Senin, 01 Desember 2014

Sorga (Paus Yohanes Paulus II)




Paus Yohanes Paulus II

Sorga menurut Paus Yohanes Paulus II

Dalam tiga kali pertemuan hari rabu yang kontroversial itu,  Paus Yohanes Paulus II menjelaskan bahwa ciri hakiki dari sorga, neraka dan api pencucian adalah bahwa yang dimaksud dengan hal-hal tersebut ialah “keadaan” dari eksistensi roh seperti malaekat, setan dan roh manusia, dari pada suatu tempat, seperti dimengerti dan diterangkan dalam bahasa manusiawi pada umumnya. Istilah “tempat”, menurut Paus, tidaklah tepat untuk menjelaskan keadaan yang dimaksud, karena tempat terkait dengan keadaan temporal yang mengkondisikan keberadaan duniawi dan diri kita. Dalam menjelaskan sorga, neraka dan api pencucian, Paus mengaplikasikan kategori filsafat yang digunakan oleh Gereja dalam berteologi dan mengatakan kembali apa yang telah dikatakan oleh St. Thomas Aquinas jauh sebelumnya.

“Hal-hal yang bukan jasmani tidak berada di dalam suatu tempat menurut cara yang kita ketahui dan yang biasa kita alami di mana kita mengatakan bahwa tubuh jasmani berada di suatu tempat; makhluk rohani berada dalam suatu ‘tempat” yang sesuai dengan hakekatnya sebagai substansi spiritual, cara itu tidak dapat sepenuhnya dinyatakan kepada kita” (Summa Theologiae, Supplement, Q 69, a. 1, reply 1)

Sorga adalah kepenuhan persatuan dengan Allah

Sorga sebagai kepenuhan persatuan dengan Allah adalah tema katekese Bapa Suci pada audiensi umum tanggal 21 Juli 1999. “Sorga bukanlah suatu tempat yang abstrak dan  bukan pula suatu tempat fisik di awan-awan; melainkan suatu relasi yang hidup dan personal dengan Allah Tritunggal. Sorga adalah perjumpaan kita dengan Bapa yang terjadi di dalam Kebangkitan Kristus melalui kesatuan dengan Roh Kudus,” kata Paus.

1. Ketika wujud dunia ini berlalu, mereka yang telah menerima Allah di dalam hidup mereka dan dengan tulus hati membuka diri mereka bagi cinta-Nya, sekurang-kurangnya pada saat menjelang ajal, akan menikmati kepenuhan kemuliaan dengan Allah, yang adalah tujuan hidup manusia.
Seperti yang diajarkan oleh Katekismus Gereja Katolik, “Kehidupan yang sempurna bersama Allah Tritunggal Mahakudus ini, persekutuan kehidupan dan cinta bersama Allah, bersama Perawan Maria, bersama para malaekat dan orang kudus, dinamakan “sorga”. Sorga adalah tujuan terakhir dan pemenuhan kerinduan terdalam manusia, keadaan bahagia tertinggi dan definitif.” (n.1024).

Hari ini kita akan mencoba untuk mengetahui makna biblis dari “sorga” itu agar supaya kita memiliki pemahaman lebih baik tentang realitas yang ditunjuk oleh ungkapan “sorga” itu.

2. Dalam Kitab Suci kata “sorga” jika dihubungkan dengan “bumi”, menunjuk pada bagian dari alam semesta. Alkibat mengatakan tentang alam ciptaan, “ Pada awal mula Allah menciptakan “sorga” (langit) dan bumi (heavens and earth) Kej 1;1).

Sorga adalah tempat kediaman mahatinggi dari Allah yang hidup

Secara metaforis, sorga dimengerti sebagai tempat tinggal Allah; yang adalah berbeda dari tempat tinggal manusia (bdk Maz 104: 2dst; 116: 16; Yes 66: 1). Allah melihat dan mengadili dari sorga tinggi (Maz 113: 4-9) dan turun ke bawah jika Nama-Nya diserukan (bdk. Maz 18:9; 10: 144: 5). Dari metafor biblis itu nampak jelas bahwa Allah tidak menyamakan diri-Nya dengan sorga; Ia juga tidak dapat dimuat di dalamnya (bdk I Raj 8: 27); dan ini sungguh benar, meskipun dalam beberapa ayat dari buku pertama Makabe, “sorga” hanyalah salah satu nama dari Allah (I Makabe 3: 18, 19, 50, 60; 4: 24, 55).

Gambaran ‘sorga” sebagai tempat kediaman mahatinggi dari Allah yang hidup sama dengan gambaran tempat di mana para orang beriman, melalui rahmat, bisa naik ke atasnya dan masuk ke dalamnya, seperti kita lihat dalam Perjanjian Lama dalam kisah Henoh (Kej 5: 24) dan Elia (2 Raj 2: 11). Dengan demikian sorga menjadi suatu gambaran kehidupan di dalam Allah. Dalam arti ini Yesus berbicara tentang “upah di sorga” (Mat 5:12) dan mengajak umat untuk menaruh harapan pada harta sorgawi (Mat 6:20; 19:21)

3. Perjanjian Baru memperluas pengertian sorga dalam relasinya dengan misteri Kristus. Untuk menunjukkan bahwa pengorbanan Sang Penyelamat menghasilkan nilai yang sempurna dan definitif, surat kepada orang Ibrani mengatakan bahwa Yesus telah melintasi semua langit  (Ibr 4:14) dan Kristus telah masuk bukan ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah demi kepentingan kita. (Ibr 9:24). Oleh karena orang beriman itu dikasihi oleh Allah Bapa secara istimewa, mereka dibangkitkan bersama dengan Kristus dan dijadikan penduduk sorga. Baiklah kita menyimak apa yang dikatakan oleh rasul Paulus tentang hal itu dalam suatu ungkapan yang sangat jelas; “Allah yang kaya akan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan – dan di dalam Krisus Yesus Ia telah membangkitkan kita  juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.” (Ef. 2:4-7). Kebapaan Allah, yang penuh rahmat, dialami oleh ciptaan melalui cinta Sang Putera yang disalibkan dan bangkit, yang duduk di sorga di sebelah kanan Bapa sebagai Tuhan.

4. Setelah peziarahan hidup kita di dunia ini berakhir, partisipasi sempurna dalam intimitas dengan Allah terjadi melalui dimasukkannya kita ke dalam misteri Paskah Kristus. Rasul Paulus menekankan perjumpaan kita dengan Kristus di sorga pada akhir zaman dengan gambaran keduniaan yang hidup dan nyata: “Sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.” ( 1 Tes 4: 17-18).

Kehidupan Sakramental adalah antisipasi sorga

Dalam konteks Wahyu, kita tahu bahwa ‘sorga” atau “kebahagiaan” di dalam mana kita akan menemukan diri kita itu bukanlah sesuatu yang abstrak dan bukan pula suatu tempat fisik di awan-awan, melainkan suatu relasi yang hidup dan sangat personal dengan Allah Tritunggal. Sorga adalah perjumpaan kita dengan Allah yang terjadi di dalam Kristus yang bangkit melalui kesatuan dengan Roh Kudus.

Perlu juga untuk bisa menahan diri dalam keinginan besar untuk menjelaskan “sorga” dan “kehidupan abadi” itu karena gambaran yang kita buat tentangnya selalu tidak memuaskan. Dewasa ini, bahasa personalisme lebih cocok untuk menggambarkan keadaan bahagia dan “tempat” yang akan kita nikmati dalam kesatuan definitif kita dengan Allah. Katekismus Gereja Katolik meringkaskan ajaran Gereja tentang kebenaran ini demikian, “Oleh kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus Kristus telah “membuka” sorga bagi kita. Kehidupan orang bahagia berarti memiliki secara penuh buah penebusan oleh Kristus. Ia mengundang mereka, yang selalu percaya kepada-Nya dan tetap setia kepada kehendak-Nya, mengambil bagian dalam kemuliaan sorgawi-Nya. Sorga adalah persekutuan bahagia dari mereka semua yang bergabung sepenuh-penuhnya dengan Dia (no. 1026).

5. Keadaan akhir itu dapat diantisipasi atas salah satu cara dalam hidup kita sekarang melalui sakramen, yang pusatnya adalah Ekaristi, dan melalui pemberian diri dalam kasih persaudaraan. Jika kita dapat “merasakan” dengan tepat hal-hal baik yang Tuhan curahkan setiap hari pada kita, kita sudah mulai merasakan kedamaian dan kegembiraan itu yang suatu hari kelak akan menjadi milik kita secara sempurna. Kita tahu bahwa di dalam dunia ini segala sesuatu adalah terbatas, namun pemikiran tentang hal-hal yang tak-terbatas dapat membantu kita untuk menghidupi secara lebih baik “realitas terbatas sebelum yang tidak terbatas itu (“penultimate”, before the “untimate” realities). Kita tahu bahwa ketika kita sedang berziarah di dunia ini, kita diundang untuk mencari “hal-hal yang di atas, tempat Kristus duduk di sisi kanan Allah Bapa” (Kol. 3;1), agar supaya kita bersatu dengan-Nya dalam kepenuhan eskatologis, ketika Roh Kudus secara paripurna akan mendamaikan segala-sesuatu dengan Bapa, segala sesuatu yang ada di bumi maupun di sorga” (Kol 1:20).

We know that on this earth everything is subject to limits, but the thought of the "ultimate" realities helps us to live better the "penultimate" realities.

Taken from:
L'Osservatore Romano
Weekly Edition in EnglishHeaven: 28 July 1999, 7Hell: 4 Augt 1999, 7Purgatory: 11/18 Augt

Artikel ditemukan oleh P. Jan van Paassen, msc
Diterjemahkan oleh P. Albertus Sujoko, msc

API PENYUCIAN





Paus Yohanes Paulus II
Api Penyucian adalah perlu untuk pemurnian
(pemurnian cinta kepada Allah dan pemurnian penyerahan diri)
Sebelum kita masuk ke dalam persatuan penuh dengan Allah, setiap jejak dosa dalam diri kita harus dibersihkan dan setiap ketidaksempurnaan dalam jiwa kita harus diluruskan.
Dalam audiensi umum hari Rabu tanggal 4 Agustus 1999, bapa Suci Yohanes Paulus II memberikan katekese tentang Api Penyucian (dari kata pe –suci, menjadi penyucian; bukan api pencucian; dari kata pe – cuci;  nanti dikira rinso, atau pencucian uang - sujoko). Bapa Suci menjelaskan bahwa integritas fisik adalah perlu untuk memasuki persekutuan sempurna dengan Allah dan oleh karena itu istilah Api Penyucian tidak menunjuk pada tempat, melainkan kondisi keberadaan di mana Kristus menghapus sisa-sisa ketidaksempurnaan. (Pengantar  ini dari Wartawan L’Osservatore). Di bawah ini kata-kata Bapa Suci:
1. Seperti telah kita lihat dalam katekese sebelumnya, atas dasar pilihan fundamental untuk berpihak atau melawan Allah, manusia mendapati dirinya dalam kemungkinan ini: atau hidup dalam kebahagiaan kekal bersama Allah atau tetap tinggal jauh dari Allah.
Bagi mereka yang mengalami dirinya terbuka bagi Allah, namun masih belum sempurna, perjalanan menuju kebahagiaan penuh itu membutuhkan pemurnian yang dilukiskan oleh Katekismus Gereja Katolik dalam ajaran tentang Api Penyucian (no. 1030 – 1032)
Supaya dapat ambil bagian dalam kehidupan ilahi kita harus secara total bersih
2. Dalam Kitab Suci kita menemulan beberapa unsur yang dapat membantu kita untuk mengerti arti dari doktrin Api Penyucian ini, meskipun tidak secara jelas dirumuskan. Data Kitab Suci itu mengungkapkan keyakinan bahwa kita tidak dapat mendekati Allah tanpa melakukan semacam pemurnian.
Menurut hukum Perjanjian Lama, apa yang diperuntukkan bagi Allah harus sempurna. Dan konsekuensinya, keutuhan fisik juga secara khusus menuntut agar apa saja yang akan berkontak dengan Allah sebagai korban persembahan, misalnya, hewan korban, harus sempurna (Im. 22:22) atau jabatan rohani juga, misalnya imam-imam pelayan ibadah (Im. 21: 17-23). Kesempurnaan dituntut pula bagi pelayanan penuh kepada Allah Perjanjian, sesuai dengan pengajaran yang ditemukan dalam Kitab Ulangan (Ul. 6:5) ditutut pula integritas fisik bagi setiap manusia baik perorangan maupun masyarakat (bdk I Raj. 8:61). Di sini persoalannya adalah mengasihi Allah dengan seluruh diri, dengan kemurnian hati dan dengan kesaksian tindakan (bdk I Raj. 10: 12 dst).
Kebutuhan akan integritas diri jelaslah menjadi sangat penting setelah kematian supaya dapat masuk ke dalam persatuan sempurna dengan Allah. Mereka yang belum memiliki keutuhan (integritas) itu harus menjalani pemurnian. Hal itu dinyatakan juga dalam surat-surat St. Paulus. Ia berbicara tentang nilai dari pekerjaan setiap orang yang akan dinyatakan pada hari penghakiman: “Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” (I Kor. 3: 14-15.)
3. Sering terjadi bahwa untuk mencapai keadaan integritas sempurna, pengantaraan atau mediasi seseorang diperlukan. Contonya, Musa memperoleh pengampunan Allah bagi umatnya melalui doa di mana ia mengingat-ingat kembali karya-karya penyelamatan Allah pada masa lalu, dan berdoa atas dasar kepercayaan akan kesetiaan Allah akan janji yang Ia ucapkan kepada nenek moyang mereka (Kel. 32: 30, 11-13). Figur Hamba Yahwe yang dinyatakan dalam Kitab Yesaya juga menyatakan peran pengantaraan dan silih bagi banyak orang; pada akhir penderitaannya ia akan melihat cahaya dan akan membenarkan banyak orang dengan membawa sendiri kesalahan mereka (bdk Yes. 52: 13-53; 12 dan khususnya 53: 11).
Dalam perspektif PL, Mazmur 51 bisa pula dipertimbangkan sebagai rangkuman dari suatu proses reintegrasi: pendosa mengakui kesalahan-kesalahannya (ayat. 3) mohon secara sungguh-sungguh untuk disucikan dan dibersihkan (ay. 2, 9, 10, 17) sehingga dapat menyerukan kemuliaan Allah (ayat 15).
Api Penyucian bukanlah suatu tempat, melainkan kondisi keberadaan
4. Dalam PB, Kristus ditampilkan sebagai pengantara yang mengambil fungsi Imam Agung pada hari pengorbanan (Ibr. 5: 7; 7:25). Namun di dalam Dia, imamat dinyatakan secara baru dan dalam bentuknya yang paripurna. Ia masuk ke dalam tahta sorgawi satu kali untuk selamanya untuk menjadi pengantara kita kepada Allah (bdk. Ibr. 9: 23-26, khususnya ay. 24). Ia bertindak serentak sebagai Imam dan Korban persembahan bagi dosa-dosa dunia (I Joh. 2:2).
Yesus yang adalah pengantara paling mulia bagi kita, akan menyatakan diri-Nya secara sempurna pada akhir kehidupan kita ketika Ia akan menyatakan diri-Nya dengan menawarkan belas kasih-Nya, namun juga dengan pengadilan yang tak terhindarkan bagi mereka yang menolak kasih dan pengampunan Bapa.
Tawaran belas kasih itu tidak membatalkan kewajiban kita untuk mempersembahkan diri kita kepada Allah dalam keadaan murni dan utuh, kaya dalam kasih seperti disebut oleh St. Paulus sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (Kol 3: 14).
5. Dalam mengikuti nasehat Injil untuk menjadi sempurna seperti Bapa di sorga (bdk Mat. 5:48) selama kehidupan kita di dunia ini, kita dipanggil untuk bertumbuh dalam cinta kasih, untuk tidak bercacat dan tidak berkerut di hadapan Allah Bapa sampai kedatangan Tuhan Yesus Kristus bersama dengan semua orang kudus-Nya” ( I Tes. 3: 12 dst). Lagi pula kita diundang untuk membersihkan diri kita dari setiap noda tubuh dan roh ( II Kor. 7: 1; bdk I Yoh. 3:3), karena perjumpaan dengan Allah mensyaratkan kemurnian sempurna.
Setiap tanda adanya jejak kejahatan harus dieliminasi, setiap ketidaksempurnaan jiwa harus diluruskan. Purifikasi harus komplit dan itulah arti sesungguhnya dari ajaran Gereja tentang Purgatorium atau Api Penyucian. Istilah itu tidak menunjuk pada suatu tempat, melainkan kondisi keberadaan. Mereka yang setelah kematian berada dalam keadaan dimurnikan adalah orang-orang yang sudah berada dalam kasih Kristus yang menghapus cacat cela mereka (Konsili Florance, Decretum pro Graecis: DS 1304; Konsili Trente, Decretum de iustificatione: DS 1580; Decretrum de purgatorio: DS 1820)
Perlulah dijelaskan bahwa keadaan dimurnikan itu bukanlah suatu perpanjangan atau lanjutan dari kondisi di dalam dunia ini, seolah-olah setelah kematian seseorang diberikan kemungkinan lain untuk mengubah nasibnya. Ajaran Gereja di bidang ini tidak seragam dan ditegaskan oleh pengajaran Konsili Vatikan II: “Karena kita tidak mengetahui hari maupun jamnya, atas anjuran Tuhan, kita wajib berjaga terus menerus, agar setelah mengakhiri perjalanan hidup kita di dunia hanya satu kali saja (lih Ibr (: 27), kita bersama dengan-Nya memasuki pesta pernikahan, dan pantas digolongkan pada mereka yang diberkati (Lih. Mat 25: 31-46), dan janganlah kita seperti hamba yang jahat dan malas (lih Mat. 25:26) supaya jangan diperintahkan enyah ke dalam api yang kekal (lih Mat 25:41), ke dalam kegelapan di luar, tempat “ratapan dan kertakan gigi” (Mat 22: 13 dan 25: 30) (Lumen Gentium, n. 48)
6. Satu aspek penting terakhir yang selalu ditunjukkan oleh tradisi Gereja dan perlu disadari saat ini ialah: dimensi komunio. Kenyataannya mereka yang berada dalam keadaan dimurnikan itu disatukan dengan mereka yang telah terberkati dan menikmati kepenuhan kebahagiaan kekal, dan juga disatukan dengan kita semua yang masih di dunia ini dalam peziarahan kita menuju rumah Bapa (Katekismus no. 1032).
Sama seperti ketika hidup di dunia ini para orang beriman itu disatukan dalam satu Tubuh Mistik Yesus Kristus, demikian pula setelah kematian, mereka yang berada dalam keadaan pemurnian mengalami solidaritas ekklesial yang sama yang bekerja melalui doa-doa, doa silih dan cinta kasih bagi saudara-saudari dalam iman. Purifikasi itu dijalani dalam kesatuan hakiki yang terjadi atau terjalin di antara mereka yang hidup di dunia ini dan mereka yang telah mengalami kebahagiaan abadi.
Taken from:
L'Osservatore Romano
Weekly Edition in EnglishHeaven: 28 July 1999, 7Hell: 4 Augt 1999, 7Purgatory: 11/18 Augt, 7

Artikel ditemukan oleh P. Jan van Paassen, msc
Diterjemahkan oleh P. Albertus Sujoko, msc