Sabtu, 13 Februari 2016

Neraka By Paus Yohanes Paulus II



Tulisan ini merupakan pemberian dari Romo Albertus Sujoko waktu kuliah di STF-SEMINARI PINELENG
 
Paus Yohanes Paulus II

Neraka adalah keadaan mereka yang menolak Tuhan

Pada audiensi umum hari rabu tanggal 28 Juli 1999, Bapa Suci Yohanes Paulus II merenungkan tentang neraka sebagai penolakan definitif akan Allah. Dalam ketekesenya, Paus mengatakan bahwa kehati-hatian perlu dilakukan bila kita ingin menafsirkan secara benar gambaran-gambaran Kitab Suci mengenai neraka, dan Paus menjelaskan bahwa “neraka adalah konsekuensi tertinggi dari dosa itu sendiri... lain dari pada sebuah tempat; neraka menunjuk pada keadaan mereka yang secara bebas dan definitif memilih untuk memisahkan diri dari Allah, sumber segala sukacita dan kehidupan.

1. Allah adalah Bapa yang kebaikan dan belaskasih-Nya tidak terbatas. Tetapi manusia, yang dipanggil untuk menjawab cinta-Nya dengan bebas, sangat disayangkan, dapat memilih untuk menolak cinta dan pengampunan- Nya satu kali dan untuk selamanya, dan dengan demikian ia memisahkan diri untuk selamanya dari komunio penuh sukacita dengan-Nya itu. Situasi tragis seperti itulah persisnya yang dimaksudkan oleh doktrin kristiani ketika ia berbicara tentang hukuman kekal atau neraka. Neraka bukanlah suatu hukuman yang dikenakan oleh Tuhan, melainkan suatu hasil dari perkembangan dari sikap-sikap yang sudah diambil oleh manusia di dalam hidupnya. Keadaan tidak bahagia di dalam kondisi gelap itu dalam arti tertentu dapat kita rasakan dalam konteks beberapa pengalaman mengerikan yang kita alami, dan yang bisa kita sebut juga sebagai hidup dalam neraka.

Namun, dalam arti teologis, neraka adalah sesuatu yang lain: neraka adalah konsekuensi tertinggi dari dosa itu sendiri; yang kemudian bangkit memberontak melawan pribadi orang yang melakukannya. Neraka adalah keadaan orang yang secara definitif menolak belas kasih Bapa, pun di dalam saat-saat akhir hidup mereka.

Neraka adalah keadaan terhukum kekal

2. Untuk menjelaskan realitas ini Kitab Suci menggunakan bahasa simbolik yang secara bertahap akan dijelaskan. Dalam PL, nasib atau keadaan orang yang meninggal belum sepenuhnya dinyatakan di dalam Pewahyuan. Terlebih karena disangka bahwa orang mati dimasukkan ke dalam Sheol, lembah kegelapan (Bdk. Ezra 28: 8: 31:14; Ay. 10:21; 38:17: Maz 30:10: 88:7, 13), Tempat di mana orang yang sudah mati tidak akan muncul kembali  (Ay. 7:9), tempat di mana tidak mungkin ada pujian bagi Allah (Yes. 38:18: Maz 6:6).
Perjanjian Baru memberikan gagasan baru tentang keadaan orang meninggal, dengan mewartakan pertama-tama bahwa Kristus dengan kebangkitan-Nya telah mengalahkan kematian dan meluaskan kuasa-Nya yang membebaskan itu ke dalam kerajaan orang-orang mati. Namun demikian, penebusan itu tetap merupakan suatu tawaran keselamatan yang tergantung dari manusia sendiri mau menerima atau tidak. Itulah sebabnya bahwa mereka akan diadili sesuai dengan perbuatan mereka (Why. 20:13). Dengan memakai gambaran-gambaran, Perjanjian Baru menyebutkan suatu tempat yang diperuntukkan bagi para pelaku kejahatan sebagai tempat api yang menyala-nyala, di mana orang akan menangis dan ada kertak gigi (Mt 13:42; bdk 25:30, 41) atau seperti Gehenna dengan apinya yang tidak terpadamkan (Mrk 9:43). Semua itu dikisahkan dalam perumpamaan tentang orang kaya, dengan keterangan bahwa neraka adalah tempat penderitaan abadi, tanpa ada kemungkinan untuk kembali, tanpa ada peringanan rasa sakit pula (bdk Luk. 16: 19-31).
Kitab Wahyu secara figuratif juga mengambarkan suatu lautan api sebagai tempat orang-orang yang menjauhkan diri dari kitab kehidupan, sehingga mereka mengalami kematian kedua (Why. 20:13dst). Siapapun yang terus menerus tertutup bagi Injil “akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya” (2 Tes. 1:9).

3. Gambaran-gambaran tentang neraka yang dinyatakan dalam Kitab Suci harus ditafsirkan secara benar. Gambaran-gambaran itu menunjukkan suatu frustrasi total dan kekosongan hidup tanpa Tuhan. Lebih dari sekedar suatu tempat, neraka menunjukkan suatu keadaan orang-orang yang secara bebas dan definitif memisahkan diri mereka dari Tuhan, sumber kehidupan dan sukacita. Katekismus Gereja Katolik merangkum hal ini demikian, “Mati dalam dosa berat, tanpa penyesalan dan tanpa menerima cinta Allah yang berbelaskasihan, berarti tinggal terpisah dari-Nya untuk selama-lamanya oleh keputusan sendiri secara bebas. Keadaan pengucilan diri secara definitif dari persekutuan dengan Allah dan dengan para kudus ini, dinamakan “neraka’ (no. 1033)

Dengan demikian, hukuman abadi itu tidak berasal dari inisiatif Allah karena di dalam cinta-Nya yang berbelaskasih Ia hanya bisa merindukan keselamatan dari semua ciptaan-Nya. Pada kenyataannya, ciptaan itu sendirilah yang menutup diri dari cinta-Nya. Hukuman itu justeru terletak pada pemisahan diri secara definitif dari Allah, yang secara bebas dilakukan oleh pribadi manusia itu sendiri dan dikuatkan lagi dengan kematian yang memeteraikan pilihan bebas itu untuk selamanya. Keadilan Allah hanya meratifikasi keadaan itu.


Kita diselamatkan dari neraka oleh Yesus yang mengalahkan Setan

4. Iman kristiani mengajarkan bahwa dalam mengambil resiko untuk mengatakan “ya” atau “tidak”, yang menandai kebebasan manusia, beberapa ciptaan Tuhan telah mengatakan “tidak”. Mereka adalah makhluk rohani yang memberontak terhadap cinta Allah dan mereka disebut setan-setan (Bdk. Konsili Lateran IV, DS 800-8001). Apa yang terjadi pada mereka adalah peringatan bagi kita: yaitu suatu panggilan terus-menerus untuk menghidari tragedi yang membawa kita kepada dosa itu dan untuk menyesuaikan hidup kita pada kehidupan Yesus yang telah menghidupi hidup-Nya dengan “ya” kepada Allah.

Hukuman abadi tetap merupakan kemungkinan real; dan tanpa pewahyuan khusus dari Allah, kita tidak dapat mengetahui apakah dan siapakah dari antara manusia yang akan masuk ke dalam neraka itu. Gambaran tentang neraka – bahkan juga gambaran dari Kitab Suci yang mungkin kurang tepat juga itu – tidak perlu menimbulkan kegelisahan dan putus asa, karena hal itu merupakan peringatan yang perlu dan sehat tentang penggunaan kebebasan manusia dalam rangka pewartaan Kristus yang bangkit yang telah mengalahkan Setan, dan memberikan kepada kita, Roh Allah yang membuat kita dapat berseru, “Abba ya Bapa!” (Rom. 8:15; Gal 4:6).

Kemungkinan terakhir ini, yang kaya dalam pengharapan, adalah yang paling dominan dalam perwartaan Kristiani. Pengharapan itu secara nyata tercermin dalam tradisi liturgi Gereja, seperti terungkap dalam rumusan Kanon Romawi (Doa Syukur Agung I) : Maka kami mohon, ya Tuhan, sudilah menerima persembahan kami, hamba-hamba-Mu, dan persembahan seluruh keluarga-Mu ini: bimbinglah jalan hidup kami dalam damai-Mu, luputkanlah kami dari hukuman abadi, dan terimalah kami dalam kawanan para pilihan-Mu.

Taken from:
L'Osservatore Romano
Weekly Edition in EnglishHeaven: 28 July 1999, 7Hell: 4 Augt 1999, 7Purgatory: 11/18 Augt
Artikel ditemukan oleh P. Jan van Paassen, msc
Diterjemahkan oleh P. Albertus Sujoko, msc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar