Ringkasan Buku
“KEPERCAYAAN, Kebatinan, Kerohanian,
Kejiwaan dan AGAMA”
Buku
yang diringkas pada tulisan ini adalah buku yang berjudul “KEPERCAYAAN,
Kebatinan, Kerohanian, Kejiwaan dan AGAMA” yang ditulis oleh Rahmat Subagya dan
diterbitkan oleh penerbit Yayasan Kanisius pada tahun 1976. Adapun hasil
ringkasan buku ini dapat dibagi menjadi tiga bagian yakni :
A.
Masalah dasar
yang ditelusuri penulis
Masalah
pokok yang ditelusuri penulis ialah tentang kepercayaan. Apakah kepercayaan itu
berarti kerohanian, kebatinan dan kejiwaan? Terlebih tentang kebatinan, apakah
kebatinan sesuai dengan ajaran agama? Dan apakah negara mengizinkan
perkembangan kebatinan?
B.
Alur argumentasi
pengarang
Bagian
pertama tentang “Masalah Kebatinan”. Masalah kebatinan ini terdiri dari lima
sub-bagian yakni pertama, perubahan zaman
membawa nilai baru. Pada tahun-tahun terakhir pembaharuan yang terjadi di
Indonesia. Hal tersebut juga membawa kesadaran baru dalam hidup agama.
Kebutuhan jasmani juga telah memunculkan kebutuhan rohani. Setiap lembaga entah
bersifat kebudayaan dan agama ditantang untu menawarkan nilai-nilai baru. Jelas
bahwa nilai asasi dari kehidupan beragama tidak luput dari tantangan zaman. Kedua, agama-agama baru dan aliran
kebatinan. Dewasa ini lahir agama-agama baru juga aliran baru yang berasal
dalam agama. Mereka timbul dalam jumlah yang agak besar. Peristiwa agama baru
ini disebut dengan “Kebatinan”. Di Indonesia pada tahun 1959 kongres kebatinan
dihadiri oleh 142 organisasi. Meskipun banyak yang dibubarkan namun sekarang
hampir disetiap kota ada ratusan aliran kebatinan. Dengan demikian aliran
kebatinan ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Ketiga, persoalan kebatinan yang serba ganda. Kebatinan di
Indonesia telah menarik sarjana-sarjanan sosiologi diluar maupun di dalam
negeri, dari ahli agama maupun dari pihak pemerintah. Namun hingga sekarang ini
belum ada penilaian yang sepakat. Persoalan memang tidak mudah. Keempat, sepuluh soal pokok. Kebatinan
merupakan masalah berganda yang hanya dapat difahami dengan pendekatan
menyeluruh. Kalau hanya satu bagian hanya menghasilkan gambaran palsu atau
tidak adil. Masalah ini menghadapkan kepada masyarakat sejumlah masalah yang
bertumpuk-tumpuk. Kelima, rencana
penyelidikan. Pertama, mengidentifikasi obyek penelitian. Kedua dan
seterusnya terdapat pada bagian-bagian yang akan dijelaskan setiap bagian.
Bagian
kedua tentang “Sifat-sifat kebatinan”. Pendekatan
ini berjalan dari luar ke dalam. Sifat-sifat atau ciri khas merupakan dalam
pandangan para penganut, nilai-nilai mengapa kebatinan diutamakan. Sifat
kebatinan merupakan gambaran terbalik dari kekurangan-kekurangan dalam hidup
masyarakat sebagaimana adanya. Kebatinan menuju integritas kembali dari nilai-nilai
asli yang terdesak oleh modernisme. Sifat
pertama dari kebatinan adalah sifat
“batin”. Batin berarti didalam manusia itu sendiri. Oleh sifat batin itu
manusia merasa diri lepas dari segala yang semu dan yang berganda. Ia menembus
dinding paancaindera untuk bersemayam pada asas terakhir yakni roh. Kebatinan
pada umumnya menunjukkan segala usaha dan gerakan untuk merealisasikan daya
batin manusia. Sifat kedua dalam
kebatinan yakni “rasa”. Tegasnya, pengalaman rohani bersifat
subyektif. Hidup tanpa emosi dianggap kosong, menjemukan dan sia-sia serta
tidak memberi dukungan untuk mengatasi kesulitan sehari-hari. Rasa dan akal
bila berfungsi khususnya diperhatikan didamaikan dalam kesatuan pribadi yang
utuh. Rasa harus dikontrol oleh akal. Namun kadang, rasa menjadi tempat
persembunyian akal. Bagaimanapun juga kata “rasa” punya banyak arti. Sifat ketiga yakni “keaslian”. Terhadap
gejala pengasingan timbullah hasrat untuk memperkembangkan kepribadian asli,
melawan Indonesiasisasi, maka kebatinan mengutamakan tradisi suku atau bahasa
daerah. Di daerha Jawa, 1 Suro dimeriahkan dengan menonjolkan sifat keaslian
dari kebatinan. Memutlakan keaslian tentu menyankal kesatuan uamt manusia.
Tetapi pemtlakan tadi timbul sebagai reaksi melawan perbedaan legitim dan corak
khas keluarga bangsa-bangsa. Kebatinan tampak sebagai rehabilitasi keaslian
dalam bidang agama terhadap paksaan asing. Sifat
keempat yakni “hubungan erat antar warga”. Mereka tidak bersatu karena
nama-namanya tertulis pada daftar anggota, melainkan karena merupkan satu
paguyuban. Hasrat akan persatuan menggejala dalam kebatinan. Sifat komunal,
sama rasa, sama rata, sama bahagia termasuk karunia desa. Masalah peralihan
sekarang sedang mengancam kesatuan asli itu. 1930 persentasi penduduk kota
hanya 7,5% naik menjadi 18,5% pada tahun 1971. Kebanyakan melalui emigrasi dari
dea ke kota. Selama belum ditemukan pola paguyuban social yang otentik, arus
kebatinan agaknya tidak akan terhenti. Faktor
akhlak social punya peranan dalam meluasnya kebatinan. Biarlah dunia
gila-gila, pikirnya, namun kami menjaga ketentraman batin kami. Prayudi
Atmosudirjo membedakan tiga tingkat dalam manusia yakni jasmani, rohani dan
batin. Sifat keenam yakni ghayb. Pada
penelitian aliran-aliran kebatinan hampir selalu ditemukan keperacayaan kepada tenaga
gaib, pengaruh nujum, magi, okultisme, ilmu alamat dan pertanda, sakti, azimat,
tuah dan kualat, mantera dan rapal serta penyembuhan ajaib, roh halus,
kesurupan jin dll. Sejauh ini sifat-sifat kebatinan yang menyolok didaftarkan
dengan hasil yang diharapkan dari suatu aliran. Pada taraf pertama gerekan itu
memperlihatkan kerakusan, usaha memperkaya diri dan menipu murid-murid.
Keinginan akan kehormatan yang mendorong beberapa dukun untuk naik kepanggun
kebatinan. Keenam sifat tersebut tidak selalu semuanya dimiliki dalam
proporsisi yang sama oleh setiap aliran. Bagian
terakhir yakni kebatinan sebagai gnostik. Gnosis berarti pengertian
istimewa, terutama mengenai soal asasi manusia: dari mana asalnya, kemana
perginya?. Terdapat gnosis ortodoks dan gnosis bid’ah. Arus gnosis memutlakan
secara berat sebelah satu segi iman saja dan mengabaikan segi lain. Gnosis
hampir selalu menentang ajaran resmi, lalu memisahkan diri dari lembaga agama
induk.
Bagian
ketiga tentang “Penggolongan aliran-aliran kebatinan”. Dua sub-bagian yakni pertama, beberapa penggolonan kabur.
Pertanyaan dasar pada bagian ini yakni apakah segala aliran masuk satu jenis
ataupun perlu menggolongkannya kedalam jenis-jenis tersendiri dan mengupasnya
satu per satu? Prof. Dr. Joyodiguno diikuti Prof. Rasyidi mengusulkan pembagian
yakni aliran okkultis, mistik, theosofis dan aliran ethis. Penggolongan serba
teoretis ini tidak berguna untuk praktek. Soemarno W.S bersama ahli-ahli riset lain
menggolongkan yakni golongan kepercayaan perorangan atau kelompok, golongan
perguruan atau kepercayaan, golongan pedukunan. Asas golongan ini diambil dari
segi pelembagaan, hasilnya tidak keliru namun tidak memberikan banyak tentang
isi kebatinan. Yusuf Abdullah Puar menekankan sifat sinkretisme, lalu
menggolongkan kebatinan dalam aliran yang bersifat kehindu-jawaan dan bersifat
keislam-islaman. Ramman Ramali dan Prof. Kamil Kartapraja. Mereka menta’rifkan
kebatinan sebagai segala keyakinan, ibadat, amal orang muslim yang menyimpang
dari atau bertentangan dengan ajaran Islam sunni. Kesamaan bahasa antara
kebatinan dan agama-agama resmi memang punya efek-efek negatif: kekacauan,
penghinaan, sinkretisme. Sinkretisme adalah tanggungan kebatinan sendiri. Kedua,
penggolongan aliran-aliran kebatinan oleh aliran-aliran itu sendiri. Pada
permulaan gerakan ini nama agama lazim dipakai. Meskipun begitu nisbah antara
agama dan kebatinan masih terus dipersoalkan. Namun kemudian aliran kebatinan
menamakan diri dengan kepercayaan. Dalam
pelbagai ta’rif yang dirumuskan mengenai kebatinan, dapat disarikn rumus-rumus
umum sebagai berikut: kebatinan (mengandaikan
adanya ruang hidup yang bersifat kekal dan terdapat kenyataan mutlak). Kejiwaan (mengajarkan semacam psychotehnik,
melalui mana jiwa abadi manusia menyadari diri sebagai Ada bebas-mutlak). Kerohanian (memperhatikan jalan, melalui
mana roh manusia sudah dalam zaman sekarang ini dapat menikmati kesatuan dengan
Roh mutlak, sumber dan asal roh insani). Ketiga jenis pandangan ini kurang lebih searah
dengan tiga macam mystisisme yang diperbedakan oleh F. Happold yakni
Naturemysticism, God-Mysticism dan soul mysticism.
Bagian
keempat tentang “Inti dan pola pemikiran kebatinan”. Sub-bagian pertama “Tiga taraf dalam gerakan kebatinan”. Tiga
unsur atau taraf dalam kebatinan yakni pengintegrasian, peralihan, dan
kekuasaan luar biasa. Taraf-taraf ini saling sambung menyambung yang memberi
ciri khas bagi masing-masing aliran kebatinan, entah aliran sederhana, aliran
sedang, atau aliran radikal. Kedua, taraf
integrasi. Pada hal kebatinan dilaksanakan secara khusus seperti jelsa dari
istilah-istilah yang dipakai. Kebatinan mengandalkan pada umumnya tiga bidang
dalam manusia. Seperti badan-jiwa-atman, jaba-jero-kadim dan lain-lain. Ketiga, taraf peralihan. Transformasi
manusia itu adalah ujung akhir dari usaha kebatinan. Dalam paham transformasi
ini ditemukan terutama tiga tipe yang dapat dibedakan yakni ethis, kosmis, dan
pantheistis. Tipe ethis maju selangkah saja terhadap pengintegrasian diri dari
taraf persiapan. Tipe kedua hasrat meleburkan diri kedalam daya kosmos
universal dan memberhentikan individualitasnya. Tipe ketiga mengungkapkan
konsep-konsepnya dalam bahasa theologis. Istilah-istilah itu dipinjamkan dari
paham agama. Titik tolak dari pemikiran ini yakni manusia menyadari diri
sebagai bagian yang harus menempatkan diri kedalam keseluruhan asli. Trance
berarti suatu transit atau peralihan dari diri semula kedalam keadaan lain.
Extase berarti berdiri diluar keadaan normal. Keempat, taraf partisipasi dalam tenaga gaib. Berkat latihan
kebatinan, tercapailah identifikasi dengan jiwa alam, cosmic mind, atau dengan
yang mereka sebut Yang Maha Kuasa, maka kejadian itu disusul oleh partisipasi
akan daya tenaga yang luar biasa. Ketua BKKI mengusulkan kepada DPR proyek
negara untuk menyelidiki daya-daya gaib di Indonesia yang akan menunjang
pembangunan. Hubungan kebatinan dan pembangunan telah menjadi pokok diskusi
selama 25 tahun. Dalam kebatinan, pembangunan tertimbunlah tiga lapisan
pemikiran yakni magik atau dinamisme, mental Ratu Adil, dan ilmu tentang rahasia-rahasia jiwa dan
latar belakang bawah sadar. Disana juga terdapat hubungan antara kebatinan dan
pembangunan. Karena sikap para penganut aliran-aliran bukanlah daya gaib
obyektif.
Bagian
kelima tentang “Kebatinan dan agama”. Sub-bagian pertama, hubungan antara
kebatinan dan agama termasuk masalah yang paling peka. Karena kedua-duanya
mengarah pada nilai mutlak. Sehingga menimbulkan ketegangan bahkan usaha
mengganyang sekalipun. Kedua, hasrat
kebatinan untuk mengganti agama. Zaman agama-agama lama sudah berlalu.
Agama dianggap sudah tidak mampu menjiwai manusia. Kebatinan dianggap
bersuperioritas di atas agama-agama. Bahkan agama-agama hendaknya masuk
kebatinan saja. Bila agama tidak menerimanya maka kebatinan melanjutkan
perjalanannya sendiri. Ketiga, hasrat
kebatinan untuk meningkatkan agama. Kebatinan seyogyanya masuk dalam agama
dan mengolah agama-agama dari dalam menurut pola kebatinan. Dapatkah ketuhanan
dihayati diluar agama? Pada umumnya jawabannya tidak mungkin. Sedang dalam
situasi istimewa bisa saja. Keempat, kopromis
dan sinkretisme. Kepercayaan kejiwaan Pangestu berfungsi sekaligus sebagai
pengukuh agama para agamawan serta sebagai agama bagi mereka yang belum
beragama. Kelima, perbedaan agama,
konfessi dan aliran/madzhab/ritus. Umumnya agama-agama mendasarkan
ajarannya pada wahyu yang dikitabkan atau pada suatu sintese antara wahyu yang
diimani dengan kebenaran yang dicapai oleh akal. Kebatinanpun membanggakan diri
telha menemukan kembali nilai-nilai kepribadian Indoneisa yang hampir hilang
dalam arus pengasingan. Keenam, bagaimana
agama-agama monotheis memandang kebatinan?. Islam dan agama Kristiani memandang
kebatinan mengenai pelbagai aspek secara identik saja. “Kebatinan adalah sumber
asas dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, untuk mencapai budi luhur, guna
kesempurnaan hidup”[1]. Agama-agama
monotheisme membenarkan bahwa di dalam jiwa manusia terdapat kerinduan atau
kecenderungan kepada Tuhan. Manusia berbakat religious. Perbedaan kedua antara
kebatinan dan agama-agama monotheisme ialah memahami alamat wahyu. Perbedaan
ketiga terdapat dalam konsepsi kepribadian manusia. Manusia digambarkan sebagai
emanasi dari Zat Abadi. Seperti jalan pikiran mencita-citakan manusia yang
impersonal, semikian mencandra Tuhan sebagai impersonal. Perbedaan besar antara
Samadhi kebatinan dan pengalaman iman menurut ajaran agama terletak dalam saham
manusia di dalamnya. Iman sendiri serta peningkatannya sampai kesadaran akan
hadirnya Tuhan itu melulu merupakan anugerah daripada Tuhan secara percuma.
Dalam kebatinan, semua itu amat berlainan. Manusia mengerjakan sendiri suatu
pengalaman yang disebut rohani. Perbedaan lainnya tentang transendensi Tuhan.
Kebatinan mulai menafsirkan suara-suara sebagai wahyu ilahi, padahal agama menganggap itu suatu kesalahan.
Pokoknya tidak dicari sabda Tuhan, melainkan suara angan-angan sendiri. Selain
itu, setiap aliran mempunyai kekhususan, misalnya peranan impinan dan
kepercayaan kepada bintang-bintang. Ketujuh,
hubungan Islam terhadap kebatinan. Jumhur ulama berijma bahwa iman muslim
utuh dan lengkap terdiri dari tiga unsur: pengucapan dengan lidah, pembenaran
dalam hati, dan pelaksanaan dengan anggota. Demikianlah disusun mazhab tasawwuf
yang merupakan pusaka berharga dalam tradisi Islam. Orang-orang yang tidak
dapat mengikuti para sufi dalam perjalanan jiwa mereka, terutamalah ahli hokum
dan para penguasa negara selalu menaruh syak wasangka terhadap kekhususan
ajaran tasawwuf[2]. Seorang yang mengaku
beragama Islam dengan mempelajari hukum saja tanpa kerohanian, maka fasiklah”[3].
Pendekatan negative ini hanya memperkuat kebatinan bahwa di dalam Islam tiada
tempat bagi kehidupan rohani. Kedelapan,
pandangn Katolik tentang kebatinan. Bersama dengan kebatinan modern,
Katolik menyadari bahwa sekarang menuntut keyakinan batin yang melebihi
legalisme dan formalisme. Selain itu, dalam Katolik termuatlah tiga unsur yakni
pengetahuan, tata-laku dan pengalaman. Sesuai dengan tiga tenaga dalam manusia
yakni akal, kehendak, dan rasa. Keselaran antara iman, pengalaman dan sikap
batin selalu diutamakan. Jadi, dalam struktur iman termuat unsur pengertian dan
unsur pengalaman dan memuncak pada kemauan efektif. Pengalaman transendental
pada diri aku tidak otomatis menjadi pengalaman religious. Dalam tingkat
transendental manusia menurut kemampuannya membatinkan segala-galanya kepada
diri sendiri. Dalam Kitab Suci manusia diidentifir sebagai citra-kesamaan
Tuhan. Moral atau etik kebatinan menuju kebudi luhur guna kesejahteraan buana.
Menurut kebatinan baik jahat manusia adalah terutama akibat dari baik-buruk
alam. Ajaran katolik tentang perkembangan rohani manusia bukan pembatinan
melainkan pemertobatan, bukan pemulangan melainkan transformasi kepada manusia
baru. Berhubungan dengan soal kebatinan katolik, masih ada satu soal yakni
kewargaan Katolik tidak mengasingkan orang Indonesia dari kepribadian aslinya. Dalam
konstitusi tentang Gereja, Konsili mendesak untuk mengaku, mensahkan serta
menyempurnakan adat-istiadat bangsa, mental dan faham agama mereka. Umat
katolik Indoneisa dapat belajar dari gerakan kebatinan aspirasi rohani manakah
yang menggerakkan jiwa bangsa.
Bagian
keenam tentang “Kronik kebatinan”. Kronik ini berisi peristiwa-peristiwa
penting yang berhubungan dengan gerakan kebatinan. Sehingga tampaklah maju mundur gerakan
tersebut, termasuk krisis dan laju kemajuannya.
C.
Jawaban singkat
Dalam
menelusuri tentang perkembangan kebatinan di Indonesia, penulis memberikan
kronik kebatinan di Indonesia. Meskipun dalam aturan GBHN yang berisi tentang
Ketuhanan Yang Maha Esa, namun menimbulkan dua kesalahan yakni keberhalaan
kepada dewa-dewa dan kedua negara tidak mengakui golongan-golongan se-keyakinan
dalam masyarakat. Pertikaian antar agama merendahkan pandangan terhadap agama
di dalam masyarakat. Sedang dialog antar agama menjamin kerukunan, peningkatan
mental pemangnan dan pengormatan kepada Tuhan. perkembangan bnaru dalam
kehidupan agama ini diharapkan mengarah keapda kemurnian agama, agar nilai
rhani menjiwai kesibukan duniawi dan tidak diganti olehnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar