. Ketika mereka takut menghadapi
penderitaan, mengajarkan bagi orang lain bahwa derita itu menyengsarakan.
Sehingga memperingatkan mereka untuk mengarahkan hidup kepada Tuhan. Karena
sebagai orang yang sehat masih memiliki kesempatan baik. Sedangkan bagi mereka yang
sakit dan menerima dengan lapang dan tenang penderitaan mereka. Telah
memberikan suatu contoh yang baik bagi orang lain, bahwa penyakit yang derita
adalah bagian dari hidup dan hal tersebut ikut mengalami sengsara Yesus[9].
Orang
sakit dapat menjadi kutuk dan berkat bagi siapa saja yang berkontak dengan dia.
Umumnya tergantung dari sikap pasien terhadap penderitaan. Beberapa orang
mendekati penderitaan dengan tabah. Lainnya menghadapi penyakit dengan sikap
rohani. Pada waktu yang sama penyakit
menantang mereka yang merawat si sakit. Para perawat, dokter, keluarga,
sahabat, dan rohaniwan/ti ditantang untuk mendekati si sakit dengan segala
upaya penyembuhan, membantu si sakit secara fisik, mental, emosional dan
spiritual. Demikian juga penyakit yang jarang dan tak tersembuhkan menantang
para peneliti untuk menemukan obatnya.
Penyakit
dan rasa sakit dapat memberi banyak pelajaran bagi orang lain. Misalnya
penyakit jantung, mengajarkan agar orang lain menyesuaikan gaya hidup yang
selaras dengan keterbatasan fisik. Rasa sakit dan kematian dapat menjadi
kesaksian positif mengenai kepercayaan dan keyakinan seeorang. Tak terbilang
para kudus menerima penderitaan fisik dan kematian sebagai kesaksian atas iman
mereka yang tak terbatas keapda Yesus, yang menderita dan mati bagi keselamatan
manusia[10].
2.
Sakramen
Untuk Orang Sakit
Ketika
sedang menderita penyakit dan seseorang hampir meninggal, menimbulkan
kegelisahan dan kekhawatiran. Mental emosional seseorang yang sedang menderita
tentu diantara menerima dan tidak menerima. Ada yang bergumul dengan tenang dan
ada pula yang tidak sanggup menenangkan dirinya. Mereka yang sedang menderita
parah seperti ini harus didampingi secara baik dan benar. Orang disekitarnya
harus memberikan dukungan yang sesuai.
Maka
dengan melihat kondisi seperti itu, orang beriman yang sedang menderita tentu
menginginkan sesuatu yang dapat menenangkan dan menguatkan dia dalam menerima
penderitaannya. Gereja merupakan solusi yang baik bagi umat beriman. Karena ada
sakramen pengurapan orang sakit. Maka hendaklah dilihat dengan cermat tentang
sakramen ini.
2.1.
Sakramen
Pengurapan Orang Sakit
Pelayanan
orang sakit mencapai puncaknya dalam liturgi atau perayaan Sakramen Pengurapan
Orang Sakit. Upacara pengurapan orang sakit dilengkapi dengan memberikan Komuni
Suci kepada si sakit (komuni terakhir menjelang kematian disebut Viaticum atau bekal perjalanan)[11].
Ketika semua orang tidak sanggup lagi memberikan ketenangan dan rasa untuk
menerima segala penderitaan oleh yang sakit maka hendaklah sakramen ini menjadi
tujuan akhir dan puncak dari segala pencarian makna dari penderitaan. Sehingga
ia dapat menerima segalanya.
Sakramen
ini dimaksudkan untuk menyerahkan mereka yang sakit itu kepada Tuhan yang
bersengsara dan telah dimuliakan di surga, supaya Ia menyembuhkan dan
menyelamatkan mereka. Gereja mendorong mereka untuk secara bebas menggabungkan diri dengan sengsara dan
wafat Kristus dan dengan demikian memberi sumbangan bagi kesejahteraan umat
Allah. Penerima sakramen ini adalah orang yang sakit berat, orang yang
menghadapi operasi besar ataupun orang yang sudah lanjut usia sehingga
kekuatannya melemah. Bila sesudah menerima sakramen ini ia sehat kembali, ia
dapat menerima lagi sakramen ini apa bila sakit berat lagi[12].
Tujuan
dari sakramen ini ialah untuk memberikan penghiburan kepada yang sakit dan
membantu mereka mendamaikan diri dengan Allah dan Gereja. Dan juga untuk
membantu orang agar memiliki keteguhan iman, sikap iman yang positif dan menolong
dan penyembuhan fisik, mental dan rohani[13].
2.2.
Buah-buah
Sakramen untuk orang sakit
Buah-buah
Sakramen untuk orang sakit mempunyai empat rangkap. Rahmat pertama adalah
anugerah khusus Roh Kudus yang memberikan kepada si penderita kekuatan,
ketenangan, dan kebesaran hati untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang
berkaitan dengan penyakit berat atau kelemahan karena usia lanjut. Rahmat kedua
ialah orang sakit menerima kekuatan untuk mempersatukan diri lebih erat lagi
dengan sengsara Yesus. Ia seakan-akan ditahbiskan untuk menghasilkan buah
melalui keserupaan dengan sengsara Juru Selamat yang menbebus. Rahmat ketiga
ialah bersifat kegerejaan, yaitu bahwa sebagaimana dalam sakramen ini Gereja
mendoakan orang sakit di dalam persekutuan dengan para kudus, begitu pula
melalui rahmat sakramen ini si sakit menyumbang demi pengudusan Gereja dan
kesejahteraan semua orang yang untuknya Gereja menderita dan menyerahkan diri
kepada Allah Bapa melalui Kristus. Rahmat keempat ialah menyiapkan orang sakit
unutk perjalannnya yang akhir dan perpisahannya dari hidup ini. sakramen orang
sakit mendefinitifkan keserupaan kita dengan kematian dan kebangkitan Kristus
yang telah dimulai oleh Sakramen Baptis[14].
[1] Delapan jalan kebenaran itu ialah
pengertian yang benar tentang penderitaan, pikiran yang benar, bicara yang
benar, bertindak atau berbuat yang benar, penghidupan yang benar, usaha yang
benar, perhatian yang benar dan konsentrasi yang benar. (Traktat Filsafat India
dari Pst. Barnabas Ohoiwutun, MSC, Hlm. 57 -58).
[7] A. Bakker SVD, “Ajaran
Iman Katolik 2: untuk mahasiswa”, (Yogyakarta: Kanisius, 1988) hlm. 124 – 125.
[11] A. Bakker SVD, “Ajaran Iman
Katolik 2: untuk mahasiswa”, (Yogyakarta: Kanisius, 1988) hlm. 126.
[14] Dr. Nico Sykur Dister, OFM,
“Teologi Sistematika 2”, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), Hlm. 407-408
Tidak ada komentar:
Posting Komentar