M
O D E L G E R E J A
(Sebuah
Kajian Khusus Di Stasi St. Yosep Jamor – Jaya)
Pembahasan
pada paper ini mau menjawab suatu permasalahan dasar yakni apa model Gereja
yang menjadi cerminan sebuah stasi? Pertanyaan ini mau merumuskan tentang
pokok-pokok pembahasan yang nantinya akan menjadi jawaban dari pertanyaan
tersebut. Adapun pokok-pokok pembahasan yang nantinya akan diuraikan pada paper
ini yakni pertama tentang stasi yang menjadi objek refleksi atas penelitian,
kedua mengenai struktur organisasi yang ada pada stasi tersebut, ketiga
membahas tentang kegiatan – kegiatan Gereja macam apa yang biasa, dan terakhir
refleksi mengenai Gereja.
1.
Gereja
Sebagai Objek Penelitian
Pada bagian ini
akan dijelaskan mengenai objek
penelitian atau tempat Gereja yang diteliti. Gereja yang menjadi objek
pembelajaran yakni stasi St. Yoseph Jamor
– Jaya. Dalam pemilihan tempat di stasi Jamor – Jaya ingin meninjau model
Gereja dan akhirnya perkembangan apa yang telah dicapai selama 20 ini. Untuk
mengetahui lebih jauh mengenai stasi ini, akan dipaparkan dengan singkat
mengenai sejarah berdirinya Gereja Katolik di Stasi St. Yosep Jamor-Jaya.
1.1.
Sejarah
Gereja Katolik Jamor – Jaya
Gereja Katolik
yang sekarang berdiri megah di Desa Jamor – Jaya tidak lepas dari kedatangan
orang-orang Flores. Pada awalnya pada tahun 1987, pemerintahan pusat mengadakan
transmigrasi di daerah Flores untuk berpindah ke daerah Sulawesi Tengah. Maka
orang Flores pada tahun itu juga tiba di desa itu. Pada saat itu, desa ini
belum merupakan sebuah desa, karena keadaannya masih dipenuhi dengan hutan.
Namun saat itu pula telah ditanam pohon karet mengelilingi bakal kampung itu.
Pohon karet yang sampai sekarang menjadi matapencaharian utama masyarakat desa
Jamor-Jaya. Yang datang ke desa itu bukan hanya orang-orang tapi juga orang
Jawa.
Kedatangan Orang
Flores ini juga membawa suatu kepercayaan baru di desa tersebut. Suku Flores
ini segera membangun bangunan gereja disebuah perbukitan yang ada
ditengah-tengah kampung. Inilah yang menjadi awal mula agama Katolik berada di
desa Jamor – Jaya. Orang asli yang tinggal didesa tersebut adalah Suku Mori.
Mereka menerima baik kedatangan orang Flores. Demikian dengan pembangunan
gereja yang baru. Para tua-tua kampung tersebut mengatakan bahwa kedatangan
orang Flores membawa keragaman baru bagi mereka. Dengan memiliki pusat
kepercayaan pada Yesus Kristus membuka diri mereka menerima dengan tangan
terbuka.
1.2.
Keadaan
Umat
Umat Katolik
yang ada di stasi ini awalnya adalah orang Flores. Jumlahnya sekitar 350 KK.
Namun sekarang ini telah ada umat Katolik yang berasal dari suku-suku lain
misalnya Jawa dan Mori. Hal ini terjadi karena adanya pernikahan antara yang
Katolik dan agama lain. Sehingga yang Katolik menarik masuk pasangannya untuk
mengimani Kristus. Dan hal ini tidak menjadi paksaan dari satu pihak. Tetapi
memang didorong oleh kemauan masing-masing orang. Jumlah sekarang semakin
banyak karena banyak lagi orang Flores yang datang dari daerah asal dan bekerja
di sana. Dengan jumlah demikian dapat dipastikan bahwa stasi Jamor – Jaya memiliki
umat yang terbanyak dibandingkan dengan stasi-stasi lain di Paroki Beteleme.
2.
Organisasi
– Organisasi Stasi Jamor – Jaya
Stasi Jamor –
Jaya memiliki organisasi dari anak-anak hinga orang tua. Organisasi –
organisasi ini menjadikan Gereja di stasi ini makin berkembang. Oleh karena itu
akan dilihat satu persatu organisasi gerejani yang ada di stasi Jamor – Jaya.
2.1.
Anak
Sekolah Minggu
Anak sekolah
minggu merupakan sebuah organisasi gerejani yang beranggotakan anak-anak. Di
Keuskupan Manado dalam organisasi ini dikenal dengan nama SEKAMI. Namun nama
ini tidak dipakai oleh para Pembina anak-anak di stasi ini. Mereka menamakan
organisasi anak sekolah minggu sejak gereja pertama kali berdiri. Anak sekolah
minggu ini beranggotakan khusus anak-anak sekolah SD ( dari kelas satu hingga
kelas enam) yang pada dasarnya mengajarkan kepada mereka tentang lebih rajin
masuk gereja pada hari minggu. Selain itu, anak-anak ini diajarkan mengenai
doa-doa gerejani seperti Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria dan doa-doa yang
lain. Selain itu, mereka yang sudah cukup umur dipersiapkan untuk mengikuti
sambut baru (mulai dari kelas empat SD). Sehingga kelanjutan dari itu mereka
juga telah dilatih untuk menjadi pelayan dalam setiap perayaan liturgi
(Ekaristi maupun Ibadat Sabda). Para Pembina mereka merupakan guru agama yang
mengajar di Sekolah Dasar. Sehingga hal ini dapat dengan mudah mengontrol
anak-anak binaan. Dan dalam hal hidup menggereja, para Pembina sangat
menekankan mengenai keikutsertaan anak-anak ini. Mengikuti pertemuan rutin anak
sekolah minggu pada hari jumat. Dan setiap hari sabtu, mereka selalu ada di
gereja untuk bekerja bakti membersihkan gereja. Pembelajaran seperti ini sangat
baik bagi kehidupan anak-anak ini nantinya. Meskipun dalam kenyataannya masih
banyak anak-anak yang kurang didorong orang tua mereka dalam kegiatan gerejani.
Maka dari itu diperlukan juga kepercayaan orang tua bagi perkembangan anak
mereka lewat pembinaan gereja yang aktual dan penuh kebaikan.
2.2.
Organisasi
Remaja
Hal lain berbeda
dengan para remaja. Kalau kita mengetahui SEKAMI secara umum terdiri dari
pelajar SD hingga SMP kelas Satu. Hal ini pun tidak di pakai di stasi ini.
Mereka membedakan antara anak SD dan Anak Sekolah Menengah Pertama. Organisasi
remaja ini terdiri dari anak-anak SMP (dari kelas satu hingga kelas tiga).
Pembinaan mereka hampir sama dengan anak sekolah minggu. Namun dalam hal
kehidupan rohani mereka telah dilatih untuk hidup dalam doa bersama. Layaknya
Mudika, mereka juga telah dibiasakan untuk beribadat bersama pada hari minggu
setelah keluar gereja. Dalam hal ini mereka didampingi oleh orang tua atau
kakak yang membantu. Mereka dilatih untuk mandiri mengenal Tuhan lewat sesama
mereka. Pengenalan akan Allah ini lewat ibadat yang bergiliran tiap hari minggu.
Dan pula dari anggota mereka sendiri yang ditunjuk untuk memimpin ibadat
bersama itu. Mereka juga aktif dalam pelayanan altar atau menjadi PPA. Ketika
saat masih anak sekolah minggu mereka masih belajar untuk segala sesuatu, maka
ketika mereka remaja dituntut sesuatu yang lebih lagi untuk melayani Tuhan.
Pembina mereka pun berasal dari guru agama Katolik yang mengajar di SMP.
Sehingga dengan inipun mereka dapat dengan mudah dikontrol. Apalagi pikiran
anak remaja yang tinggal di desa Jamor – Jaya ini masih menganut paham takut
kepada yang lebih tua apalagi guru di sekolah. Sampai sekarang pun situasi
macam ini masih dapat dialami dan dilihat dari kehidupan para rermaja.
2.3.
Organisasi
Mudika
Organisasi ini
lebih bergengsi kalau dibandingkan dengan kedua organisasi sebelumnya. Karena
ketika seseorang ada dalam organisasi ini, ia telah dianggap dewasa dalam
pergaulan dan kepribadian. Kalau membicarakan mengenai kaum muda yang ada di
stasi Jamor – Jaya sangat beragam dengan segala cerita mereka. Organisasi ini
telah ada sejak lama dan sampai sekarang masih terus dijaga. Hanya saja
sekarang ini, organisasi ini tidak sebaik pada masa lalu. Maka baiklah kalau
dikupas juga mengenai kaum muda Katolik yang ada di stasi ini.
Kaum muda
Katolik terhitung dari mereka yang berada dibangku SMA hingga mereka yang belum
kawin. Jumlah mereka cukup banyak yakni 200 anak muda. Tapi sayang yang setia
dalam kegiatan kepemudaan hanya sekitar 20 atau 30 orang. Itu pun hanya terdiri
dari mereka yang SMA dan sedikit yang telah lulus SMA. Selain itu mereka yang
telah bekerja tidak mau mengambil bagian dalam kegiatan muda-mudi ini. Kalau
bisa dikatakan organisasi ini berjalan dengan tidak lacar. Ada beberapa faktor
yang menyebabkan keadaan seperti itu.
Pertama,
kaum
muda yang belum kawin atau telah bekerja lebih banyak dibandingkan dengan
mereka yang masih SMA atau telah lulus. Kedua,
mereka yang telah lulus telah mencari ilmu dengan kuliah diluar daerha
Sulawesi Tengah seperti di Manado dan Makasar. Ketiga, yang menyebebkan banyak kaum muda yang belum kawin kurang
percaya diri dalam mengikuti ibadat Mudika. Dimana ada yang mengatakan bahwa
mereka merasa tidak nyaman kalau anak-anak SMA yang memimpin ibadat. Mereka
beranggapan bahwa anak SMA seakan melewati mereka dan tidak menghormati mereka
dengan mengajarkan kembali kepada mereka yang lebih tua. Sehingga disini ada
pemisahan secara batin antara mereka yang masih SMA dan yang telah lama hidup
sebagai pemuda/i.
Dari
faktor-faktor itu hendaknya dibangun persekutuan yang lebih menyatu. Sehingga
menjaga keutuhan dari persatuan kaum muda. Menurut ketua Mudika, yakni Jhon
Kecho, anak-anak muda lebih tertarik pada sesuatu yang menyenangkan mereka.
Seperti kesenangan yang berasal dari material seperti uang dan kesengan batin
dalam hubugnan dengan pergaulan sehari-hari. Menurutnya kaum muda saat ini
telah terpengaruh dengan dunia yang majemuk. Dimana perkembangan dunia modern
masuk juga ke desa-desa terpencil. Selain itu kesibukan anak muda dalam mencari
uang juga menghalangi mereka dalam kegiatan gerejani yang lebih dalam. Mereka
lebih menyukai memegang uang dari hasil pekerjaan mereka. Itu memang baik,
namun mereka kurang menyeimbangkan dengan kehidupan rohani mereka. Selain itu
bagi kaum muda, kalau dibandingkan antara bola kaki dan gereja, mereka masih
lebih memilih bola kaki. Memang tidak salah, namun mereka meninggalkan segala
sesuatu yang berhubungan dengan gereja hanya karena akan bermain bola. Kegiatan
kepemudaan tidak berjalan ketika mereka lebih suka setiap sore mengikuti
pertandingan. Entahlah sampai kapan kesadaran mereka mengenai tanggung jawab
mereka sebagai masa depan gereja dapat mereka emban kembali.
2.4.
Koronka
(Kerahiman Ilahi)
Organisasi ini
terbuka bagi siapa saja. Tapi pada kenyataannya hanya dipenuhi oleh para ibu.
Hanya seorang bapak yang setia mengikuti doa-doa ini. Mengapa ini disebut
organisasi, karena komunitas ini sudah menjadi bagian dari Gereja di stasi
Jamor – Jaya. Lewat organisasi ini, Gereja Katolik dapat dikenal dimana-mana.
Konsekuensinya, para ibu tidak lagi aktif dalam organisasi resmi Gereja yakni
WKRI. Mereka lebih suka untuk turut terlibat dalam keanggotaan Koronka ini. Bisa
dikatakan disini bahwa tidak ada organisasi WKRI. Sungguh sayang padahal
organisasi ini semestinya ada disetiap wilayah Gereja Katolik.
Anggota ini
terdiri atas 50an ibu-ibu. Mereka selalu melakukan doa bersama setia hari
Jumat. Mereka menyesuaikan jam ibadat dengan jam Kerahiman pada jam 15.00 sore.
Hal ini mereka lakukan untuk merenungkan jam sengsara Tuhan Yesus yakni
kematianNya. Mereka melakukan ibadat secara bergiliran setiap minggu pada hari
Jumat. Kalau mau dilihat bahwa kelompok ini tetap hidup, bahkan mereka meras
lebih mendalam saat melakukan doa-doa Koronka.
2.5.
Kaum
Bapak Katolik
Kaum Bapak
Katolik pada awal mulanya menjadi sebuah organisasi. Namun sekarang ini tidak
lagi ada. Para bapak keluarga terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Alasannya,
mereka bekerja hinga sore hari dan tidak ada waktu untuk pertemuan. Selain itu
juga karena tidak adanya sikap yang saling mendukung satu dengan lain. Sikap
peka terhadap perkembangan kehidupan rohani Gereja juga menjadi kurang penting.
Hanya beberapa orang saja yang aktif. Namun lama-kelamaan organisasi ini tidak
berjalan dengna semestinya. Dengan demikian kesimpulannya bahwa kaum bapak di
stasi ini tidak berjalan atau bahkan tidak ada dalam sebuah organisasi yang
terstruktur.
3.
Kegiatan
– Kegiatan Gereja
Adanya
organisasi diatas tentu membawa juga konsekuensi pada kegiatan apa saja yang
dilakukan dalam lingkungan Gereja. Selain kegiatan ibadat rutin setiap minggu
dan perayaan Ekaristi yang diberikan dua minggu sekali sebagai pemenuhan hidupa
rohani umat, ada juga kegiatan yang secara lahiriah menunjukan arah hidup umat.
Selain untuk membangun Gereja dalam tubuh manusiawi tetapi juga membangun
Gereja dalam bentuk lahiriah yakni bangunan. Maka dari itu akan dilihat
mengenai kegiatan pembangunan gereja secara fisik.
3.1.
Pembangunan
Gereja Fisik
Sejak lama umat
mendambakan gereja yang memiliki bentuk yang baru. Meskipun sejak awal bangunan
gereja tersebut telah berbentuk permanen dan berdiri megah dan besar. Namun,
karena sudah hampir 25 tahun umat menggunakan bangunan itu, maka atas
rekomendasi dari Pst. Yakob sebagai pastor paroki bahwa akan dibangun gereja
baru umat menerimanya dengan antusias yang tinggi.
Ada beberapa
alasan selain memang keinginan dari pastor paroki, juga ada beberapa alasan
lain yang mendukung pembangunan gereja ini.
Pertama,
keadaan
umat yang semakin banyak. Mengenai keadaan umat telah dibahas pada awal tulisan
ini. Hal ini akan sangat sulit jika perayaan-perayaan besar seperti Natal dan
Paskah. Ketika hari raya banyak umat yang harus tinggal diluar gereja untuk
mengikuti perayaan ekaristi. Hal ini sangat tidak baik dalam penghayatan umat.
Umat tidak bisa seritus dan setia mengikuti perayaan sakramen, karena pasti
terganggu dengan suasana diluar gereja. Kedua,
bangunan fisik yang sudah lapuk. Karena ada sebagian dari bangunan gereja
tua ini terlbuat dari papan. Sehingga kalau hujan akan terlihat titik-titik
yang tidak indah di langit-langit gereja. Pada awalnya pembangunan yang akan
dibuat adalah aula gereja namun hal itu tidak jadi mengingat gereja yang telah
tua itu. Selain itu, bangunan aula akan menempati bangunan gereja tua ini,
kalau gereja yang baru telah jadi.
Dalam
pembangunan ini umat juga berpartisipasi aktif selain tenaga dan juga uang.
Setiap keluarga diminta kontribusi untuk pembangunan. Karena dilihat pada
umumnya umat yang ada di stasi ini adalah petani, maka tentu kontribusi tidaklah
berat dan disesuaikan dengan keadaan umat. Selain dari itu, pastor paroki
memegang tanggung jawab penuh dalam pembangunan gereja itu.
3.2.
Pelatihan
Pemimpin Ibadat Sabda
Pelatihan sebagai
pemimpin dalam Perayaan Sabda di lakukan hampir setiap tahun. Mereka yang
mengikuti pelatihan ini adalah para pemimpin ibadat sabda setiap minggu. Misalnya, Bpk. Kale yang telah mengikuti
pelatihan ini hampir setiap saat adanya pelatihan. Ia mengikuti pelatihan
tersebut di Desa Lota, Manado. Ia ingin mengajak para tunas muda untuk
mengikuti cara berliturgi sabda yang baik dan benar ini, namun tidak satupun
kaum muda yang mau. Meskipun demikian, menurut umat memang yang mesti mengikuti
pelatihan ini adalah mereka yang biasa berdiri di altar untuk memimpin ibadat
sabda pada hari Minggu.
Telah dikatakan
bahwa hampir setiap diadakan pelatihan (kursus) para pemimpin ibadat selalu
diikuti oleh utusan dari Jamor – Jaya. Program ini bukan diadakan sendiri oleh
dewan paroki atau stasi namun merupakan program dari Keuskupan Manado. Dimana
untuk mengajarkan kembali kepada para pemimpin awam tentang peribadatan yang
benar dan sesuai dengan tata cara yang sesungguhnya. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa meskipun stasi ini berada di daerah diaspora namun, dalam hal
berliturgi tidak kalah dengan yang berkembang saat ini di tempat-tempat yang
berkembang. Pelatihan terkahir yang diikuti oleh para utusan dari stasi Jamor – Jaya adalah pada tahun 2011.
3.3.
Paduan
Suara Stasi
Tentu kalau
berbicara mengenai paduan suara berhubungan dengan latihan-latihan rutin.
Kegiatan ini menjadi salah satu kegiatan yang selalu dilakukan pada saat akan
ada hari-hari raya besar Gereja. Latihan koor ini menjadi kegiatan rutin setiap
anggota yang termasuk dalam koor stasi.
Namun dari pada
itu, banyak hal pula yang harus diatasi dalam latihan-latihan koor. Misalnya
umat kebanyakan bekerja hingga sore hari menjadi hambatan dalam latihan-latihan
yang rutin. Selain itu, karena pekerjaan yang pada umumnya adalah petani
membuat koor ini tidak berkerja dengan maksimal. Tetapi hal positif yang harus
dilihat yakni keinginan umat, meskipun banyak waktu terkuras untuk bekerja
namun mereka menyempatkan diri untuk ikut dalam kegiatan ini.
3.4.
Perayaan
Natal dan Paskah
Telah menjadi
tradisi Gereja bahwa Natal dan Paskah adalah hari raya paling meriah. Kalau
dilihat secara umum semua Gereja merayakan kedua perayaan besar ini. Oleh
karena itu akan dilihat mengenai keanekaragaman Natal dan Paskah di stasi Jamor
– Jaya.
Bagi umat
Katolik di Jamor – Jaya, kedua perayaan ini harus dirayakan sama-sama
meriahnya. Jadi bukannya hanya hari Natal yang meriah, tetapi juga Paskah harus
dirayakan dengan meriah. Selain merayakan liturgi seperti pada umumnya, umat
stasi juga mengadakan pesta- pesta hampir disetiap rumah. Ada pula kelompok –
kelompok terterntu yang membuat pesta disatu keluarga dan mengundang banyak
orang untuk datang berpesta. Salah satu
kelompok masyarakat yakni kelompok “Wolosambi”[1].
Mereka selalu mengadakan pesta ketika ada perayaan Natal dan Paskah. Pesta ini
tentu lebih merujuk kepada ungkapan syukur kepada Tuhan lewat tarian-tarian
daerah seperti gawi[2]
dan dero[3].
Tarian daerah Flores ini biasanya dilakukan dengan meriah dan ada ungkapan
kebudayaan didalamnya. Selain kelompok ini ada juga kelompok lain yang
merayakan Natal dan Paskah dengan meriah.
Perayaan ini
dirayakan dalam nuansana budaya Flores. Karena pada umumnya umat yang terdiri
dari orang Flores. Suasana Natal dan Paskah merupaakn saat yang paling baik
selain pesta-pesta keluarga untuk mengingat kembali kampung halaman. Dengan
mendengar kisah-kisah dari daerah asal membuat suasana itu lebih bermakna dan orang
bukan hanya merayakan kembali kelahiran dan kebangkitan Yesus tetapi juga
mempererat tali persaudaraan antara suku dan umat yang satu kepercayaan.
4.
Refleksi
Model Gereja
Gereja merupakan
persekutuan umat beriman Kristen. Umat Allah yang berkarya mengemban misi Tuhan
Yesus yakni menyelamatkan umat manusia pada kehidupan yang kekal. Dengan melihat realitas seperti ini maka
dapat dijelaskan mengenai Gereja yang ada di stasi Jamor – Jaya.
Gereja
di stasi tersebut tentu tidak sama dengan Gereja yang berkembang di tengah
kota. Seperti Gereja lain yang berada di Keuskupan Manado. Dengan melihat latar
belakang tempat yang diaspora, memberikan kesan bahwa Gereja saat ini dalam
keadaan keterbelakangan. Namun tidaklah demikian, karena perkembangan dari
berita-berita keuskupan sampai ke daerah tersebut. Dengan melihat kondisi umat
yang tentu menjadi tulang punggung dari perkembangan Gereja harus lebih
mendalami hidup rohaninya.
Dari
pengalaman hidup sehari-hari bersama umat, kurangnya kepekaan dari dalam hati
membuat umat di stasi tersebut dapat dikatakan kurang nutrisi yang bergizi
dalam hal kerohanian. Umat dapat mengerjakan sesuatu kalau ada dorongan dari
pastor paroki. Kalau tidak ada perintah dari atasan maka umat tidak dapat
bergerak. Karena umat ini bukan umat yang sudah berpikir mandiri. Dapat
melaksanakan segala sesuatu kecuali ada hubungan dan perintah dari pimpinan
paroki. Target-target yang dipasang
bukanlah dari keinginan umat sendiri melainkan target yang di berikan
oleh pastor paroki. Dalam hal bekerja untuk perkembangan Gereja umat belum
mampu melakukannya sendiri. Kalaupun itu ada, hanya menjadi omongan satu
individu atau kelompok karena tentu tidak mungkin diterima atau dibicarakan oleh
umat yang lain.
Gereja
ini belum menjadi umat yang mandiri dapat dilihat dari struktur dan kegiatan
dari badan Gereja ini. Dalam kegiatan apapun, misalnya koor. Harus ada perintah
dari pastor paroki untuk mengadakan latihan. Kalau tidak ada maka koor tersebut
tidak akan berjalan. Meskipun ada umat yang berkeinginan membentuk sebuah koor
inti. Tapi tidaklah demikian dengan umat yang lain, yang memiliki pandangan dan
kepentingan pribadi mereka sendiri. Hal inipun juga dipengaruhi belum adanya
kesatuan umat dalam pembangunan hidup rohani dalam persekutuan yang sehat.
Masih sifat-sifat saling mencurigai. Umat yang saling mencurigai tentu tidak
dapat membangun kebersamaan. Selain itu juga ada juga umat yang saling
menjatuhkan. Kalau ada keinginan dari satu anggota umat untuk melakukan sesuatu
di terima dengan pemikiran yang negative. Maka dari itu diperlulah persekutuan
umat yang sesungguhnya sehinga model Gereja macam apa yang diinginkan umat
dapat tercapai dengan pasti.
Dengan
melihat realitas ini, dapat dikatakan bahwa Gereja saat ini masih dalam suatu
perziarahan. Gereja yang sedang berziarah ini mempersiapkan diri untuk menjadi
Gereja yang kudus. Model Gereja yang berziarah ini disesuaikan dengan situasi
dan kondisi umat saat ini. Gereja yang berziarah ini tentu masih mengalami
banyak kekurangan. Masih terdapat kesalahan disana-sini. Gereja yang sedang
membutuhkan pembenahan yang serius dalam tubuh. Pembenahan itu dapat bersifat
spiritual dan psikologi. Dimana dibutuhkan pengenalan dan penerimaan antara
satu dengan lain. Pengenalan akan batin yang satu dengan lain. Menerima
perbedaan pendapat dan pemikiran. Membuat satu tujuan bersama yang harus
dicapai selama berziarah nantinya. Maka, perlulah mengisi masa-masa perziarahan
tersebut dengan sikap-sikap yang membangun hidup rohani yang sejati. Sehingga
dalam peziarahannya Gereja ini selalu berada pada jalan menuju pada tujuan yang
sejati pula yakni Allah sendiri.
[1]
Kelompok Wolosambi merupakan sebuah kelompok yang
terdiri dari orang-oranng yang berasal dari Flores. Khususnya Ende yang juga
berasal dari kampung Wolosambi. Selain ada perayaan atau pesta yang dilakukan
saat pesta Natal dan Paskah, kelompok ini juga berfungsi sebagai kelompok
sosial. Dimana para anggota yang berasal dari asal yang sama (Asal yang
sama ini bisa dilihat dari bahasa yang
sama digunakan) mempunyai kewajiban untuk ikut terlibat dalam pengumpulan dana
masa depan. Dimana juga ada keluarga yang membutuhkan seperti saat sakit, atau
anak mereka akan sekolah mereka dapat meminjam dulu di kelompok ini. Selain itu
juga dilakukan arisan, untuk membantu setiap anggota kalau mau membangun atau
ada keperluan mendesak nantinya. Anggota ini kira-kira 30an KK.
[2]
Gawi merupakan tarian khas dari daerah Ende Lio. Lewat
tarian ini banyak hal yang diungkapkan
pada syairnya dalam bahasa daerah. Ungkapan biasanya mengungkapkan rasa
syukur kepada Tuhan, kritikan atas pemerintah yang tidak adil, adanya wabah penyakit
yang menyerang masyarakat dan pula kalau adanya bencana alam. Pada umunya
tarian ini mau mengungkapkan perjuangan moralitas di dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar