Sabtu, 20 Februari 2016

Kepercayaan, Kebatinan, Kerohanian



Ringkasan Buku
“KEPERCAYAAN, Kebatinan, Kerohanian, Kejiwaan dan AGAMA”

            Buku yang diringkas pada tulisan ini adalah buku yang berjudul “KEPERCAYAAN, Kebatinan, Kerohanian, Kejiwaan dan AGAMA” yang ditulis oleh Rahmat Subagya dan diterbitkan oleh penerbit Yayasan Kanisius pada tahun 1976. Adapun hasil ringkasan buku ini dapat dibagi menjadi tiga bagian yakni :
A.                Masalah dasar yang ditelusuri penulis
Masalah pokok yang ditelusuri penulis ialah tentang kepercayaan. Apakah kepercayaan itu berarti kerohanian, kebatinan dan kejiwaan? Terlebih tentang kebatinan, apakah kebatinan sesuai dengan ajaran agama? Dan apakah negara mengizinkan perkembangan kebatinan?
B.                 Alur argumentasi pengarang
Bagian pertama tentang “Masalah Kebatinan”. Masalah kebatinan ini terdiri dari lima sub-bagian yakni pertama, perubahan zaman membawa nilai baru. Pada tahun-tahun terakhir pembaharuan yang terjadi di Indonesia. Hal tersebut juga membawa kesadaran baru dalam hidup agama. Kebutuhan jasmani juga telah memunculkan kebutuhan rohani. Setiap lembaga entah bersifat kebudayaan dan agama ditantang untu menawarkan nilai-nilai baru. Jelas bahwa nilai asasi dari kehidupan beragama tidak luput dari tantangan zaman. Kedua, agama-agama baru dan aliran kebatinan. Dewasa ini lahir agama-agama baru juga aliran baru yang berasal dalam agama. Mereka timbul dalam jumlah yang agak besar. Peristiwa agama baru ini disebut dengan “Kebatinan”. Di Indonesia pada tahun 1959 kongres kebatinan dihadiri oleh 142 organisasi. Meskipun banyak yang dibubarkan namun sekarang hampir disetiap kota ada ratusan aliran kebatinan. Dengan demikian aliran kebatinan ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Ketiga, persoalan kebatinan yang serba ganda. Kebatinan di Indonesia telah menarik sarjana-sarjanan sosiologi diluar maupun di dalam negeri, dari ahli agama maupun dari pihak pemerintah. Namun hingga sekarang ini belum ada penilaian yang sepakat. Persoalan memang tidak mudah. Keempat, sepuluh soal pokok. Kebatinan merupakan masalah berganda yang hanya dapat difahami dengan pendekatan menyeluruh. Kalau hanya satu bagian hanya menghasilkan gambaran palsu atau tidak adil. Masalah ini menghadapkan kepada masyarakat sejumlah masalah yang bertumpuk-tumpuk. Kelima, rencana penyelidikan. Pertama, mengidentifikasi obyek penelitian. Kedua dan seterusnya terdapat pada bagian-bagian yang akan dijelaskan setiap bagian.
Bagian kedua tentang “Sifat-sifat kebatinan”. Pendekatan ini berjalan dari luar ke dalam. Sifat-sifat atau ciri khas merupakan dalam pandangan para penganut, nilai-nilai mengapa kebatinan diutamakan. Sifat kebatinan merupakan gambaran terbalik dari kekurangan-kekurangan dalam hidup masyarakat sebagaimana adanya. Kebatinan menuju integritas kembali dari nilai-nilai asli yang terdesak oleh modernisme. Sifat pertama dari kebatinan adalah sifatbatin”. Batin berarti didalam manusia itu sendiri. Oleh sifat batin itu manusia merasa diri lepas dari segala yang semu dan yang berganda. Ia menembus dinding paancaindera untuk bersemayam pada asas terakhir yakni roh. Kebatinan pada umumnya menunjukkan segala usaha dan gerakan untuk merealisasikan daya batin manusia. Sifat kedua dalam kebatinan yakni “rasa”.   Tegasnya, pengalaman rohani bersifat subyektif. Hidup tanpa emosi dianggap kosong, menjemukan dan sia-sia serta tidak memberi dukungan untuk mengatasi kesulitan sehari-hari. Rasa dan akal bila berfungsi khususnya diperhatikan didamaikan dalam kesatuan pribadi yang utuh. Rasa harus dikontrol oleh akal. Namun kadang, rasa menjadi tempat persembunyian akal. Bagaimanapun juga kata “rasa” punya banyak arti. Sifat ketiga yakni “keaslian”. Terhadap gejala pengasingan timbullah hasrat untuk memperkembangkan kepribadian asli, melawan Indonesiasisasi, maka kebatinan mengutamakan tradisi suku atau bahasa daerah. Di daerha Jawa, 1 Suro dimeriahkan dengan menonjolkan sifat keaslian dari kebatinan. Memutlakan keaslian tentu menyankal kesatuan uamt manusia. Tetapi pemtlakan tadi timbul sebagai reaksi melawan perbedaan legitim dan corak khas keluarga bangsa-bangsa. Kebatinan tampak sebagai rehabilitasi keaslian dalam bidang agama terhadap paksaan asing. Sifat keempat yakni “hubungan erat antar warga”. Mereka tidak bersatu karena nama-namanya tertulis pada daftar anggota, melainkan karena merupkan satu paguyuban. Hasrat akan persatuan menggejala dalam kebatinan. Sifat komunal, sama rasa, sama rata, sama bahagia termasuk karunia desa. Masalah peralihan sekarang sedang mengancam kesatuan asli itu. 1930 persentasi penduduk kota hanya 7,5% naik menjadi 18,5% pada tahun 1971. Kebanyakan melalui emigrasi dari dea ke kota. Selama belum ditemukan pola paguyuban social yang otentik, arus kebatinan agaknya tidak akan terhenti. Faktor akhlak social punya peranan dalam meluasnya kebatinan. Biarlah dunia gila-gila, pikirnya, namun kami menjaga ketentraman batin kami. Prayudi Atmosudirjo membedakan tiga tingkat dalam manusia yakni jasmani, rohani dan batin. Sifat keenam yakni ghayb. Pada penelitian aliran-aliran kebatinan hampir selalu ditemukan keperacayaan kepada tenaga gaib, pengaruh nujum, magi, okultisme, ilmu alamat dan pertanda, sakti, azimat, tuah dan kualat, mantera dan rapal serta penyembuhan ajaib, roh halus, kesurupan jin dll. Sejauh ini sifat-sifat kebatinan yang menyolok didaftarkan dengan hasil yang diharapkan dari suatu aliran. Pada taraf pertama gerekan itu memperlihatkan kerakusan, usaha memperkaya diri dan menipu murid-murid. Keinginan akan kehormatan yang mendorong beberapa dukun untuk naik kepanggun kebatinan. Keenam sifat tersebut tidak selalu semuanya dimiliki dalam proporsisi yang sama oleh setiap aliran. Bagian terakhir yakni kebatinan sebagai gnostik. Gnosis berarti pengertian istimewa, terutama mengenai soal asasi manusia: dari mana asalnya, kemana perginya?. Terdapat gnosis ortodoks dan gnosis bid’ah. Arus gnosis memutlakan secara berat sebelah satu segi iman saja dan mengabaikan segi lain. Gnosis hampir selalu menentang ajaran resmi, lalu memisahkan diri dari lembaga agama induk.
Bagian ketiga tentang “Penggolongan aliran-aliran kebatinan”. Dua sub-bagian yakni pertama, beberapa penggolonan kabur. Pertanyaan dasar pada bagian ini yakni apakah segala aliran masuk satu jenis ataupun perlu menggolongkannya kedalam jenis-jenis tersendiri dan mengupasnya satu per satu? Prof. Dr. Joyodiguno diikuti Prof. Rasyidi mengusulkan pembagian yakni aliran okkultis, mistik, theosofis dan aliran ethis. Penggolongan serba teoretis ini tidak berguna untuk praktek. Soemarno W.S bersama ahli-ahli riset lain menggolongkan yakni golongan kepercayaan perorangan atau kelompok, golongan perguruan atau kepercayaan, golongan pedukunan. Asas golongan ini diambil dari segi pelembagaan, hasilnya tidak keliru namun tidak memberikan banyak tentang isi kebatinan. Yusuf Abdullah Puar menekankan sifat sinkretisme, lalu menggolongkan kebatinan dalam aliran yang bersifat kehindu-jawaan dan bersifat keislam-islaman. Ramman Ramali dan Prof. Kamil Kartapraja. Mereka menta’rifkan kebatinan sebagai segala keyakinan, ibadat, amal orang muslim yang menyimpang dari atau bertentangan dengan ajaran Islam sunni. Kesamaan bahasa antara kebatinan dan agama-agama resmi memang punya efek-efek negatif: kekacauan, penghinaan, sinkretisme. Sinkretisme adalah tanggungan kebatinan sendiri.  Kedua, penggolongan aliran-aliran kebatinan oleh aliran-aliran itu sendiri. Pada permulaan gerakan ini nama agama lazim dipakai. Meskipun begitu nisbah antara agama dan kebatinan masih terus dipersoalkan. Namun kemudian aliran kebatinan menamakan diri dengan kepercayaan. Dalam pelbagai ta’rif yang dirumuskan mengenai kebatinan, dapat disarikn rumus-rumus umum sebagai berikut: kebatinan (mengandaikan adanya ruang hidup yang bersifat kekal dan terdapat kenyataan mutlak). Kejiwaan (mengajarkan semacam psychotehnik, melalui mana jiwa abadi manusia menyadari diri sebagai Ada bebas-mutlak). Kerohanian (memperhatikan jalan, melalui mana roh manusia sudah dalam zaman sekarang ini dapat menikmati kesatuan dengan Roh mutlak, sumber dan asal roh insani).  Ketiga jenis pandangan ini kurang lebih searah dengan tiga macam mystisisme yang diperbedakan oleh F. Happold yakni Naturemysticism, God-Mysticism dan soul mysticism.
Bagian keempat tentang “Inti dan pola pemikiran kebatinan”. Sub-bagian pertama “Tiga taraf dalam gerakan kebatinan”. Tiga unsur atau taraf dalam kebatinan yakni pengintegrasian, peralihan, dan kekuasaan luar biasa. Taraf-taraf ini saling sambung menyambung yang memberi ciri khas bagi masing-masing aliran kebatinan, entah aliran sederhana, aliran sedang, atau aliran radikal. Kedua, taraf integrasi. Pada hal kebatinan dilaksanakan secara khusus seperti jelsa dari istilah-istilah yang dipakai. Kebatinan mengandalkan pada umumnya tiga bidang dalam manusia. Seperti badan-jiwa-atman, jaba-jero-kadim dan lain-lain. Ketiga, taraf peralihan. Transformasi manusia itu adalah ujung akhir dari usaha kebatinan. Dalam paham transformasi ini ditemukan terutama tiga tipe yang dapat dibedakan yakni ethis, kosmis, dan pantheistis. Tipe ethis maju selangkah saja terhadap pengintegrasian diri dari taraf persiapan. Tipe kedua hasrat meleburkan diri kedalam daya kosmos universal dan memberhentikan individualitasnya. Tipe ketiga mengungkapkan konsep-konsepnya dalam bahasa theologis. Istilah-istilah itu dipinjamkan dari paham agama. Titik tolak dari pemikiran ini yakni manusia menyadari diri sebagai bagian yang harus menempatkan diri kedalam keseluruhan asli. Trance berarti suatu transit atau peralihan dari diri semula kedalam keadaan lain. Extase berarti berdiri diluar keadaan normal. Keempat, taraf partisipasi dalam tenaga gaib. Berkat latihan kebatinan, tercapailah identifikasi dengan jiwa alam, cosmic mind, atau dengan yang mereka sebut Yang Maha Kuasa, maka kejadian itu disusul oleh partisipasi akan daya tenaga yang luar biasa. Ketua BKKI mengusulkan kepada DPR proyek negara untuk menyelidiki daya-daya gaib di Indonesia yang akan menunjang pembangunan. Hubungan kebatinan dan pembangunan telah menjadi pokok diskusi selama 25 tahun. Dalam kebatinan, pembangunan tertimbunlah tiga lapisan pemikiran yakni magik atau dinamisme, mental Ratu Adil,  dan ilmu tentang rahasia-rahasia jiwa dan latar belakang bawah sadar. Disana juga terdapat hubungan antara kebatinan dan pembangunan. Karena sikap para penganut aliran-aliran bukanlah daya gaib obyektif.
Bagian kelima tentang “Kebatinan dan agama”. Sub-bagian pertama, hubungan antara kebatinan dan agama termasuk masalah yang paling peka. Karena kedua-duanya mengarah pada nilai mutlak. Sehingga menimbulkan ketegangan bahkan usaha mengganyang sekalipun. Kedua, hasrat kebatinan untuk mengganti agama. Zaman agama-agama lama sudah berlalu. Agama dianggap sudah tidak mampu menjiwai manusia. Kebatinan dianggap bersuperioritas di atas agama-agama. Bahkan agama-agama hendaknya masuk kebatinan saja. Bila agama tidak menerimanya maka kebatinan melanjutkan perjalanannya sendiri. Ketiga, hasrat kebatinan untuk meningkatkan agama. Kebatinan seyogyanya masuk dalam agama dan mengolah agama-agama dari dalam menurut pola kebatinan. Dapatkah ketuhanan dihayati diluar agama? Pada umumnya jawabannya tidak mungkin. Sedang dalam situasi istimewa bisa saja. Keempat, kopromis dan sinkretisme. Kepercayaan kejiwaan Pangestu berfungsi sekaligus sebagai pengukuh agama para agamawan serta sebagai agama bagi mereka yang belum beragama. Kelima, perbedaan agama, konfessi dan aliran/madzhab/ritus. Umumnya agama-agama mendasarkan ajarannya pada wahyu yang dikitabkan atau pada suatu sintese antara wahyu yang diimani dengan kebenaran yang dicapai oleh akal. Kebatinanpun membanggakan diri telha menemukan kembali nilai-nilai kepribadian Indoneisa yang hampir hilang dalam arus pengasingan. Keenam, bagaimana agama-agama monotheis memandang kebatinan?. Islam dan agama Kristiani memandang kebatinan mengenai pelbagai aspek secara identik saja. “Kebatinan adalah sumber asas dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, untuk mencapai budi luhur, guna kesempurnaan hidup”[1].   Agama-agama monotheisme membenarkan bahwa di dalam jiwa manusia terdapat kerinduan atau kecenderungan kepada Tuhan. Manusia berbakat religious. Perbedaan kedua antara kebatinan dan agama-agama monotheisme ialah memahami alamat wahyu. Perbedaan ketiga terdapat dalam konsepsi kepribadian manusia. Manusia digambarkan sebagai emanasi dari Zat Abadi. Seperti jalan pikiran mencita-citakan manusia yang impersonal, semikian mencandra Tuhan sebagai impersonal. Perbedaan besar antara Samadhi kebatinan dan pengalaman iman menurut ajaran agama terletak dalam saham manusia di dalamnya. Iman sendiri serta peningkatannya sampai kesadaran akan hadirnya Tuhan itu melulu merupakan anugerah daripada Tuhan secara percuma. Dalam kebatinan, semua itu amat berlainan. Manusia mengerjakan sendiri suatu pengalaman yang disebut rohani. Perbedaan lainnya tentang transendensi Tuhan. Kebatinan mulai menafsirkan suara-suara sebagai wahyu ilahi,  padahal agama menganggap itu suatu kesalahan. Pokoknya tidak dicari sabda Tuhan, melainkan suara angan-angan sendiri. Selain itu, setiap aliran mempunyai kekhususan, misalnya peranan impinan dan kepercayaan kepada bintang-bintang. Ketujuh, hubungan Islam terhadap kebatinan. Jumhur ulama berijma bahwa iman muslim utuh dan lengkap terdiri dari tiga unsur: pengucapan dengan lidah, pembenaran dalam hati, dan pelaksanaan dengan anggota. Demikianlah disusun mazhab tasawwuf yang merupakan pusaka berharga dalam tradisi Islam. Orang-orang yang tidak dapat mengikuti para sufi dalam perjalanan jiwa mereka, terutamalah ahli hokum dan para penguasa negara selalu menaruh syak wasangka terhadap kekhususan ajaran tasawwuf[2]. Seorang yang mengaku beragama Islam dengan mempelajari hukum saja tanpa kerohanian, maka fasiklah”[3]. Pendekatan negative ini hanya memperkuat kebatinan bahwa di dalam Islam tiada tempat bagi kehidupan rohani. Kedelapan, pandangn Katolik tentang kebatinan. Bersama dengan kebatinan modern, Katolik menyadari bahwa sekarang menuntut keyakinan batin yang melebihi legalisme dan formalisme. Selain itu, dalam Katolik termuatlah tiga unsur yakni pengetahuan, tata-laku dan pengalaman. Sesuai dengan tiga tenaga dalam manusia yakni akal, kehendak, dan rasa. Keselaran antara iman, pengalaman dan sikap batin selalu diutamakan. Jadi, dalam struktur iman termuat unsur pengertian dan unsur pengalaman dan memuncak pada kemauan efektif. Pengalaman transendental pada diri aku tidak otomatis menjadi pengalaman religious. Dalam tingkat transendental manusia menurut kemampuannya membatinkan segala-galanya kepada diri sendiri. Dalam Kitab Suci manusia diidentifir sebagai citra-kesamaan Tuhan. Moral atau etik kebatinan menuju kebudi luhur guna kesejahteraan buana. Menurut kebatinan baik jahat manusia adalah terutama akibat dari baik-buruk alam. Ajaran katolik tentang perkembangan rohani manusia bukan pembatinan melainkan pemertobatan, bukan pemulangan melainkan transformasi kepada manusia baru. Berhubungan dengan soal kebatinan katolik, masih ada satu soal yakni kewargaan Katolik tidak mengasingkan orang Indonesia dari kepribadian aslinya. Dalam konstitusi tentang Gereja, Konsili mendesak untuk mengaku, mensahkan serta menyempurnakan adat-istiadat bangsa, mental dan faham agama mereka. Umat katolik Indoneisa dapat belajar dari gerakan kebatinan aspirasi rohani manakah yang menggerakkan jiwa bangsa.
Bagian keenam tentang “Kronik kebatinan”. Kronik ini berisi peristiwa-peristiwa penting yang berhubungan dengan gerakan kebatinan.   Sehingga tampaklah maju mundur gerakan tersebut, termasuk krisis dan laju kemajuannya.
C.                 Jawaban singkat
Dalam menelusuri tentang perkembangan kebatinan di Indonesia, penulis memberikan kronik kebatinan di Indonesia. Meskipun dalam aturan GBHN yang berisi tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, namun menimbulkan dua kesalahan yakni keberhalaan kepada dewa-dewa dan kedua negara tidak mengakui golongan-golongan se-keyakinan dalam masyarakat. Pertikaian antar agama merendahkan pandangan terhadap agama di dalam masyarakat. Sedang dialog antar agama menjamin kerukunan, peningkatan mental pemangnan dan pengormatan kepada Tuhan. perkembangan bnaru dalam kehidupan agama ini diharapkan mengarah keapda kemurnian agama, agar nilai rhani menjiwai kesibukan duniawi dan tidak diganti olehnya.


[1]               Definisi dari Kongres Kebatinan ke II (1956)
[2]               Dr. A. Mukti Ali mengatakan “Apakah sebabnya orang melakukan kebatinan? Hal ini disebabkan karena para Da’i dan Muballigh kurang memperhatikan soal kehidupan batin”.
[3]               H. Kassim Mansur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar