Sabtu, 20 Februari 2016

Thomas F. O. Dea, Sosiologi Agama





Pertimbangan Buku
Dari Buku Karangan Thomas. F. O. Dea, Sosiologi Agama; suatu pengenalan awal. Jakarta: Rajawali Press. 1987.
1.              Isi Buku
Buku yang berjudul Sosiologi Agama; suatu pengenalan awal  yang ditulis oleh  Thomas. F. O. Dea tersebut terdiri dari enam bab dan jumlah halaman 225. Setiap bab memiliki pokok masing-masing dan sub pokok yang mendukung.
Agama dan Masyarakat dalam pendekatan kaum fungsionalisme. Agama tentu tak bisa dipisahkan dari masyarakat. Karena masyarakat adalah suatu realitas yang menjadi pelaku keagamaan tersebut. Agama yang menyangkut kepercayaan serta berbagai prakteknya, benar-benar merupakan masalah sosial dan sampai saat ini masih ditemukan dalam setiap masyarakat. Dalam masyarakat yang sudah mapan, agama merupakan salah satu struktur institusional yang penting dalam melengkapi seluruh sistem sosial. Namun masalah agama berbeda dengan masalah pemerintahan dan hukum. Perbandingan antara aktivitas keagamaan dan aktivitas yang lain mempunyai kepentingan yang sama. Agama menjadi ciri-ciri dari pemersatu aspirasi manusia yang paling sublim. Seperti moralitas dan sumber tatanan masyarakat dan perdamaian batin individu.
Emile Durkheim seorang pelopor sosiologi agama di Prancis mengatakan bahwa agama merupakan sumber semua kebudayaan yang sangat tinggi, sedangkan Marx mengatakan bahwa agama adalah candu bagi manusia. Dalam hubungan dengan teori fungsionalisme dapat dikatakan sosiologi agama dipengaruhi juga oleh teori ini. Teori ini memandang masyarakat sebagai suatu lembaga sosial yang berada  dalam keseimbangan; yang memolakan kegiatan-keigatan manusia dalam norma-norma yang dianut bersama. Kebudayaan merupakan suatu sistem makna-makna simbolis yang sebagian diantaranya menentukan realitas sebagaimana diyakini dan yang sebagian lain menentukan harapan-harapan normatif yang dibebankan kepada manusia. Kebudayaan bagi manusia merupakan kreasi dunia penyesuaian dan kemaknaan dalam konteks mana kehidupan manusia dapat dijalankan dengan penuh arti. Teori fungsionalisme melihat manusia dalam masyarakat sebagai ditandai oleh dua tipe kebutuhan dan dua jenis kecenderungan bertindak. Selama kebutuhan itu mendapatkan pengungkapan dan jalan keluar maka jawaban terhadap teori fungsionalisme bahwa agama mempunyai fungsi dan bahkan memerankan sejumlah fungsi. Dari sudut pandang fungsionalisme agama telah dibatasi sebagai pendayagunaan sarana non-empiris atau supra-empiris untuk maksud-maksud non-empiris.
Fungsi agama dan magis, dalam membedakannya, Malinowski menganggap magis mempunyai tujuan dan dalam pengejaran tujuan itu upacara magis dilakukan. Ritus keagaaman mengungkapkan perasaan semua orang yang melibatkan diri. Sedang dalam kegiatan magis tujuan serta prinsip yang mendasarinya selalu jelas dan lurus dan pasti. Sedangkan dalam upacara keagamaan tidak terdapat tujuan yang diarahkan kepada peristiwa yang akan terjadi. Dalam agama dan magis, ritus menunjukkan dua ciri khas. Pertama, membangkitkan kembali situasi awal dengan memunculkan dan katarsis perasaan yang tepat. Kedua, mengalihkan perhatian dari beberapa aspek lainnya.
Dari teori fungsional dapat menyebutkan enam fungsi dari agama. 1) agama mendasarkan perhatiannya pada sesuatu yang di luar jangkuan manusia yang melibatkan takdir dan kesejahteraan. 2) agama menawarkan suatu hubungan transendental melalui pemujaan dan upacara ibadar, karena itu memberikan dasar emosionala bagi rasa aman baru dan identitas yang lebih kuat ditengah ketidakpastian dan ketidakmungkinan kondisi manusia dan arus serta perubahan sejarah. 3) agama mencuilkan norma-norma dan nilai masyarakat yang telah terbentuk, mempertahankan dominasi tujuan kelompok di atas keinginan individu dan disiplin kelompok. 4) agama dapat memberikan standar nilai dalam arti dimana norma-norma yang telah terlembaga dapat dikaji kembali secara kritis. 5) agama melakukan fungsi identitas yang penting. 6) agama bersangkut paut dengan pertumbuhan dan kedewasaan individu dan perjalanan hidup melalui tingkat usia yang ditentukan oleh masyarakat.
“Pengalaman keagamaan” tentang Yang Suci, Yang Luar Biasa, dan Fenomena Kharisma dibahas dengan menggunakan karya dua sarjana klasik yakni Emile Durkheim dan Rudolf Otto. Durkheim menggolongkan semua pengalaman manusia kedalam dua kategori yang saling bertentangan yakni pengalaman yang suci dan profan. Pengalaman profan adalah dunia pengalaman rutin. Sedangkan yang suci itu lebih tinggi martabatnya dari yang profan. Durkheim juga menambahkan tujuh karakteristik, pertama yang suci itu sebagai aspek dari yang dialami, menyerukan suatu kepercayaan dan pengakuan pada kekuasaan atau kekuatan. Kedua, hal yang suci itu ditandai dengan kekaburan. Berfisik ganda yakni fisik dan moral, human dan kosmos, posotif dan negatif. Tiga karakteristik dari yang suci itu sesuai dengan pembahasan Durkheim bersifat non-utilitarian, non-empiris, dan tidak melibatkan pengetahuan. Menurut Durkheim ciri keenam ialah sifatnya yang mendukung dan memberi kekuatan. Kekuatan yang suci berfungsi untuk mempertahankan hidup.
Dalam buku The Idea of the Holy, Rudolf Otto berpendapat bahwa rasionalime telah mempengaruhi pemikiran keagamaan dengan menyurutkan hal yang kudus kepada aspek-aspek ketuhanan yang dapat dikonseptualisasikan dan dirumuskan secara ilmiah. Hal yang kudus merupakan sesuatu di luar konsepsi rasional dan etika. Dia menunjukkan hal itu dalam 3 bahasa yakni qadosh (Yahudi), ayios (Yunani), dan sanctus (Latin) menunjukkan pada inti terdalam yang riel (riel innermost core) dari semua agama. Yang Kudus adalah suatu kekuatan yang lebih tinggi.
Para pengamat lain juga seperti Van der Leeuw menitikberatkan kekuasaan dan timbulnya rasa kagum maupun aspek yang menarik yang terlarang pada hal yang suci itu.  Robert Lowie, mengartikan hal  yang suci itu sebagai sesuatu yang luar biasa bila dibandingkan dengan suasana yang biasa. Edmund Rochdieu berbicara tentang struktur sentimen keagamaan yang kompleks yang menyertai ketergantungan kepada hal yang suci. Yang suci itu menimbulkan perasaan yang secara simultan ditandai oleh teror dan daya tarik, ketakutan dan cinta serta horor dan pesona. Sedangkan Max Weber menamakan itu dengan kharisma. Kharisma memainkan dua peranan yakni sebagai hal yang luar biasa kharisma merupakan sumber kegoncangan dan pembaharuan. Dalam memperoleh pengikutnya dan dalam menimbulkan rasa hormat berasal dari sumber asli yang memberikan wewenang kepada seseorang. Tiga ciri khas dari kharisma yakni pertama kharisma adalah sesuatu yang luar biasa. Kedua ia bersifat kreatif dan ketiga ia dipandang sebagai the living God.
Edward Sapir dalam menganalisa agama dari segi manusia, menunjukkan bahwa hakikat agama harus ditemukan dalam usaha manusia yang tanpa akhir untuk menemukan jalan ketentraman spiritual ketika melintasi kebingungan dan bahwa dalam kehidupan sehari-hari. Agama adalah tanggapan manusia terhadap titik kritis dimana dia bersentuhan dengan kekuatan tertinggi dan sakral. Sedangkan Paul Tillich, menekankan sentralitas pertemuan dengan hal yang tertinggi dalam pengalaman keagamaan. Dia membandingkan cara dimana hal tertinggi itu ditemui dalam pengalaman filosofis dan intelektual serta dalam pengalaman keagamaan.
Menurut Martin Buber hubungan manusia dengan dunia tidak terbatas pada hubungan teknis; hubungan ini tidak hanya hubungan pembuat sesuatu dan manipulator kekuatan-kekuatan alam saja. George Simmel menunjukkan dalam agama mempunyai pemuas dan pemisahan unsur-unsur dari sikap dan hubungan  sehari-hari. Ilmu pengetahuan merupakan suatu penguat, pembaharu, suatu penyempurna dari metode-metode untuk mengetahui.  Sebagian dari manusia yang telah dibicarakan meyakinkan bahwa tanggapan keagamaan bukan merupakan satu-satunya kemungkinan tanggapan terhadap hal yang tertinggi (the ultimate). Mereka menunjukkan bahwa apa yang sebenarnya dihadapi pada situasi – akhir itu merupakan suatu kehampaan. Sementara manusia yang saleh mengesahkan  sebagai sesuatu yang lebih.
Organisasi agama tumbuh secara khusus semula berasal dari pengalaman keagamaan yang dialami oleh pendiri organisasi itu dan para pengikutnya. Organisasi yang khusus merupakan agama yang didirikan dan yang paling khas, berawal dari tokoh kharismatik dan sejumlah pengikut. Menurut Webber jika kharisma itu tidak tetap merupakan suatu fenomena transisi, tetapi bersifat hubungan permanen yang membentuk komunitas para penganut atau kelompok pengikut stabil. Evolusi agama yang baru didirikan merupakan suatu proses sosial yang kompleks, dimana rutinitas kharisma dan kesinambungan pengalaman keagamaan yang telah diselaraskan merupakan aspek yang penting. Disini agama Kristen bisa diketengahkan sebagai contoh. Masalah inti komunitas Kristen yang awal ini adalah perkumpulan yang berlangsung setiap hari (Kej 2;46;5;42) dan khususnya pada suatu hari, Hari Tuhan (1 Kor 16;2) dimana dilakukan upacara sembahyang. Disini perlu diperhatian dua hal, pertama hakikat hubungan ibadah Kristen yang awal : ia menegaskan hubungan dengan Yesus sebagai Kristus yang sudah bangkit. Kedua, pengikut yang baru, disamping melakukan berbagai macam hal, seperti berdoa dan membantu para anggotanya, dan walaupun para anggotanya masih berpartisipasi dalam ritual rumah suci Yahudi, terpusat pada ibadah kegiatan pemujaan.
Kompleks tanda-tanda, kata-kata dan sarana simbolis yang merupakan inti fenomena keagamaan yang dinamakan pemujaan (cult) ialah suatu ungkapan perasaan, sikap dan hubungan. Pemujaan mempunyai nilai misteri yang terkait dalam dirinya sehingga kita tidak dapat menalarkannya secara penuh. Walaupun pemujaan bermula sebagai ungkapan spontan, tetapi bahan-bahan tradisional dapat digunakan. Pelembagaan ritual, pemolaan kata-kata, isyarat dan prosedurnya dimaksudkan sebagai semacam rasa memiliki dan objektivitas sikap-sikap subyektif  dan spontan yang asli dari para pengikut. “Ritual mengungkapkan perasaan dalam arti logis ketimbang psikologis. Ia bisa memiliki apa yang oleh Aristoteles disebut sebagai nilai chatartic tetapi itu bukan merupakan ciri khasnya, ia semata-mata merupakan suatu artikulasi perasaan.”
Mitos merupakan bentuk pengungkapan intelektual yang primordial dari berbagai aspek sikap dan pengungkapan keagamaan. Mitos dianggap sebagai filsafat primitif, bentuk pengungkapan pemikiran yang paling sederhana. Cassirer menngatakan bahwa mitos berasal dari emosi dan latar belakang emosionalnya mengilhami semua hasilnya dengan warnanya yang khusus. Manusia primitif bukan kurang memiliki kesanggupan untuk memahami berbagai perbedaan empiris dari sesuatu. Tetapi dalam konsepsinya tentang alam dan kehidupan semua perbedaan ini dihilangkan oleh perasaan yang lebih kuat. Dalam mitos manusia menyatakan pemahamannya tentang apa yang disebut Stoics sebagai simpati keseluruhan dan bagian serta partisipasinya di dalam keseluruhan itu. Waktu mitos selalu saat sekarang, dan mitos menciptakan dan mengetengahkan kembali apa yang digambarkannya, ia mengaktualkan apa yang dikisahkannya.  
            Para pendiri agama maupun para pengikutnya serta para penganut baru sering datang dari berbagai latar-belakang sosial yang beragama. Durkheim menggunakan istilah anomi  untuk menunjukkan keadaan disorganisasi sosial di mana berbagai bentuk sosial dan kultur yang telah mapan ambruk. Dua aspek dari masalah tersebut ialah hilangnya solidaritas dan hilangnya konsensus (tumbangnya persetujuan).
            Menurut Troeltsch, gereja adalah sebuah lembaga yang telah dianugerahi kemuliaan dan keselamatan sebagai hasil karya penebusan; ia mampu menerima massa dan menyesuaikan dirinya dengan dunia. Sedangkan menurut dia sekte adalah suatu masyarakat suka rela, yang terdiri dari penganut Kristen yang terikat kuat satu sama lain oleh kenyatan bahwa mereka telah mengalami kelahiran yang baru. H. Richard Niebuhr, Liston Pope dan lainnya mempelajari perkembangan sekte bahwa sekte juga menghadapi masalah yang timbul dari anggota yang harus hidup dalam masyarakat umum. Dua sosiolog lainnya, Yinger dan Wilson memperlihatkan tidak semua sekte menyesuaikan diri dan dirutinkan dengan cara seperti itu. Sebagian mereka menjadi sekte yang mapan terlepas dari perubahan yang ada di dalam dirinya dan situasi, mereka tetap ada, sekalipun dengan berlalunya generasi sendiri. Ada sekte yang secara harafiah memisahkan diri dari masyarakat dan setelah mendapatkna daerah geografis yang terisolir, mereka membentuk suatu komunitas kecil mereka sendiri. Sedangkan sekte lainnya yang memisahkan diri namun masih tetap berada dalam masyarakat umum dan dapat dijumpai di masyarakat perkotaan. Tanggapan yang muncul atas hal ini adalah mistisisme. Mistisisme timbul bila dunia ide yang membentuk sistem keyakinan keagamaan telah mengeras menjadi bentuk ibadat dan doktrin formal. Hal tersebut seringkali merupakan suatu ungkapan protes dengan cara halus. Sementara berhubungan dengan Tuhan, bukan dengan pembaharuan, ia mengungkapkan keinginan untuk keluar dari bentuk ibadat yang telah mapan dan juga bentuk ide.
            Bagaimana hubungan stratifikasi internal organisasi keagamaan dengan stratifikasi masyarakat umum? Seluk beluk keterlibatan Gereja misalnya dalam masyarakat dan stratifikasi internal gereja dalam stratifikasi masyarakat dapat dilihat pada abad pertengahan. Masyarakat berkembang di sekitar dua fungsi penting yakni pembentukan dan pemeliharaan hukum dan peraturan sandang dan pangan. Didalam masyarakat abad pertengahan, gereja menjadi lembaga sentral dan paling berpengaruh. Sebagai lembaga keagamaan yang tertinggi gereja terkait dengan tujuan-tujuan dan nilai-nilai tertinggi. Menjelang akhir abad 11 situasi baru itu telah mengakibatkan konflik di kota-kota. Kelas-kelas baru berusaha  meningkatkan bagiannya dan memprotes kondisi yang ada di kota maupun di gereja. Gereja melibatkan diri dalam sistem feodal, yang pengurus atasnya sangat menekan kelas rendah. Dengan demikian dilihat mengenai masalah agama dan masalah sosial. Disatu pihak agama menyucikan posisi istimewa tatanan dan mapannya pemimpin, sedangkan dilain pihak menyediakan ideologi dan kepemimpinan.
            Mengenai hubungan agama dengan konflik, bila ditempatkan sejajar dengan enam fungsi positif agama dengan enam disfungsi yang berkaitan. Pertama, agama tidak fungsional kalau ia memberikan ketenangan emosional dan mempunyai peranan menumbuhkan rekonsiliasi. Kedua, dalam melaksanakan fungsi kependetaan, utama dalam kaitan yang transendental, agama bertugas mensucikan ide-ide tertentu dan sikap-sikap sektoral sampai pada satu jarak yang akan memungkinkan terhalangnya pengetahuan masyarakat akan lingkungannya dan dalam upaya manusia mengendalikan alam. Ketiga, dalam mensucikan norma dan nilai-nilai masyarakat agama akan tampil sebagai ciri yang abadi sebagai pembentuk. Keempat, fungsi risalat suatu fungsi yang begitu penting dalam agama alkitabiah dalam arti agama memberikan dasar dan legitimasi kritik dan oposisi pada tatanan yang telah mapan, telah merupakan sarana terpenting bagi pengembangan masyarakat demokratis barat. Kelima, sebagai fungsi identitas atau pengenal, agama menjadi objek loyalitas yang jadinya, merintangi perkembangan identitas baru yang lebih sesuai dengan situasi baru di mana manusia berada. Keenam, agama sering berperan mengembangkan ketergantungan pada lembaga keagamaan dan pemimpinnya ketimbang melembagakan kesanggupan untuk memikul tanggung jawab dan pengarahan diri individu.
            Dengan demikian agama tidak hanya sekedar faktor yang menyumbang bagi integrasi masyarakat. Ia dapat juga memisahkan suatu penyebab awal ketegangan dan konflik, suatu hambatan terhadap penyesuaian optimum, dan merupakan gangguan yang sedemikian rupa bagi reorganisasi yang secara optimal diperlukan. Agama dapat memberikan dukungan terhadap masyarakat dengan menghibur mereka yang kecewa karena tak terpuaskan, tetapi dengan proses yang sama ia dapat menghalangi penyesuaian dan perubahan yang diperlukan serta mengakibatkan masalah-masalah fungisonal yang gawat. Agama sebagai unsur penting dalam kebudayaan memberikan bentuk dan arah pada pikiran, perasaan dan tindakan manusia. Ia menyeimbangkan orientasi nilai, aspirasi, dan ego ideal manusia.  
2.                  Komentar Buku
Buku ini memang sesuai dengan judul kecilnya sebagai suatu pengenalan awal tentang agama yang berkembang dalam masyarakat. Bagaimana suatu kelompok, sekte dan organisasi bisa dilembagakan dengan disebut agama. Di dalam buku ini telah dipaparkan panjang lebar mengenai perkembangan sosiologi agama dari awal munculnya agama hingga menjadi satu lembaga yang jelas dan diterima umum. Banyak para ahli sosiolog umum maupun agama yang memberikan pandangan terhadap kelengkapan buku ini. Juga para antropolog yang semuanya berasal dari dunia Eropa. Sehingga buku ini memiliki isi yang padat. Karena memiliki informasi dari rujukan buku yang dapat berpengaruh dalam sosiologi agama. Tentu bagi para sosiolog masa kini, buku ini dapat membantu dalam memahami gejala kegamaan sekarang ini. Dimana terjadi ketidakseimbangan antara agama dan lembaga-lembaga lainnya. Agama sebagai tempat terjadinya kerukunan dan sumber moral kini telah diubah menjadi lembaga yang mementingkan kelompok agama itu saja, tanpa melihat kelompok lain sebagai gejala sosial yang harus diterima umum. Sekiranya buku ini menjadi referensi juga dalam memahami gejala yang timbul pada dunia sekarang ini.
 Bisa dikatakan diatas sebagai keunggulan dari buku tersebut. Karena telah memaparkan nilai-nilai yang terkandung dalam agama sehubungan dengan orientasi pada masyarakat umum. Namun, hal lain juga bisa dikatakan, bahwa relevansinya apa masih berguna untuk masyarkat sekarang ini? Ya, tentu dengan melihat kekurangan dalam buku ini. Buku ini ditulis berdasarkan perkembangan negara-negara Eropa yang tentu lebih menekankan Kekristenan sebagai contoh. Sehingga hampir tidak ada bagi agama-agama memiliki tempat yang sejajar dengan Kristen. Karena yang dirujuk adalah para sosiolog yang memang memiliki kepercayaan Kristen. Sehingga apakah memang tidak ada para sosiolog yang berasal dari agama lain? Sehingga bisa dikatakan buku ini merujuk pada agama Kristen semata. Kalau dirujuk juga dengan para ahli dari agama lain membuat buku ini semakin kompleks dan memiliki isi yang lebih baik dan berguna untuk kalangan umum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar