Tulisan ini merupakan pemberian dari Romo Albertus Sujoko waktu kuliah di STF-SEMINARI PINELENG
Paus Yohanes Paulus II
Neraka adalah keadaan mereka yang menolak Tuhan
Pada audiensi umum hari
rabu tanggal 28 Juli 1999, Bapa Suci Yohanes Paulus II merenungkan tentang
neraka sebagai penolakan definitif akan Allah. Dalam ketekesenya, Paus
mengatakan bahwa kehati-hatian perlu dilakukan bila kita ingin menafsirkan
secara benar gambaran-gambaran Kitab Suci mengenai neraka, dan Paus menjelaskan
bahwa “neraka adalah konsekuensi tertinggi dari dosa itu sendiri... lain dari
pada sebuah tempat; neraka menunjuk pada keadaan mereka yang secara bebas dan
definitif memilih untuk memisahkan diri dari Allah, sumber segala sukacita dan
kehidupan.
1. Allah adalah Bapa yang
kebaikan dan belaskasih-Nya tidak terbatas. Tetapi manusia, yang dipanggil
untuk menjawab cinta-Nya dengan bebas, sangat disayangkan, dapat memilih untuk
menolak cinta dan pengampunan- Nya satu kali dan untuk selamanya, dan dengan
demikian ia memisahkan diri untuk selamanya dari komunio penuh sukacita
dengan-Nya itu. Situasi tragis seperti itulah persisnya yang dimaksudkan oleh
doktrin kristiani ketika ia berbicara tentang hukuman kekal atau neraka. Neraka
bukanlah suatu hukuman yang dikenakan oleh Tuhan, melainkan suatu hasil dari
perkembangan dari sikap-sikap yang sudah diambil oleh manusia di dalam hidupnya.
Keadaan tidak bahagia di dalam kondisi gelap itu dalam arti tertentu dapat kita
rasakan dalam konteks beberapa pengalaman mengerikan yang kita alami, dan yang
bisa kita sebut juga sebagai hidup dalam neraka.
Namun, dalam arti teologis,
neraka adalah sesuatu yang lain: neraka adalah konsekuensi tertinggi dari dosa
itu sendiri; yang kemudian bangkit memberontak melawan pribadi orang yang
melakukannya. Neraka adalah keadaan orang yang secara definitif menolak belas
kasih Bapa, pun di dalam saat-saat akhir hidup mereka.
Neraka
adalah keadaan terhukum kekal
2. Untuk menjelaskan realitas
ini Kitab Suci menggunakan bahasa simbolik yang secara bertahap akan
dijelaskan. Dalam PL, nasib atau keadaan orang yang meninggal belum sepenuhnya
dinyatakan di dalam Pewahyuan. Terlebih karena disangka bahwa orang mati
dimasukkan ke dalam Sheol, lembah kegelapan (Bdk. Ezra 28: 8: 31:14; Ay. 10:21;
38:17: Maz 30:10: 88:7, 13), Tempat di mana orang yang sudah mati tidak akan
muncul kembali (Ay. 7:9), tempat di mana
tidak mungkin ada pujian bagi Allah (Yes. 38:18: Maz 6:6).
Perjanjian Baru memberikan
gagasan baru tentang keadaan orang meninggal, dengan mewartakan pertama-tama
bahwa Kristus dengan kebangkitan-Nya telah mengalahkan kematian dan meluaskan
kuasa-Nya yang membebaskan itu ke dalam kerajaan orang-orang mati. Namun
demikian, penebusan itu tetap merupakan suatu tawaran keselamatan yang
tergantung dari manusia sendiri mau menerima atau tidak. Itulah sebabnya bahwa
mereka akan diadili sesuai dengan perbuatan mereka (Why. 20:13). Dengan memakai
gambaran-gambaran, Perjanjian Baru menyebutkan suatu tempat yang diperuntukkan
bagi para pelaku kejahatan sebagai tempat api yang menyala-nyala, di mana orang
akan menangis dan ada kertak gigi (Mt 13:42; bdk 25:30, 41) atau seperti
Gehenna dengan apinya yang tidak terpadamkan (Mrk 9:43). Semua itu dikisahkan
dalam perumpamaan tentang orang kaya, dengan keterangan bahwa neraka adalah
tempat penderitaan abadi, tanpa ada kemungkinan untuk kembali, tanpa ada
peringanan rasa sakit pula (bdk Luk. 16: 19-31).
Kitab Wahyu secara figuratif
juga mengambarkan suatu lautan api sebagai tempat orang-orang yang menjauhkan
diri dari kitab kehidupan, sehingga mereka mengalami kematian kedua (Why.
20:13dst). Siapapun yang terus menerus tertutup bagi Injil “akan menjalani
hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari
kemuliaan kekuatan-Nya” (2 Tes. 1:9).
3. Gambaran-gambaran tentang
neraka yang dinyatakan dalam Kitab Suci harus ditafsirkan secara benar.
Gambaran-gambaran itu menunjukkan suatu frustrasi total dan kekosongan hidup
tanpa Tuhan. Lebih dari sekedar suatu tempat, neraka menunjukkan suatu keadaan
orang-orang yang secara bebas dan definitif memisahkan diri mereka dari Tuhan,
sumber kehidupan dan sukacita. Katekismus Gereja Katolik merangkum hal ini
demikian, “Mati dalam dosa berat, tanpa penyesalan dan tanpa menerima cinta
Allah yang berbelaskasihan, berarti tinggal terpisah dari-Nya untuk
selama-lamanya oleh keputusan sendiri secara bebas. Keadaan pengucilan diri
secara definitif dari persekutuan dengan Allah dan dengan para kudus ini,
dinamakan “neraka’ (no. 1033)
Dengan demikian, hukuman abadi
itu tidak berasal dari inisiatif Allah karena di dalam cinta-Nya yang
berbelaskasih Ia hanya bisa merindukan keselamatan dari semua ciptaan-Nya. Pada
kenyataannya, ciptaan itu sendirilah yang menutup diri dari cinta-Nya. Hukuman
itu justeru terletak pada pemisahan diri secara definitif dari Allah, yang
secara bebas dilakukan oleh pribadi manusia itu sendiri dan dikuatkan lagi
dengan kematian yang memeteraikan pilihan bebas itu untuk selamanya. Keadilan
Allah hanya meratifikasi keadaan itu.
Kita
diselamatkan dari neraka oleh Yesus yang mengalahkan Setan
4. Iman kristiani mengajarkan
bahwa dalam mengambil resiko untuk mengatakan “ya” atau “tidak”, yang menandai
kebebasan manusia, beberapa ciptaan Tuhan telah mengatakan “tidak”. Mereka
adalah makhluk rohani yang memberontak terhadap cinta Allah dan mereka disebut
setan-setan (Bdk. Konsili Lateran IV, DS 800-8001). Apa yang terjadi pada
mereka adalah peringatan bagi kita: yaitu suatu panggilan terus-menerus untuk
menghidari tragedi yang membawa kita kepada dosa itu dan untuk menyesuaikan
hidup kita pada kehidupan Yesus yang telah menghidupi hidup-Nya dengan “ya”
kepada Allah.
Hukuman abadi tetap merupakan
kemungkinan real; dan tanpa pewahyuan khusus dari Allah, kita tidak dapat
mengetahui apakah dan siapakah dari antara manusia yang akan masuk ke dalam
neraka itu. Gambaran tentang neraka – bahkan juga gambaran dari Kitab Suci yang
mungkin kurang tepat juga itu – tidak perlu menimbulkan kegelisahan dan putus
asa, karena hal itu merupakan peringatan yang perlu dan sehat tentang
penggunaan kebebasan manusia dalam rangka pewartaan Kristus yang bangkit yang
telah mengalahkan Setan, dan memberikan kepada kita, Roh Allah yang membuat
kita dapat berseru, “Abba ya Bapa!” (Rom. 8:15; Gal 4:6).
Kemungkinan terakhir ini, yang kaya
dalam pengharapan, adalah yang paling dominan dalam perwartaan Kristiani.
Pengharapan itu secara nyata tercermin dalam tradisi liturgi Gereja, seperti
terungkap dalam rumusan Kanon Romawi (Doa Syukur Agung I) : Maka kami mohon, ya
Tuhan, sudilah menerima persembahan kami, hamba-hamba-Mu, dan persembahan
seluruh keluarga-Mu ini: bimbinglah jalan hidup kami dalam damai-Mu,
luputkanlah kami dari hukuman abadi, dan terimalah kami dalam kawanan para
pilihan-Mu.
Taken from:
L'Osservatore Romano
Weekly Edition in EnglishHeaven: 28 July 1999, 7Hell: 4 Augt 1999, 7Purgatory: 11/18 Augt
L'Osservatore Romano
Weekly Edition in EnglishHeaven: 28 July 1999, 7Hell: 4 Augt 1999, 7Purgatory: 11/18 Augt
Artikel ditemukan oleh P. Jan
van Paassen, msc
Diterjemahkan oleh P. Albertus
Sujoko, msc
Tidak ada komentar:
Posting Komentar