Sabtu, 20 Februari 2016

Gereja Sidang Jemaat Allah



Penelitian Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA)
Pendahuluan
Tulisan ini merupakan hasil penelitian pada salah satu gereja di Manado yakni Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA). Pada paper ini akan dibahas dua pokok besar yakni pertama gambaran umum tentang Gereja Sidang Jemaat Allah. Pada bagian pertama ada beberapa bagian yang hendak diterangkan. Pertama, mengenai profil jemaat pada skala umum, seperti jumlah GSJA yang tersebar di Indonesia maupun di luar negeri, jumlah anggota jemaat secara keseluruhan, dan dimana saja jemaat ini tersebar khususnya di Indonesia. Kedua tentang struktur kepemimpinan utama jemaat. Dan ketiga tentang sejarah masuknya GSJA di Sulawesi Utara (Minahasa). Sedangkan besar kedua yakni mendeskripsikan salah satu jemaat khusus.
I.                   Deskripsi Umum Gereja Sidang Jemaat Allah
1.                  Apa itu Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) ?
Gereja Sidang Jemaat Allah adalah salah satu denominasi Gereja yang merupakan pecahan dari Gereja Pantekosta. GSJA sekarang ini memiliki sinode gereja yang mandiri. Karena itu di Indonesia GSJA telah bernaung di bawah Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).
Meskipun GSJA terlepas dari satu tubuh dengan Gereja Pantekosta, bukan berarti gereja ini memiliki umat yang sedikit. Tetapi lewat data-data yang diperoleh, GSJA merupakan denominasi Gereja Pantekosta yang memiliki jemaat terbanyak dibandingkan dengan pecahan Pantekosta lainnya (mengenai data jemaat ada pada bagian ketiga). Untuk lebih mengenal tentang GSJA maka hendaknya dilihat mengenai sejarah lahirnya GSJA pada bagian selanjutnya. 
2.                  Sejarah Gereja Sidang Jemaat Allah
GSJA didirikan pada tahun 1914 di Hot Springs, Arkansas, Amerika Serikat. Wakil dari 20 negara bagian dan beberapa dari negara asing berkumpul untuk membentuk sebuah persekutuan Pentakostal. Tujuan dari persekutuan ini adalah melindungi dan melestariakn hasil-hasil dari kebangunan yang terjadi atas ribuan orang yang percaya mengalami pembaptisan Roh Kudus di Azusa Street, Los Angeles, California.
Keberadaannya di Indonesia disebabkan olehnya hadirnya 3 keluarga Misionaris Amerika yang menjadi pioneer pelayanan GSJA di Indonesia yakni keluarga Kenneth dan Gladys Short, keluarga Ralph Mitchell dan Edna Lucy Devin serta keluarga Raymond dan Beryl Busby. Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah belum memiliki sebuah pelayanan resmi di Indonesia hingga tahun 1946, ketika Kenneth Goerge Short, Raymond Arthur Busby dan Ralph Mitchell Devin kembali ke Indonesia sebagai misionaris yang diutus oleh Division of Foreign Mission of the American General Council of the Assemblies of God.
Tahun 1934 Ralph Mitchell Devin bertobat setelah mendengar khotbah C.M. Ward di Bethel Temple, Seattle. Empat tahun kemudian, ia memutuskan untuk menjual bisnis furniture-nya di kota Seattle dan pergi ke Hindia Belanda sebagai misionaris swadana. Keluarga Devin melakukan pelayanan mereka di daerah Maluku. Segera sesudah tiba di Maluku, keluarga Devin mendirikan semacam kantor pusat kegiatan penginjilan di Ambon. Pada awalnya mereka bekerjasama dengan Job Silloy, seorang gembala dari De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie, namun hanya bertahan enam bulan lamanya karena ada perbedaan doktrin. Setelah berpisah dari Job Silloy, Ralph Devin memutuskan untuk mendirikan Bethel Indies Mission pada bulan September 1938. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 24 April 1940, organisasi ini mendapat pengakuan dari pemerintah Hindia Belanda. Devin menjadi Ketua dan Raymond Busby menjadi Wakil Ketua. Tahun 1939, keluarga Devin mengundang John Sung, seorang penginjil Karismatik dari daratan Tiongkok untuk datang memberitakan Injil dalam KKR di Ambon. Banyak orang bertobat dan mereka menjadi cikal bakal jemaat awal GSJA di Maluku. Saat pecahnya Perang Pasifik, aktivitas penginjilan keluarga Devin terpaksa dihentikan dan pada bulan Januari 1942 Devin membawa keluarganya keluar dari Hindia Belanda untuk kembali ke Amerika Serikat.
Kenneth Short mula-mula terpanggil untuk melayani di Borneo (Kalimatan). Pada tahun 1936 ia tiba di Banjarmasin, salah satu kota besar di pulau tersebut. Ia memberitakan Injil di sebuah kawasan di tepi Sungai Kahayan yang dikenal dengan nama Pulau Pisang. Di sinilah ia mendapatkan buah sulung pelayanannya ketika terjadi mujizat Tuhan yang menyembuhkan seorang yang buta. Kakak dari orang buta yang disembuhkan tersebut, bernama Saridjan, merupakan penduduk asli daerah Sungai Kahayan pertama yang percaya kepada Kristus. Berikutnya adalah keluarganya dan beberapa orang lainnya. Ketika pecah PD II, demi alasan keamanan, Kenneth Short membawa keluarganya kembali ke Amerika Serikat.
Sedangkan untuk sejarah masuknya GSJA di Minahasa kurang memiliki sumber-sumber yang memadai. Dari wawancara yang dilakukan dengan seorang staf di gereja Assembling of God Wanea, dikatakan bahwa para pendeta dari jawa yang datang dan mendirikan gereja tersebut di Minahasa. Namun, demikian GSJA yang ada di Minahasa khusunya di Wanea tersebut merupakan salah satu GSJA yang tertua yang berdiri di Minahasa. Sekarang ini ada beberapa gereja yang masih dipegang oleh orang-orang yang berasal dari luar Minahasa karena memang mereka yang membawanya. Sedangkan di Wanea, telah memiliki pendeta yang berasal dari Minahasa sendiri yakni Supit.
3.                  Pengakuan Iman  (Pokok Ajaran)
Pada saat wawancara dengan staf di Gereja Sidang Jemaat Allah Tanjung Batu Wanea-Samrat, ibu Novi tidak berpikir macam-macam. Malahan bagi dia hal tersebut adalah sesuatu yang sangat baik. Karena menurut dia, hendaknya Gereja bukan anggota mereka juga harus tahu mengenai Gereja mereka. Sebab, mereka bukan Gereja yang sesat, yang mengajarkan jalan yang sesat bagi jemaatnya. Oleh karena itu dia berkata bahwa GSJA berpegan teguh pada ajaran Kitab Suci. Sehingga dasar bagi kehidupan jemaat adalah Firman Allah.
Maka dari itu, dapat diberikan beberapa unsur yang terkandung dalam ajaran atau pengakuan iman mereka. GSJA yang mendasarkan segala ajaran pada Kitab Suci. Beberapa unsur tersebut ialah:
a.       Alkitab adalah firman Allah yang diilhamkan dan tanpa salah; satu-satunya kaidah yang mutlak dan berwenang bagi ian dan perilaku manusia.
b.      Allah adalah Esa, hadir secara kekal dalam tiga oknum: Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Ro Kudus.
c.       Tuhan Yesus Kristus: Ilahi adanya, lahir dari seorang anak dara, hidup tanpa dosa, melakukan mujizat, menebus manusia yang berdosa melalui kematianNya, bangkit secara badani, bangkit ke Sorga dan dimuliakan di sebelah kanan Allah Bapa, akan datang kembali ke bumi dalam kuasa dan kemuliaan untuk memerintah dalam Kerajaan Seribu Tahun.
d.      Oleh pelanggaran satu orang (Adam) dosa telah masuk ke dalam dunia, dan maut oleh sebab dosa; demikianlah maut telah menimpa semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
e.       Keampunan dan penyucian dari dosa hanyalah melalui pertobatan dan iman kepada kuasa penyucian darah Yesus
f.       Pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus mutlak perlu bagi keselamatan seseorang.
g.      Karya penebusan Kristus di atas kayu salib menyediakan kesembuhan bagi tubuh manusia melalui doa dan iman.
h.      Pengudusan dikerjakan oleh Roh Kudus yang mendiami orang percaya
i.        Baptisan Roh Kudus menurut Kisah Para Rasul 2:4 dikaruniakan kepada orang beriman yang memohon kepada Allah.
j.        Pengangkatan Gereja pada waktu kedatangan Kristus di awan-awan merupakan pengharapan yang bahagia bagi orang-orang percaya
k.      Kebangkitan tubuh bagi orang-orang percaya maupun yang tidak percaya; yang pertama akan menerima hidup yang kekal dan yang kedua untuk menerima hukuman.
4.                  Jumlah Jemaat (Gereja)
Bagian pertama ini akan dijelaskan mengenai jumlah jemaat secara umum. Jumlah jemaat secara umum ini bukan hanya di Sulawesi Utara tapi seluruh Indonesia bahkan dari luar negeri dimana jemaat GSJA itu berdiri. Atau kalau lebih dimengerti tentang jumlah bangunan gereja yang tersebar di seluruh dunia.
Gereja Sidang Jemaat Allah adalah bagian dari Persekutuan Assemblies of God in the World (WAGF) yang adalah denominasi Pentakosta terbesar di dunia. Untuk jumlah jemaat keseluruhan dapat dilihat pada tabel I di bawah ini.
Tabel I. Data Jumlah Jemaat GSJA di Dunia Tahun 2011
Jumlah
Negara
Gereja
Jemaat
Para pelayanan Injil
140 Negara
320.000 gereja
65 Juta jemaat
344.092 orang

Data ini merupakan hasil yang dihasilkan pada bulan Februari 2011. Dalam pertemuan Persekutuan Gereja Sidang Jemaat Allah di dunia yang dilaksanakan di Chennai, India. 140 negara itu tersebar di Afrika, Asia Pasifik, Eurasia, Eropa, Amerika, Amerika Latin, Karibia dan Asia bagian Utara.
Dari Amerika sendiri jemaat ssekitar 2,2 juta anggota jemaat. Sedangkan di Indonesia terdapat beberapa provinsi atau kabupaten dimana GSJA ini berada. Di Indonesia misalnya tersebar di. Sedangkan di Sulut tersebar di /.....
Sedangkan di Indonesia, data mengenai jumlah jemaat GSJA dapat dilihat pada Tabel II.
Provinsi
Jumlah Gereja
Jumlah Jemaat
Jumlah Pelayan Injil





Sedangkan di Sulut, jemaat GSJA tersebar di beberapa daerah seperti yang tertera pada Tabel III, dibawah ini

5.                  Struktur Kepemimpinan utama Jemaat
Gereja Sidang Jemaat Allah tidak sama dengan Katolik yang berada dibawah naungan bapak Paus. Layaknya Gereja Kristen lain, GSJA memiliki pemimpin-pemimpin di tiap wilayah negara atau provinsi maupun kabupaten atau kota. Kepemimpinan utama dipegang oleh salah satu Pendeta yang berdomisili di salah satu wilaya tersebut. Misalnya di Sulut, kepemimpinan utama GSJA sendiri. Sehingga dari para pemimpin utama ditiap wilayah inilah yang menjadi pengubung dengan para pemimpin utama lainnya yang berada di wilayah lain.
Lebih lanjut diterangkan bahwa GSJA di Indonesia mengambil gabungan antara bentuk Sinodal atau Presbyterian dan bentuk Kongregasional. Pada bentuk Sinodal ada beberapa ciri-ciri yakni :
1.      Terjadi pengangkatan seorang pendeta oleh sebuah otoritas organisasi di atasnya.
2.      Organisasi dapat memindahkan dan memberhentikan pendeta melalui jalu BPP – BPD
3.      Adanya gereja berstatus Madya dan Pratama yang berada dibawah otoritas Badan Pengurus Daerah
Sedangkan pada bentuk Kongregasional, ada beberapa ciri-ciri yakni :
1.      Adanya gereja lokal berstatus pembina yag memiliki otoritas yang kuat di mana gereja lokal menyokong dan memilih pendetanya dan menjalankan pemerintahannya sendiri berdasarkan Peraturan Rumah Tangga mereka
2.      Adanya Majelis Gereja yang menjadi otoritas dalam Gereja

Struktur kepemimpinan utama yang di teliti disini adalah kepemimpinan utama yang ada di Sulawesi Utara. Dalam rapat daerah Sulut I tanggal yang dilaksanakan antara tanggal 25-27 Februari 2013 telah terpilih Badan Pengurus Daerah (BPD) untuk periode 2013-2016 dengan komposisi sebagai berikut:
Ketua                          : Pdt. J. A. Supit
Wk. Ketua                   : Pdt. M. Wololi
Sekretaris                    : Pdt. L. Kumayas
Bendahara                   : Pdt. Ruth Kaeng
Komisaris                    : Pdt. J. Timbuleng
           
            Di Indonesia, dalam sistem kelembagaan gereja, GSJA memiliki satu badan khusus yang menangani karya pewartaan injil. Itulah Departemen. Tujuannya ialah memberitakan Injil dan mendirikan Sidang Jemaat Allah berdasarkan Alkitab. Kalau ditinjau lebih jauh, adanya departemen ini untuk mengatasi masa depan dan perkembangan yang harus dicapai. Maka dari itu, dalam wilayah ini, GSJA memiliki departemenk misi. Dimana, departemen misi ini memiliki jangkauan kedepan yang strategis bagaimana menciptakan satu jemaat pada tahun-tahun kedepan.
            Departemen misi tertuang dalam Sasaran Nasional (Sarnas). Dimana ada beberapa pokok yang harus dikembangkan. Sasaran nasional tahun 2011 – 2016 ialah 80 gereja kota, 500 gereja non kota dan 5000 K.K.A. Adapun tahapan kerjanya ialah :


2012
2013
2014
2015
2016
?
Gereja Kota
10
15
20
25
10
?
Gereja Non-Kota (Unreached People)
100
(3)
100
(3)
100
(3)
100
(3)
100
(3)
?
K.K.A.
1000
1000
1000
1000
1000

            Sasaran nasional ini terbagi dalam tiga bagian karya misi yakni Departemen Msi Indonesia Timur (DMIT), Misi Indonesia Tengah (DMITA), dan Misi Indonesia Barat (DMITB). Maka dari itu akan dilihat satu-persatu dari misi-misi tersebut.
a.       DMIT
Tujuan dari Misi Indonesia Timur ini ialah untuk mencapai sasaran nasional. Bekerja sama dengan Gereja mentor dan difasilitasi BPD. Untuk membuka 2 gereja perkotaan, 30 gereja non-perkotaan, 300 KKA dan 1 unreached people. DMIT fokus sebagai motivator, fasilitator, equipper dan capacity builder.
Adapun rencana perintisan untuk Gereja non-perkotaan ialah di Maluku 7 buah, NTT 10 buah, Bali dan NTB 3 buah, Papua 5 buah dan Papua barat 5 buah.
Untuk mencapai misi tersebut, ada langkah-langkah yang dilaksanakan yakni :
1.      Membangun hubungan dengan Gembala-gembala dari gereja-gereja potensial, melalui:
·         Surat penggembalaan BPP
·         Event Hari Misi Januari 2013
·         Presentasi di Event Rakerda di 5 BPD yang ada
·         Melakukan berbagai pendekatan pribadi
·         Daftar lengkao kota/lokal? Dimana gereja kota dan non-kota dibuka
·         Perintis dan program magang di persiapkan
·         Kelanjutan dari Mentoring gereja-gereja baru tersebut
·         Ditemukan sumber-sumber pendanaan.
2.      Membagi fokus kerja Staf DMIT
Sedangkan untuk pembagian target mengembangkan 300 KKA, langkah-langkah strategisnya ialah:
·         Mengutus 3 Kabid KKA dari tiga wilayah bersama stafnya untuk mengikuti paket Training KKA
·         Merumuskan model yang akan di sosialisasikan
·         Mengadakan training KKA ke setiap daerah.
Demikianlah, misi yang akan menjadi sasaran yang harus mereka penuhi. Dapat dikatakan bahwa mereka juga memiliki para misioner di jaman sekarang ini. Sehingga mereka terus berkembang dan maju seperti gereja-gereja lainnya.
b.      DMITA
Misi ini berlaku untuk wilayah yang berada di Indonesia Tengah. Ada 10 area kerja yang menjadi objek misi penyebaran dan perluasan gereja. Daerah-daerah itu ialah Jatim 1, Jatim 2, Kalbar, Kalteng 1, Kalteng 2 dan Kalsel, Kaltim, Sulselbatra, Sulteng, Sulut 1 dan Sulut 2.
Adapun perintisan Gereja Kota tertera pada tabel dibawah ini :

KOTA
CALON PERINTIS
CALON MENTOR
1.
Kuala Pembuang(Kalteng 1)
Pdt Libya Apriyono
Pdt Sundjaya Wijaya(GSJA Sungai Kehidupan)
2.
Pontianak(Kalbar)
Bpk JonatahanBpk. Tan A Chuan
Pdt Yulius Aleng(GSJA Charismata)
3.
Samarinda
Sdr Syarif Semaeli(Mahasiswa Sati)
Pdt Sundjaya Wijaya(GSJA Sungai Kehidupan)
4.
Kraksaan (Jatim 1)
Sdr Agus Setiawan(Mahasiswa Sati)
BPD Jatim 1
5.
Bolang Mongondow
Pdt Clarke Wowor
BPD Sulut 1

Kota-kota lain juga yang menjadi sasaran misi yakni Ratahan (Sulut 2), Tomohon (Sulut 2). Selain itu juga ada perkembangan gereja baru yang berkembang di Indonesia khususnya di Jawa yakni :
1.      GSJA Ebenhaezer, Surabaya
2.      ICA, Surabaya
3.      GSJA Maranatha, Malang
4.      GSJA Maranatha, Batu
5.      GSJA Ponorogo
6.      GSJA air hidup, Madiun
7.      GSJA Nganjuk
8.      GSJA Kediri
9.      GSJA Kharismatik, Tulung Agung
10.  GSJA Sungai Kehidupan, Surabaya.
Demikianlah sasaran yang akan dicapai oleh GSJA di Indonesia. Dengan misi mengembangkan GSJA di daerah Indonesia Tengah.
c.        




II.                DESKRIPSI KHUSUS GEREJA SIDANG JEMAAT ALLAH
Setelah bagian pertama berbicara banyak tentang hal-hal umum tentang GSJA. Maka pada bagian atau pokok pembahasan yang kedua ini, akan dijelaskan tentang salah satu jemaat GSJA yang ada di Minahasa. Jemaat yang menjadi objek penelitian yakni jemaat (Gereja) GSJA yang ada di Kelurahan Wanea-Samrat yakni GSJA Tanjung Batu.
1.                  Gereja Sidang Jemaat Allah Tanjung Batu, Wanea-Samrat
Gereja ini terletak di jalan raya Wanea-Samrat. Gereja yang bersebrangan dengan Pom bensin, kalau dari arah terminal Karombasan, gereja ini terletak di sebelah kiri. Bangunan gereja agak tua, dilihat dari warna catnya yang sudah tidak cerah lagi. Meskipun demikian, gereja ini merupakan gereja kota, karena terletak di kota Manado. Dan pula Pendeta kepala gereja ini adalah ketua BPD Sulut. Sehingga gereja ini bisa dikatakan sebagai pusat dari GSJA yang ada di Sulut.
Pada bagian khusus ini, pokok-pokok yang akan dibahas lebih kepada orang-orang dan praktek yang dilaksanakan dalam gereja. Sehingga tidak terpusat pada bangunan tua gereja tersebut. 
2.                   
III.              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar