Penelitian
Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA)
Pendahuluan
Tulisan
ini merupakan hasil penelitian pada salah satu gereja di Manado yakni Gereja
Sidang Jemaat Allah (GSJA). Pada paper ini akan dibahas dua pokok besar yakni
pertama gambaran umum tentang Gereja Sidang Jemaat Allah. Pada bagian pertama
ada beberapa bagian yang hendak diterangkan. Pertama, mengenai profil jemaat
pada skala umum, seperti jumlah GSJA yang tersebar di Indonesia maupun di luar
negeri, jumlah anggota jemaat secara keseluruhan, dan dimana saja jemaat ini
tersebar khususnya di Indonesia. Kedua tentang struktur kepemimpinan utama
jemaat. Dan ketiga tentang sejarah masuknya GSJA di Sulawesi Utara (Minahasa). Sedangkan
besar kedua yakni mendeskripsikan salah satu jemaat khusus.
I.
Deskripsi Umum Gereja
Sidang Jemaat Allah
1.
Apa itu Gereja Sidang
Jemaat Allah (GSJA) ?
Gereja
Sidang Jemaat Allah adalah salah satu denominasi Gereja yang merupakan pecahan
dari Gereja Pantekosta. GSJA sekarang ini memiliki sinode gereja yang mandiri.
Karena itu di Indonesia GSJA telah bernaung di bawah Persekutuan Gereja-gereja
di Indonesia (PGI).
Meskipun
GSJA terlepas dari satu tubuh dengan Gereja Pantekosta, bukan berarti gereja
ini memiliki umat yang sedikit. Tetapi lewat data-data yang diperoleh, GSJA
merupakan denominasi Gereja Pantekosta yang memiliki jemaat terbanyak
dibandingkan dengan pecahan Pantekosta lainnya (mengenai data jemaat ada pada
bagian ketiga). Untuk lebih mengenal tentang GSJA maka hendaknya dilihat
mengenai sejarah lahirnya GSJA pada bagian selanjutnya.
2.
Sejarah Gereja Sidang
Jemaat Allah
GSJA
didirikan pada tahun 1914 di Hot Springs, Arkansas, Amerika Serikat. Wakil dari
20 negara bagian dan beberapa dari negara asing berkumpul untuk membentuk
sebuah persekutuan Pentakostal. Tujuan dari persekutuan ini adalah melindungi
dan melestariakn hasil-hasil dari kebangunan yang terjadi atas ribuan orang
yang percaya mengalami pembaptisan Roh Kudus di Azusa Street, Los Angeles,
California.
Keberadaannya
di Indonesia disebabkan olehnya hadirnya 3 keluarga Misionaris Amerika yang
menjadi pioneer pelayanan GSJA di Indonesia yakni keluarga Kenneth dan Gladys
Short, keluarga Ralph Mitchell dan Edna Lucy Devin serta keluarga Raymond dan
Beryl Busby. Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah belum memiliki sebuah pelayanan
resmi di Indonesia hingga tahun 1946, ketika Kenneth Goerge Short, Raymond
Arthur Busby dan Ralph Mitchell Devin kembali ke Indonesia sebagai misionaris
yang diutus oleh Division of Foreign
Mission of the American General Council of the Assemblies of God.
Tahun
1934 Ralph Mitchell Devin bertobat setelah mendengar khotbah C.M. Ward di
Bethel Temple, Seattle. Empat tahun kemudian, ia memutuskan untuk menjual
bisnis furniture-nya di kota Seattle dan pergi ke Hindia Belanda sebagai
misionaris swadana. Keluarga Devin melakukan pelayanan mereka di daerah Maluku.
Segera sesudah tiba di Maluku, keluarga Devin mendirikan semacam kantor pusat
kegiatan penginjilan di Ambon. Pada awalnya mereka bekerjasama dengan Job
Silloy, seorang gembala dari De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie,
namun hanya bertahan enam bulan lamanya karena ada perbedaan doktrin. Setelah
berpisah dari Job Silloy, Ralph Devin memutuskan untuk mendirikan Bethel Indies
Mission pada bulan September 1938. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 24
April 1940, organisasi ini mendapat pengakuan dari pemerintah Hindia Belanda.
Devin menjadi Ketua dan Raymond Busby menjadi Wakil Ketua. Tahun 1939, keluarga
Devin mengundang John Sung, seorang penginjil Karismatik dari daratan Tiongkok
untuk datang memberitakan Injil dalam KKR di Ambon. Banyak orang bertobat dan
mereka menjadi cikal bakal jemaat awal GSJA di Maluku. Saat pecahnya
Perang Pasifik, aktivitas penginjilan keluarga Devin terpaksa dihentikan dan
pada bulan Januari 1942 Devin membawa keluarganya keluar dari Hindia Belanda
untuk kembali ke Amerika Serikat.
Kenneth
Short mula-mula terpanggil untuk melayani di Borneo (Kalimatan). Pada tahun
1936 ia tiba di Banjarmasin, salah satu kota besar di pulau tersebut. Ia memberitakan
Injil di sebuah kawasan di tepi Sungai Kahayan yang dikenal dengan nama Pulau
Pisang. Di sinilah ia mendapatkan buah sulung pelayanannya ketika terjadi
mujizat Tuhan yang menyembuhkan seorang yang buta. Kakak dari orang buta yang
disembuhkan tersebut, bernama Saridjan, merupakan penduduk asli daerah Sungai
Kahayan pertama yang percaya kepada Kristus. Berikutnya adalah keluarganya dan
beberapa orang lainnya. Ketika pecah PD II, demi alasan keamanan, Kenneth Short
membawa keluarganya kembali ke Amerika Serikat.
Sedangkan
untuk sejarah masuknya GSJA di Minahasa kurang memiliki sumber-sumber yang
memadai. Dari wawancara yang dilakukan dengan seorang staf di gereja Assembling
of God Wanea, dikatakan bahwa para pendeta dari jawa yang datang dan mendirikan
gereja tersebut di Minahasa. Namun, demikian GSJA yang ada di Minahasa khusunya
di Wanea tersebut merupakan salah satu GSJA yang tertua yang berdiri di
Minahasa. Sekarang ini ada beberapa gereja yang masih dipegang oleh orang-orang
yang berasal dari luar Minahasa karena memang mereka yang membawanya. Sedangkan
di Wanea, telah memiliki pendeta yang berasal dari Minahasa sendiri yakni
Supit.
3.
Pengakuan Iman (Pokok Ajaran)
Pada
saat wawancara dengan staf di Gereja Sidang Jemaat Allah Tanjung Batu
Wanea-Samrat, ibu Novi tidak berpikir macam-macam. Malahan bagi dia hal
tersebut adalah sesuatu yang sangat baik. Karena menurut dia, hendaknya Gereja
bukan anggota mereka juga harus tahu mengenai Gereja mereka. Sebab, mereka
bukan Gereja yang sesat, yang mengajarkan jalan yang sesat bagi jemaatnya. Oleh
karena itu dia berkata bahwa GSJA berpegan teguh pada ajaran Kitab Suci.
Sehingga dasar bagi kehidupan jemaat adalah Firman Allah.
Maka
dari itu, dapat diberikan beberapa unsur yang terkandung dalam ajaran atau
pengakuan iman mereka. GSJA yang mendasarkan segala ajaran pada Kitab Suci.
Beberapa unsur tersebut ialah:
a. Alkitab
adalah firman Allah yang diilhamkan dan tanpa salah; satu-satunya kaidah yang
mutlak dan berwenang bagi ian dan perilaku manusia.
b. Allah
adalah Esa, hadir secara kekal dalam tiga oknum: Allah Bapa, Allah Putra dan
Allah Ro Kudus.
c. Tuhan
Yesus Kristus: Ilahi adanya, lahir dari seorang anak dara, hidup tanpa dosa,
melakukan mujizat, menebus manusia yang berdosa melalui kematianNya, bangkit
secara badani, bangkit ke Sorga dan dimuliakan di sebelah kanan Allah Bapa, akan
datang kembali ke bumi dalam kuasa dan kemuliaan untuk memerintah dalam
Kerajaan Seribu Tahun.
d. Oleh
pelanggaran satu orang (Adam) dosa telah masuk ke dalam dunia, dan maut oleh
sebab dosa; demikianlah maut telah menimpa semua orang, karena semua orang
telah berbuat dosa.
e. Keampunan
dan penyucian dari dosa hanyalah melalui pertobatan dan iman kepada kuasa penyucian
darah Yesus
f. Pembaharuan
yang dikerjakan oleh Roh Kudus mutlak perlu bagi keselamatan seseorang.
g. Karya
penebusan Kristus di atas kayu salib menyediakan kesembuhan bagi tubuh manusia
melalui doa dan iman.
h. Pengudusan
dikerjakan oleh Roh Kudus yang mendiami orang percaya
i.
Baptisan Roh Kudus
menurut Kisah Para Rasul 2:4 dikaruniakan kepada orang beriman yang memohon
kepada Allah.
j.
Pengangkatan Gereja
pada waktu kedatangan Kristus di awan-awan merupakan pengharapan yang bahagia
bagi orang-orang percaya
k. Kebangkitan
tubuh bagi orang-orang percaya maupun yang tidak percaya; yang pertama akan
menerima hidup yang kekal dan yang kedua untuk menerima hukuman.
4.
Jumlah Jemaat (Gereja)
Bagian
pertama ini akan dijelaskan mengenai jumlah jemaat secara umum. Jumlah jemaat
secara umum ini bukan hanya di Sulawesi Utara tapi seluruh Indonesia bahkan
dari luar negeri dimana jemaat GSJA itu berdiri. Atau kalau lebih dimengerti
tentang jumlah bangunan gereja yang tersebar di seluruh dunia.
Gereja
Sidang Jemaat Allah adalah bagian dari Persekutuan Assemblies of God in the
World (WAGF) yang adalah denominasi Pentakosta terbesar di dunia. Untuk jumlah
jemaat keseluruhan dapat dilihat pada tabel I di bawah ini.
Tabel I. Data Jumlah
Jemaat GSJA di Dunia Tahun 2011
|
Jumlah
|
|||
|
Negara
|
Gereja
|
Jemaat
|
Para
pelayanan Injil
|
|
140
Negara
|
320.000
gereja
|
65
Juta jemaat
|
344.092
orang
|
Data
ini merupakan hasil yang dihasilkan pada bulan Februari 2011. Dalam pertemuan
Persekutuan Gereja Sidang Jemaat Allah di dunia yang dilaksanakan di Chennai,
India. 140 negara itu tersebar di Afrika, Asia Pasifik, Eurasia, Eropa,
Amerika, Amerika Latin, Karibia dan Asia bagian Utara.
Dari
Amerika sendiri jemaat ssekitar 2,2 juta anggota jemaat. Sedangkan di Indonesia
terdapat beberapa provinsi atau kabupaten dimana GSJA ini berada. Di Indonesia
misalnya tersebar di. Sedangkan di Sulut tersebar di /.....
Sedangkan
di Indonesia, data mengenai jumlah jemaat GSJA dapat dilihat pada Tabel II.
|
Provinsi
|
Jumlah Gereja
|
Jumlah Jemaat
|
Jumlah Pelayan Injil
|
|
|
|
|
|
Sedangkan
di Sulut, jemaat GSJA tersebar di beberapa daerah seperti yang tertera pada
Tabel III, dibawah ini
5.
Struktur Kepemimpinan
utama Jemaat
Gereja
Sidang Jemaat Allah tidak sama dengan Katolik yang berada dibawah naungan bapak
Paus. Layaknya Gereja Kristen lain, GSJA memiliki pemimpin-pemimpin di tiap
wilayah negara atau provinsi maupun kabupaten atau kota. Kepemimpinan utama
dipegang oleh salah satu Pendeta yang berdomisili di salah satu wilaya
tersebut. Misalnya di Sulut, kepemimpinan utama GSJA sendiri. Sehingga dari
para pemimpin utama ditiap wilayah inilah yang menjadi pengubung dengan para
pemimpin utama lainnya yang berada di wilayah lain.
Lebih
lanjut diterangkan bahwa GSJA di Indonesia mengambil gabungan antara bentuk
Sinodal atau Presbyterian dan bentuk Kongregasional. Pada bentuk Sinodal ada
beberapa ciri-ciri yakni :
1. Terjadi
pengangkatan seorang pendeta oleh sebuah otoritas organisasi di atasnya.
2. Organisasi
dapat memindahkan dan memberhentikan pendeta melalui jalu BPP – BPD
3. Adanya
gereja berstatus Madya dan Pratama yang berada dibawah otoritas Badan Pengurus
Daerah
Sedangkan
pada bentuk Kongregasional, ada beberapa ciri-ciri yakni :
1. Adanya
gereja lokal berstatus pembina yag memiliki otoritas yang kuat di mana gereja
lokal menyokong dan memilih pendetanya dan menjalankan pemerintahannya sendiri
berdasarkan Peraturan Rumah Tangga mereka
2. Adanya
Majelis Gereja yang menjadi otoritas dalam Gereja
Struktur
kepemimpinan utama yang di teliti disini adalah kepemimpinan utama yang ada di
Sulawesi Utara. Dalam rapat daerah Sulut I tanggal yang dilaksanakan antara
tanggal 25-27 Februari 2013 telah terpilih Badan Pengurus Daerah (BPD) untuk
periode 2013-2016 dengan komposisi sebagai berikut:
Ketua : Pdt. J. A. Supit
Wk.
Ketua : Pdt. M. Wololi
Sekretaris : Pdt. L. Kumayas
Bendahara : Pdt. Ruth Kaeng
Komisaris : Pdt. J. Timbuleng
Di Indonesia, dalam sistem
kelembagaan gereja, GSJA memiliki satu badan khusus yang menangani karya
pewartaan injil. Itulah Departemen. Tujuannya ialah memberitakan Injil dan
mendirikan Sidang Jemaat Allah berdasarkan Alkitab. Kalau ditinjau lebih jauh,
adanya departemen ini untuk mengatasi masa depan dan perkembangan yang harus
dicapai. Maka dari itu, dalam wilayah ini, GSJA memiliki departemenk misi.
Dimana, departemen misi ini memiliki jangkauan kedepan yang strategis bagaimana
menciptakan satu jemaat pada tahun-tahun kedepan.
Departemen misi tertuang dalam
Sasaran Nasional (Sarnas). Dimana ada beberapa pokok yang harus dikembangkan.
Sasaran nasional tahun 2011 – 2016 ialah 80 gereja kota, 500 gereja non kota
dan 5000 K.K.A. Adapun tahapan kerjanya ialah :
|
2012
|
2013
|
2014
|
2015
|
2016
|
||
|
?
|
Gereja
Kota
|
10
|
15
|
20
|
25
|
10
|
|
?
|
Gereja
Non-Kota (Unreached
People)
|
100
(3)
|
100
(3)
|
100
(3)
|
100
(3)
|
100
(3)
|
|
?
|
K.K.A.
|
1000
|
1000
|
1000
|
1000
|
1000
|
Sasaran nasional ini terbagi dalam
tiga bagian karya misi yakni Departemen Msi Indonesia Timur (DMIT), Misi
Indonesia Tengah (DMITA), dan Misi Indonesia Barat (DMITB). Maka dari itu akan
dilihat satu-persatu dari misi-misi tersebut.
a. DMIT
Tujuan
dari Misi Indonesia Timur ini ialah untuk mencapai sasaran nasional. Bekerja
sama dengan Gereja mentor dan difasilitasi BPD. Untuk membuka 2 gereja
perkotaan, 30 gereja non-perkotaan, 300 KKA dan 1 unreached people. DMIT fokus
sebagai motivator, fasilitator, equipper dan capacity builder.
Adapun
rencana perintisan untuk Gereja non-perkotaan ialah di Maluku 7 buah, NTT 10
buah, Bali dan NTB 3 buah, Papua 5 buah dan Papua barat 5 buah.
Untuk
mencapai misi tersebut, ada langkah-langkah yang dilaksanakan yakni :
1. Membangun
hubungan dengan Gembala-gembala dari gereja-gereja potensial, melalui:
·
Surat penggembalaan BPP
·
Event Hari Misi Januari
2013
·
Presentasi di Event
Rakerda di 5 BPD yang ada
·
Melakukan berbagai
pendekatan pribadi
·
Daftar lengkao
kota/lokal? Dimana gereja kota dan non-kota dibuka
·
Perintis dan program
magang di persiapkan
·
Kelanjutan dari
Mentoring gereja-gereja baru tersebut
·
Ditemukan sumber-sumber
pendanaan.
2. Membagi
fokus kerja Staf DMIT
Sedangkan
untuk pembagian target mengembangkan 300 KKA, langkah-langkah strategisnya
ialah:
·
Mengutus 3 Kabid KKA
dari tiga wilayah bersama stafnya untuk mengikuti paket Training KKA
·
Merumuskan model yang
akan di sosialisasikan
·
Mengadakan training KKA
ke setiap daerah.
Demikianlah,
misi yang akan menjadi sasaran yang harus mereka penuhi. Dapat dikatakan bahwa
mereka juga memiliki para misioner di jaman sekarang ini. Sehingga mereka terus
berkembang dan maju seperti gereja-gereja lainnya.
b. DMITA
Misi
ini berlaku untuk wilayah yang berada di Indonesia Tengah. Ada 10 area kerja
yang menjadi objek misi penyebaran dan perluasan gereja. Daerah-daerah itu
ialah Jatim 1, Jatim 2, Kalbar, Kalteng 1, Kalteng 2 dan Kalsel, Kaltim,
Sulselbatra, Sulteng, Sulut 1 dan Sulut 2.
Adapun
perintisan Gereja Kota tertera pada tabel dibawah ini :
|
KOTA
|
CALON
PERINTIS
|
CALON
MENTOR
|
|
|
1.
|
Kuala
Pembuang(Kalteng 1)
|
Pdt Libya
Apriyono
|
Pdt
Sundjaya Wijaya(GSJA Sungai Kehidupan)
|
|
2.
|
Pontianak(Kalbar)
|
Bpk
JonatahanBpk. Tan A Chuan
|
Pdt Yulius
Aleng(GSJA Charismata)
|
|
3.
|
Samarinda
|
Sdr Syarif
Semaeli(Mahasiswa Sati)
|
Pdt
Sundjaya Wijaya(GSJA Sungai Kehidupan)
|
|
4.
|
Kraksaan
(Jatim 1)
|
Sdr Agus
Setiawan(Mahasiswa Sati)
|
BPD Jatim
1
|
|
5.
|
Bolang
Mongondow
|
Pdt Clarke
Wowor
|
BPD Sulut
1
|
Kota-kota
lain juga yang menjadi sasaran misi yakni Ratahan (Sulut 2), Tomohon (Sulut 2).
Selain itu juga ada perkembangan gereja baru yang berkembang di Indonesia
khususnya di Jawa yakni :
1. GSJA
Ebenhaezer, Surabaya
2. ICA,
Surabaya
3. GSJA
Maranatha, Malang
4. GSJA
Maranatha, Batu
5. GSJA
Ponorogo
6. GSJA
air hidup, Madiun
7. GSJA
Nganjuk
8. GSJA
Kediri
9. GSJA
Kharismatik, Tulung Agung
10. GSJA
Sungai Kehidupan, Surabaya.
Demikianlah
sasaran yang akan dicapai oleh GSJA di Indonesia. Dengan misi mengembangkan
GSJA di daerah Indonesia Tengah.
c.
II.
DESKRIPSI KHUSUS GEREJA
SIDANG JEMAAT ALLAH
Setelah
bagian pertama berbicara banyak tentang hal-hal umum tentang GSJA. Maka pada bagian
atau pokok pembahasan yang kedua ini, akan dijelaskan tentang salah satu jemaat
GSJA yang ada di Minahasa. Jemaat yang menjadi objek penelitian yakni jemaat
(Gereja) GSJA yang ada di Kelurahan Wanea-Samrat yakni GSJA Tanjung Batu.
1.
Gereja Sidang Jemaat
Allah Tanjung Batu, Wanea-Samrat
Gereja
ini terletak di jalan raya Wanea-Samrat. Gereja yang bersebrangan dengan Pom
bensin, kalau dari arah terminal Karombasan, gereja ini terletak di sebelah
kiri. Bangunan gereja agak tua, dilihat dari warna catnya yang sudah tidak
cerah lagi. Meskipun demikian, gereja ini merupakan gereja kota, karena
terletak di kota Manado. Dan pula Pendeta kepala gereja ini adalah ketua BPD
Sulut. Sehingga gereja ini bisa dikatakan sebagai pusat dari GSJA yang ada di
Sulut.
Pada
bagian khusus ini, pokok-pokok yang akan dibahas lebih kepada orang-orang dan
praktek yang dilaksanakan dalam gereja. Sehingga tidak terpusat pada bangunan
tua gereja tersebut.
2.
III.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar