Sabtu, 20 Februari 2016

Thomas F. O. Dea, Sosiologi Agama





Pertimbangan Buku
Dari Buku Karangan Thomas. F. O. Dea, Sosiologi Agama; suatu pengenalan awal. Jakarta: Rajawali Press. 1987.
1.              Isi Buku
Buku yang berjudul Sosiologi Agama; suatu pengenalan awal  yang ditulis oleh  Thomas. F. O. Dea tersebut terdiri dari enam bab dan jumlah halaman 225. Setiap bab memiliki pokok masing-masing dan sub pokok yang mendukung.
Agama dan Masyarakat dalam pendekatan kaum fungsionalisme. Agama tentu tak bisa dipisahkan dari masyarakat. Karena masyarakat adalah suatu realitas yang menjadi pelaku keagamaan tersebut. Agama yang menyangkut kepercayaan serta berbagai prakteknya, benar-benar merupakan masalah sosial dan sampai saat ini masih ditemukan dalam setiap masyarakat. Dalam masyarakat yang sudah mapan, agama merupakan salah satu struktur institusional yang penting dalam melengkapi seluruh sistem sosial. Namun masalah agama berbeda dengan masalah pemerintahan dan hukum. Perbandingan antara aktivitas keagamaan dan aktivitas yang lain mempunyai kepentingan yang sama. Agama menjadi ciri-ciri dari pemersatu aspirasi manusia yang paling sublim. Seperti moralitas dan sumber tatanan masyarakat dan perdamaian batin individu.
Emile Durkheim seorang pelopor sosiologi agama di Prancis mengatakan bahwa agama merupakan sumber semua kebudayaan yang sangat tinggi, sedangkan Marx mengatakan bahwa agama adalah candu bagi manusia. Dalam hubungan dengan teori fungsionalisme dapat dikatakan sosiologi agama dipengaruhi juga oleh teori ini. Teori ini memandang masyarakat sebagai suatu lembaga sosial yang berada  dalam keseimbangan; yang memolakan kegiatan-keigatan manusia dalam norma-norma yang dianut bersama. Kebudayaan merupakan suatu sistem makna-makna simbolis yang sebagian diantaranya menentukan realitas sebagaimana diyakini dan yang sebagian lain menentukan harapan-harapan normatif yang dibebankan kepada manusia. Kebudayaan bagi manusia merupakan kreasi dunia penyesuaian dan kemaknaan dalam konteks mana kehidupan manusia dapat dijalankan dengan penuh arti. Teori fungsionalisme melihat manusia dalam masyarakat sebagai ditandai oleh dua tipe kebutuhan dan dua jenis kecenderungan bertindak. Selama kebutuhan itu mendapatkan pengungkapan dan jalan keluar maka jawaban terhadap teori fungsionalisme bahwa agama mempunyai fungsi dan bahkan memerankan sejumlah fungsi. Dari sudut pandang fungsionalisme agama telah dibatasi sebagai pendayagunaan sarana non-empiris atau supra-empiris untuk maksud-maksud non-empiris.
Fungsi agama dan magis, dalam membedakannya, Malinowski menganggap magis mempunyai tujuan dan dalam pengejaran tujuan itu upacara magis dilakukan. Ritus keagaaman mengungkapkan perasaan semua orang yang melibatkan diri. Sedang dalam kegiatan magis tujuan serta prinsip yang mendasarinya selalu jelas dan lurus dan pasti. Sedangkan dalam upacara keagamaan tidak terdapat tujuan yang diarahkan kepada peristiwa yang akan terjadi. Dalam agama dan magis, ritus menunjukkan dua ciri khas. Pertama, membangkitkan kembali situasi awal dengan memunculkan dan katarsis perasaan yang tepat. Kedua, mengalihkan perhatian dari beberapa aspek lainnya.
Dari teori fungsional dapat menyebutkan enam fungsi dari agama. 1) agama mendasarkan perhatiannya pada sesuatu yang di luar jangkuan manusia yang melibatkan takdir dan kesejahteraan. 2) agama menawarkan suatu hubungan transendental melalui pemujaan dan upacara ibadar, karena itu memberikan dasar emosionala bagi rasa aman baru dan identitas yang lebih kuat ditengah ketidakpastian dan ketidakmungkinan kondisi manusia dan arus serta perubahan sejarah. 3) agama mencuilkan norma-norma dan nilai masyarakat yang telah terbentuk, mempertahankan dominasi tujuan kelompok di atas keinginan individu dan disiplin kelompok. 4) agama dapat memberikan standar nilai dalam arti dimana norma-norma yang telah terlembaga dapat dikaji kembali secara kritis. 5) agama melakukan fungsi identitas yang penting. 6) agama bersangkut paut dengan pertumbuhan dan kedewasaan individu dan perjalanan hidup melalui tingkat usia yang ditentukan oleh masyarakat.
“Pengalaman keagamaan” tentang Yang Suci, Yang Luar Biasa, dan Fenomena Kharisma dibahas dengan menggunakan karya dua sarjana klasik yakni Emile Durkheim dan Rudolf Otto. Durkheim menggolongkan semua pengalaman manusia kedalam dua kategori yang saling bertentangan yakni pengalaman yang suci dan profan. Pengalaman profan adalah dunia pengalaman rutin. Sedangkan yang suci itu lebih tinggi martabatnya dari yang profan. Durkheim juga menambahkan tujuh karakteristik, pertama yang suci itu sebagai aspek dari yang dialami, menyerukan suatu kepercayaan dan pengakuan pada kekuasaan atau kekuatan. Kedua, hal yang suci itu ditandai dengan kekaburan. Berfisik ganda yakni fisik dan moral, human dan kosmos, posotif dan negatif. Tiga karakteristik dari yang suci itu sesuai dengan pembahasan Durkheim bersifat non-utilitarian, non-empiris, dan tidak melibatkan pengetahuan. Menurut Durkheim ciri keenam ialah sifatnya yang mendukung dan memberi kekuatan. Kekuatan yang suci berfungsi untuk mempertahankan hidup.
Dalam buku The Idea of the Holy, Rudolf Otto berpendapat bahwa rasionalime telah mempengaruhi pemikiran keagamaan dengan menyurutkan hal yang kudus kepada aspek-aspek ketuhanan yang dapat dikonseptualisasikan dan dirumuskan secara ilmiah. Hal yang kudus merupakan sesuatu di luar konsepsi rasional dan etika. Dia menunjukkan hal itu dalam 3 bahasa yakni qadosh (Yahudi), ayios (Yunani), dan sanctus (Latin) menunjukkan pada inti terdalam yang riel (riel innermost core) dari semua agama. Yang Kudus adalah suatu kekuatan yang lebih tinggi.
Para pengamat lain juga seperti Van der Leeuw menitikberatkan kekuasaan dan timbulnya rasa kagum maupun aspek yang menarik yang terlarang pada hal yang suci itu.  Robert Lowie, mengartikan hal  yang suci itu sebagai sesuatu yang luar biasa bila dibandingkan dengan suasana yang biasa. Edmund Rochdieu berbicara tentang struktur sentimen keagamaan yang kompleks yang menyertai ketergantungan kepada hal yang suci. Yang suci itu menimbulkan perasaan yang secara simultan ditandai oleh teror dan daya tarik, ketakutan dan cinta serta horor dan pesona. Sedangkan Max Weber menamakan itu dengan kharisma. Kharisma memainkan dua peranan yakni sebagai hal yang luar biasa kharisma merupakan sumber kegoncangan dan pembaharuan. Dalam memperoleh pengikutnya dan dalam menimbulkan rasa hormat berasal dari sumber asli yang memberikan wewenang kepada seseorang. Tiga ciri khas dari kharisma yakni pertama kharisma adalah sesuatu yang luar biasa. Kedua ia bersifat kreatif dan ketiga ia dipandang sebagai the living God.
Edward Sapir dalam menganalisa agama dari segi manusia, menunjukkan bahwa hakikat agama harus ditemukan dalam usaha manusia yang tanpa akhir untuk menemukan jalan ketentraman spiritual ketika melintasi kebingungan dan bahwa dalam kehidupan sehari-hari. Agama adalah tanggapan manusia terhadap titik kritis dimana dia bersentuhan dengan kekuatan tertinggi dan sakral. Sedangkan Paul Tillich, menekankan sentralitas pertemuan dengan hal yang tertinggi dalam pengalaman keagamaan. Dia membandingkan cara dimana hal tertinggi itu ditemui dalam pengalaman filosofis dan intelektual serta dalam pengalaman keagamaan.
Menurut Martin Buber hubungan manusia dengan dunia tidak terbatas pada hubungan teknis; hubungan ini tidak hanya hubungan pembuat sesuatu dan manipulator kekuatan-kekuatan alam saja. George Simmel menunjukkan dalam agama mempunyai pemuas dan pemisahan unsur-unsur dari sikap dan hubungan  sehari-hari. Ilmu pengetahuan merupakan suatu penguat, pembaharu, suatu penyempurna dari metode-metode untuk mengetahui.  Sebagian dari manusia yang telah dibicarakan meyakinkan bahwa tanggapan keagamaan bukan merupakan satu-satunya kemungkinan tanggapan terhadap hal yang tertinggi (the ultimate). Mereka menunjukkan bahwa apa yang sebenarnya dihadapi pada situasi – akhir itu merupakan suatu kehampaan. Sementara manusia yang saleh mengesahkan  sebagai sesuatu yang lebih.
Organisasi agama tumbuh secara khusus semula berasal dari pengalaman keagamaan yang dialami oleh pendiri organisasi itu dan para pengikutnya. Organisasi yang khusus merupakan agama yang didirikan dan yang paling khas, berawal dari tokoh kharismatik dan sejumlah pengikut. Menurut Webber jika kharisma itu tidak tetap merupakan suatu fenomena transisi, tetapi bersifat hubungan permanen yang membentuk komunitas para penganut atau kelompok pengikut stabil. Evolusi agama yang baru didirikan merupakan suatu proses sosial yang kompleks, dimana rutinitas kharisma dan kesinambungan pengalaman keagamaan yang telah diselaraskan merupakan aspek yang penting. Disini agama Kristen bisa diketengahkan sebagai contoh. Masalah inti komunitas Kristen yang awal ini adalah perkumpulan yang berlangsung setiap hari (Kej 2;46;5;42) dan khususnya pada suatu hari, Hari Tuhan (1 Kor 16;2) dimana dilakukan upacara sembahyang. Disini perlu diperhatian dua hal, pertama hakikat hubungan ibadah Kristen yang awal : ia menegaskan hubungan dengan Yesus sebagai Kristus yang sudah bangkit. Kedua, pengikut yang baru, disamping melakukan berbagai macam hal, seperti berdoa dan membantu para anggotanya, dan walaupun para anggotanya masih berpartisipasi dalam ritual rumah suci Yahudi, terpusat pada ibadah kegiatan pemujaan.
Kompleks tanda-tanda, kata-kata dan sarana simbolis yang merupakan inti fenomena keagamaan yang dinamakan pemujaan (cult) ialah suatu ungkapan perasaan, sikap dan hubungan. Pemujaan mempunyai nilai misteri yang terkait dalam dirinya sehingga kita tidak dapat menalarkannya secara penuh. Walaupun pemujaan bermula sebagai ungkapan spontan, tetapi bahan-bahan tradisional dapat digunakan. Pelembagaan ritual, pemolaan kata-kata, isyarat dan prosedurnya dimaksudkan sebagai semacam rasa memiliki dan objektivitas sikap-sikap subyektif  dan spontan yang asli dari para pengikut. “Ritual mengungkapkan perasaan dalam arti logis ketimbang psikologis. Ia bisa memiliki apa yang oleh Aristoteles disebut sebagai nilai chatartic tetapi itu bukan merupakan ciri khasnya, ia semata-mata merupakan suatu artikulasi perasaan.”
Mitos merupakan bentuk pengungkapan intelektual yang primordial dari berbagai aspek sikap dan pengungkapan keagamaan. Mitos dianggap sebagai filsafat primitif, bentuk pengungkapan pemikiran yang paling sederhana. Cassirer menngatakan bahwa mitos berasal dari emosi dan latar belakang emosionalnya mengilhami semua hasilnya dengan warnanya yang khusus. Manusia primitif bukan kurang memiliki kesanggupan untuk memahami berbagai perbedaan empiris dari sesuatu. Tetapi dalam konsepsinya tentang alam dan kehidupan semua perbedaan ini dihilangkan oleh perasaan yang lebih kuat. Dalam mitos manusia menyatakan pemahamannya tentang apa yang disebut Stoics sebagai simpati keseluruhan dan bagian serta partisipasinya di dalam keseluruhan itu. Waktu mitos selalu saat sekarang, dan mitos menciptakan dan mengetengahkan kembali apa yang digambarkannya, ia mengaktualkan apa yang dikisahkannya.  
            Para pendiri agama maupun para pengikutnya serta para penganut baru sering datang dari berbagai latar-belakang sosial yang beragama. Durkheim menggunakan istilah anomi  untuk menunjukkan keadaan disorganisasi sosial di mana berbagai bentuk sosial dan kultur yang telah mapan ambruk. Dua aspek dari masalah tersebut ialah hilangnya solidaritas dan hilangnya konsensus (tumbangnya persetujuan).
            Menurut Troeltsch, gereja adalah sebuah lembaga yang telah dianugerahi kemuliaan dan keselamatan sebagai hasil karya penebusan; ia mampu menerima massa dan menyesuaikan dirinya dengan dunia. Sedangkan menurut dia sekte adalah suatu masyarakat suka rela, yang terdiri dari penganut Kristen yang terikat kuat satu sama lain oleh kenyatan bahwa mereka telah mengalami kelahiran yang baru. H. Richard Niebuhr, Liston Pope dan lainnya mempelajari perkembangan sekte bahwa sekte juga menghadapi masalah yang timbul dari anggota yang harus hidup dalam masyarakat umum. Dua sosiolog lainnya, Yinger dan Wilson memperlihatkan tidak semua sekte menyesuaikan diri dan dirutinkan dengan cara seperti itu. Sebagian mereka menjadi sekte yang mapan terlepas dari perubahan yang ada di dalam dirinya dan situasi, mereka tetap ada, sekalipun dengan berlalunya generasi sendiri. Ada sekte yang secara harafiah memisahkan diri dari masyarakat dan setelah mendapatkna daerah geografis yang terisolir, mereka membentuk suatu komunitas kecil mereka sendiri. Sedangkan sekte lainnya yang memisahkan diri namun masih tetap berada dalam masyarakat umum dan dapat dijumpai di masyarakat perkotaan. Tanggapan yang muncul atas hal ini adalah mistisisme. Mistisisme timbul bila dunia ide yang membentuk sistem keyakinan keagamaan telah mengeras menjadi bentuk ibadat dan doktrin formal. Hal tersebut seringkali merupakan suatu ungkapan protes dengan cara halus. Sementara berhubungan dengan Tuhan, bukan dengan pembaharuan, ia mengungkapkan keinginan untuk keluar dari bentuk ibadat yang telah mapan dan juga bentuk ide.
            Bagaimana hubungan stratifikasi internal organisasi keagamaan dengan stratifikasi masyarakat umum? Seluk beluk keterlibatan Gereja misalnya dalam masyarakat dan stratifikasi internal gereja dalam stratifikasi masyarakat dapat dilihat pada abad pertengahan. Masyarakat berkembang di sekitar dua fungsi penting yakni pembentukan dan pemeliharaan hukum dan peraturan sandang dan pangan. Didalam masyarakat abad pertengahan, gereja menjadi lembaga sentral dan paling berpengaruh. Sebagai lembaga keagamaan yang tertinggi gereja terkait dengan tujuan-tujuan dan nilai-nilai tertinggi. Menjelang akhir abad 11 situasi baru itu telah mengakibatkan konflik di kota-kota. Kelas-kelas baru berusaha  meningkatkan bagiannya dan memprotes kondisi yang ada di kota maupun di gereja. Gereja melibatkan diri dalam sistem feodal, yang pengurus atasnya sangat menekan kelas rendah. Dengan demikian dilihat mengenai masalah agama dan masalah sosial. Disatu pihak agama menyucikan posisi istimewa tatanan dan mapannya pemimpin, sedangkan dilain pihak menyediakan ideologi dan kepemimpinan.
            Mengenai hubungan agama dengan konflik, bila ditempatkan sejajar dengan enam fungsi positif agama dengan enam disfungsi yang berkaitan. Pertama, agama tidak fungsional kalau ia memberikan ketenangan emosional dan mempunyai peranan menumbuhkan rekonsiliasi. Kedua, dalam melaksanakan fungsi kependetaan, utama dalam kaitan yang transendental, agama bertugas mensucikan ide-ide tertentu dan sikap-sikap sektoral sampai pada satu jarak yang akan memungkinkan terhalangnya pengetahuan masyarakat akan lingkungannya dan dalam upaya manusia mengendalikan alam. Ketiga, dalam mensucikan norma dan nilai-nilai masyarakat agama akan tampil sebagai ciri yang abadi sebagai pembentuk. Keempat, fungsi risalat suatu fungsi yang begitu penting dalam agama alkitabiah dalam arti agama memberikan dasar dan legitimasi kritik dan oposisi pada tatanan yang telah mapan, telah merupakan sarana terpenting bagi pengembangan masyarakat demokratis barat. Kelima, sebagai fungsi identitas atau pengenal, agama menjadi objek loyalitas yang jadinya, merintangi perkembangan identitas baru yang lebih sesuai dengan situasi baru di mana manusia berada. Keenam, agama sering berperan mengembangkan ketergantungan pada lembaga keagamaan dan pemimpinnya ketimbang melembagakan kesanggupan untuk memikul tanggung jawab dan pengarahan diri individu.
            Dengan demikian agama tidak hanya sekedar faktor yang menyumbang bagi integrasi masyarakat. Ia dapat juga memisahkan suatu penyebab awal ketegangan dan konflik, suatu hambatan terhadap penyesuaian optimum, dan merupakan gangguan yang sedemikian rupa bagi reorganisasi yang secara optimal diperlukan. Agama dapat memberikan dukungan terhadap masyarakat dengan menghibur mereka yang kecewa karena tak terpuaskan, tetapi dengan proses yang sama ia dapat menghalangi penyesuaian dan perubahan yang diperlukan serta mengakibatkan masalah-masalah fungisonal yang gawat. Agama sebagai unsur penting dalam kebudayaan memberikan bentuk dan arah pada pikiran, perasaan dan tindakan manusia. Ia menyeimbangkan orientasi nilai, aspirasi, dan ego ideal manusia.  
2.                  Komentar Buku
Buku ini memang sesuai dengan judul kecilnya sebagai suatu pengenalan awal tentang agama yang berkembang dalam masyarakat. Bagaimana suatu kelompok, sekte dan organisasi bisa dilembagakan dengan disebut agama. Di dalam buku ini telah dipaparkan panjang lebar mengenai perkembangan sosiologi agama dari awal munculnya agama hingga menjadi satu lembaga yang jelas dan diterima umum. Banyak para ahli sosiolog umum maupun agama yang memberikan pandangan terhadap kelengkapan buku ini. Juga para antropolog yang semuanya berasal dari dunia Eropa. Sehingga buku ini memiliki isi yang padat. Karena memiliki informasi dari rujukan buku yang dapat berpengaruh dalam sosiologi agama. Tentu bagi para sosiolog masa kini, buku ini dapat membantu dalam memahami gejala kegamaan sekarang ini. Dimana terjadi ketidakseimbangan antara agama dan lembaga-lembaga lainnya. Agama sebagai tempat terjadinya kerukunan dan sumber moral kini telah diubah menjadi lembaga yang mementingkan kelompok agama itu saja, tanpa melihat kelompok lain sebagai gejala sosial yang harus diterima umum. Sekiranya buku ini menjadi referensi juga dalam memahami gejala yang timbul pada dunia sekarang ini.
 Bisa dikatakan diatas sebagai keunggulan dari buku tersebut. Karena telah memaparkan nilai-nilai yang terkandung dalam agama sehubungan dengan orientasi pada masyarakat umum. Namun, hal lain juga bisa dikatakan, bahwa relevansinya apa masih berguna untuk masyarkat sekarang ini? Ya, tentu dengan melihat kekurangan dalam buku ini. Buku ini ditulis berdasarkan perkembangan negara-negara Eropa yang tentu lebih menekankan Kekristenan sebagai contoh. Sehingga hampir tidak ada bagi agama-agama memiliki tempat yang sejajar dengan Kristen. Karena yang dirujuk adalah para sosiolog yang memang memiliki kepercayaan Kristen. Sehingga apakah memang tidak ada para sosiolog yang berasal dari agama lain? Sehingga bisa dikatakan buku ini merujuk pada agama Kristen semata. Kalau dirujuk juga dengan para ahli dari agama lain membuat buku ini semakin kompleks dan memiliki isi yang lebih baik dan berguna untuk kalangan umum.

Gereja Sidang Jemaat Allah



Penelitian Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA)
Pendahuluan
Tulisan ini merupakan hasil penelitian pada salah satu gereja di Manado yakni Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA). Pada paper ini akan dibahas dua pokok besar yakni pertama gambaran umum tentang Gereja Sidang Jemaat Allah. Pada bagian pertama ada beberapa bagian yang hendak diterangkan. Pertama, mengenai profil jemaat pada skala umum, seperti jumlah GSJA yang tersebar di Indonesia maupun di luar negeri, jumlah anggota jemaat secara keseluruhan, dan dimana saja jemaat ini tersebar khususnya di Indonesia. Kedua tentang struktur kepemimpinan utama jemaat. Dan ketiga tentang sejarah masuknya GSJA di Sulawesi Utara (Minahasa). Sedangkan besar kedua yakni mendeskripsikan salah satu jemaat khusus.
I.                   Deskripsi Umum Gereja Sidang Jemaat Allah
1.                  Apa itu Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) ?
Gereja Sidang Jemaat Allah adalah salah satu denominasi Gereja yang merupakan pecahan dari Gereja Pantekosta. GSJA sekarang ini memiliki sinode gereja yang mandiri. Karena itu di Indonesia GSJA telah bernaung di bawah Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).
Meskipun GSJA terlepas dari satu tubuh dengan Gereja Pantekosta, bukan berarti gereja ini memiliki umat yang sedikit. Tetapi lewat data-data yang diperoleh, GSJA merupakan denominasi Gereja Pantekosta yang memiliki jemaat terbanyak dibandingkan dengan pecahan Pantekosta lainnya (mengenai data jemaat ada pada bagian ketiga). Untuk lebih mengenal tentang GSJA maka hendaknya dilihat mengenai sejarah lahirnya GSJA pada bagian selanjutnya. 
2.                  Sejarah Gereja Sidang Jemaat Allah
GSJA didirikan pada tahun 1914 di Hot Springs, Arkansas, Amerika Serikat. Wakil dari 20 negara bagian dan beberapa dari negara asing berkumpul untuk membentuk sebuah persekutuan Pentakostal. Tujuan dari persekutuan ini adalah melindungi dan melestariakn hasil-hasil dari kebangunan yang terjadi atas ribuan orang yang percaya mengalami pembaptisan Roh Kudus di Azusa Street, Los Angeles, California.
Keberadaannya di Indonesia disebabkan olehnya hadirnya 3 keluarga Misionaris Amerika yang menjadi pioneer pelayanan GSJA di Indonesia yakni keluarga Kenneth dan Gladys Short, keluarga Ralph Mitchell dan Edna Lucy Devin serta keluarga Raymond dan Beryl Busby. Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah belum memiliki sebuah pelayanan resmi di Indonesia hingga tahun 1946, ketika Kenneth Goerge Short, Raymond Arthur Busby dan Ralph Mitchell Devin kembali ke Indonesia sebagai misionaris yang diutus oleh Division of Foreign Mission of the American General Council of the Assemblies of God.
Tahun 1934 Ralph Mitchell Devin bertobat setelah mendengar khotbah C.M. Ward di Bethel Temple, Seattle. Empat tahun kemudian, ia memutuskan untuk menjual bisnis furniture-nya di kota Seattle dan pergi ke Hindia Belanda sebagai misionaris swadana. Keluarga Devin melakukan pelayanan mereka di daerah Maluku. Segera sesudah tiba di Maluku, keluarga Devin mendirikan semacam kantor pusat kegiatan penginjilan di Ambon. Pada awalnya mereka bekerjasama dengan Job Silloy, seorang gembala dari De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie, namun hanya bertahan enam bulan lamanya karena ada perbedaan doktrin. Setelah berpisah dari Job Silloy, Ralph Devin memutuskan untuk mendirikan Bethel Indies Mission pada bulan September 1938. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 24 April 1940, organisasi ini mendapat pengakuan dari pemerintah Hindia Belanda. Devin menjadi Ketua dan Raymond Busby menjadi Wakil Ketua. Tahun 1939, keluarga Devin mengundang John Sung, seorang penginjil Karismatik dari daratan Tiongkok untuk datang memberitakan Injil dalam KKR di Ambon. Banyak orang bertobat dan mereka menjadi cikal bakal jemaat awal GSJA di Maluku. Saat pecahnya Perang Pasifik, aktivitas penginjilan keluarga Devin terpaksa dihentikan dan pada bulan Januari 1942 Devin membawa keluarganya keluar dari Hindia Belanda untuk kembali ke Amerika Serikat.
Kenneth Short mula-mula terpanggil untuk melayani di Borneo (Kalimatan). Pada tahun 1936 ia tiba di Banjarmasin, salah satu kota besar di pulau tersebut. Ia memberitakan Injil di sebuah kawasan di tepi Sungai Kahayan yang dikenal dengan nama Pulau Pisang. Di sinilah ia mendapatkan buah sulung pelayanannya ketika terjadi mujizat Tuhan yang menyembuhkan seorang yang buta. Kakak dari orang buta yang disembuhkan tersebut, bernama Saridjan, merupakan penduduk asli daerah Sungai Kahayan pertama yang percaya kepada Kristus. Berikutnya adalah keluarganya dan beberapa orang lainnya. Ketika pecah PD II, demi alasan keamanan, Kenneth Short membawa keluarganya kembali ke Amerika Serikat.
Sedangkan untuk sejarah masuknya GSJA di Minahasa kurang memiliki sumber-sumber yang memadai. Dari wawancara yang dilakukan dengan seorang staf di gereja Assembling of God Wanea, dikatakan bahwa para pendeta dari jawa yang datang dan mendirikan gereja tersebut di Minahasa. Namun, demikian GSJA yang ada di Minahasa khusunya di Wanea tersebut merupakan salah satu GSJA yang tertua yang berdiri di Minahasa. Sekarang ini ada beberapa gereja yang masih dipegang oleh orang-orang yang berasal dari luar Minahasa karena memang mereka yang membawanya. Sedangkan di Wanea, telah memiliki pendeta yang berasal dari Minahasa sendiri yakni Supit.
3.                  Pengakuan Iman  (Pokok Ajaran)
Pada saat wawancara dengan staf di Gereja Sidang Jemaat Allah Tanjung Batu Wanea-Samrat, ibu Novi tidak berpikir macam-macam. Malahan bagi dia hal tersebut adalah sesuatu yang sangat baik. Karena menurut dia, hendaknya Gereja bukan anggota mereka juga harus tahu mengenai Gereja mereka. Sebab, mereka bukan Gereja yang sesat, yang mengajarkan jalan yang sesat bagi jemaatnya. Oleh karena itu dia berkata bahwa GSJA berpegan teguh pada ajaran Kitab Suci. Sehingga dasar bagi kehidupan jemaat adalah Firman Allah.
Maka dari itu, dapat diberikan beberapa unsur yang terkandung dalam ajaran atau pengakuan iman mereka. GSJA yang mendasarkan segala ajaran pada Kitab Suci. Beberapa unsur tersebut ialah:
a.       Alkitab adalah firman Allah yang diilhamkan dan tanpa salah; satu-satunya kaidah yang mutlak dan berwenang bagi ian dan perilaku manusia.
b.      Allah adalah Esa, hadir secara kekal dalam tiga oknum: Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Ro Kudus.
c.       Tuhan Yesus Kristus: Ilahi adanya, lahir dari seorang anak dara, hidup tanpa dosa, melakukan mujizat, menebus manusia yang berdosa melalui kematianNya, bangkit secara badani, bangkit ke Sorga dan dimuliakan di sebelah kanan Allah Bapa, akan datang kembali ke bumi dalam kuasa dan kemuliaan untuk memerintah dalam Kerajaan Seribu Tahun.
d.      Oleh pelanggaran satu orang (Adam) dosa telah masuk ke dalam dunia, dan maut oleh sebab dosa; demikianlah maut telah menimpa semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
e.       Keampunan dan penyucian dari dosa hanyalah melalui pertobatan dan iman kepada kuasa penyucian darah Yesus
f.       Pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus mutlak perlu bagi keselamatan seseorang.
g.      Karya penebusan Kristus di atas kayu salib menyediakan kesembuhan bagi tubuh manusia melalui doa dan iman.
h.      Pengudusan dikerjakan oleh Roh Kudus yang mendiami orang percaya
i.        Baptisan Roh Kudus menurut Kisah Para Rasul 2:4 dikaruniakan kepada orang beriman yang memohon kepada Allah.
j.        Pengangkatan Gereja pada waktu kedatangan Kristus di awan-awan merupakan pengharapan yang bahagia bagi orang-orang percaya
k.      Kebangkitan tubuh bagi orang-orang percaya maupun yang tidak percaya; yang pertama akan menerima hidup yang kekal dan yang kedua untuk menerima hukuman.
4.                  Jumlah Jemaat (Gereja)
Bagian pertama ini akan dijelaskan mengenai jumlah jemaat secara umum. Jumlah jemaat secara umum ini bukan hanya di Sulawesi Utara tapi seluruh Indonesia bahkan dari luar negeri dimana jemaat GSJA itu berdiri. Atau kalau lebih dimengerti tentang jumlah bangunan gereja yang tersebar di seluruh dunia.
Gereja Sidang Jemaat Allah adalah bagian dari Persekutuan Assemblies of God in the World (WAGF) yang adalah denominasi Pentakosta terbesar di dunia. Untuk jumlah jemaat keseluruhan dapat dilihat pada tabel I di bawah ini.
Tabel I. Data Jumlah Jemaat GSJA di Dunia Tahun 2011
Jumlah
Negara
Gereja
Jemaat
Para pelayanan Injil
140 Negara
320.000 gereja
65 Juta jemaat
344.092 orang

Data ini merupakan hasil yang dihasilkan pada bulan Februari 2011. Dalam pertemuan Persekutuan Gereja Sidang Jemaat Allah di dunia yang dilaksanakan di Chennai, India. 140 negara itu tersebar di Afrika, Asia Pasifik, Eurasia, Eropa, Amerika, Amerika Latin, Karibia dan Asia bagian Utara.
Dari Amerika sendiri jemaat ssekitar 2,2 juta anggota jemaat. Sedangkan di Indonesia terdapat beberapa provinsi atau kabupaten dimana GSJA ini berada. Di Indonesia misalnya tersebar di. Sedangkan di Sulut tersebar di /.....
Sedangkan di Indonesia, data mengenai jumlah jemaat GSJA dapat dilihat pada Tabel II.
Provinsi
Jumlah Gereja
Jumlah Jemaat
Jumlah Pelayan Injil





Sedangkan di Sulut, jemaat GSJA tersebar di beberapa daerah seperti yang tertera pada Tabel III, dibawah ini

5.                  Struktur Kepemimpinan utama Jemaat
Gereja Sidang Jemaat Allah tidak sama dengan Katolik yang berada dibawah naungan bapak Paus. Layaknya Gereja Kristen lain, GSJA memiliki pemimpin-pemimpin di tiap wilayah negara atau provinsi maupun kabupaten atau kota. Kepemimpinan utama dipegang oleh salah satu Pendeta yang berdomisili di salah satu wilaya tersebut. Misalnya di Sulut, kepemimpinan utama GSJA sendiri. Sehingga dari para pemimpin utama ditiap wilayah inilah yang menjadi pengubung dengan para pemimpin utama lainnya yang berada di wilayah lain.
Lebih lanjut diterangkan bahwa GSJA di Indonesia mengambil gabungan antara bentuk Sinodal atau Presbyterian dan bentuk Kongregasional. Pada bentuk Sinodal ada beberapa ciri-ciri yakni :
1.      Terjadi pengangkatan seorang pendeta oleh sebuah otoritas organisasi di atasnya.
2.      Organisasi dapat memindahkan dan memberhentikan pendeta melalui jalu BPP – BPD
3.      Adanya gereja berstatus Madya dan Pratama yang berada dibawah otoritas Badan Pengurus Daerah
Sedangkan pada bentuk Kongregasional, ada beberapa ciri-ciri yakni :
1.      Adanya gereja lokal berstatus pembina yag memiliki otoritas yang kuat di mana gereja lokal menyokong dan memilih pendetanya dan menjalankan pemerintahannya sendiri berdasarkan Peraturan Rumah Tangga mereka
2.      Adanya Majelis Gereja yang menjadi otoritas dalam Gereja

Struktur kepemimpinan utama yang di teliti disini adalah kepemimpinan utama yang ada di Sulawesi Utara. Dalam rapat daerah Sulut I tanggal yang dilaksanakan antara tanggal 25-27 Februari 2013 telah terpilih Badan Pengurus Daerah (BPD) untuk periode 2013-2016 dengan komposisi sebagai berikut:
Ketua                          : Pdt. J. A. Supit
Wk. Ketua                   : Pdt. M. Wololi
Sekretaris                    : Pdt. L. Kumayas
Bendahara                   : Pdt. Ruth Kaeng
Komisaris                    : Pdt. J. Timbuleng
           
            Di Indonesia, dalam sistem kelembagaan gereja, GSJA memiliki satu badan khusus yang menangani karya pewartaan injil. Itulah Departemen. Tujuannya ialah memberitakan Injil dan mendirikan Sidang Jemaat Allah berdasarkan Alkitab. Kalau ditinjau lebih jauh, adanya departemen ini untuk mengatasi masa depan dan perkembangan yang harus dicapai. Maka dari itu, dalam wilayah ini, GSJA memiliki departemenk misi. Dimana, departemen misi ini memiliki jangkauan kedepan yang strategis bagaimana menciptakan satu jemaat pada tahun-tahun kedepan.
            Departemen misi tertuang dalam Sasaran Nasional (Sarnas). Dimana ada beberapa pokok yang harus dikembangkan. Sasaran nasional tahun 2011 – 2016 ialah 80 gereja kota, 500 gereja non kota dan 5000 K.K.A. Adapun tahapan kerjanya ialah :


2012
2013
2014
2015
2016
?
Gereja Kota
10
15
20
25
10
?
Gereja Non-Kota (Unreached People)
100
(3)
100
(3)
100
(3)
100
(3)
100
(3)
?
K.K.A.
1000
1000
1000
1000
1000

            Sasaran nasional ini terbagi dalam tiga bagian karya misi yakni Departemen Msi Indonesia Timur (DMIT), Misi Indonesia Tengah (DMITA), dan Misi Indonesia Barat (DMITB). Maka dari itu akan dilihat satu-persatu dari misi-misi tersebut.
a.       DMIT
Tujuan dari Misi Indonesia Timur ini ialah untuk mencapai sasaran nasional. Bekerja sama dengan Gereja mentor dan difasilitasi BPD. Untuk membuka 2 gereja perkotaan, 30 gereja non-perkotaan, 300 KKA dan 1 unreached people. DMIT fokus sebagai motivator, fasilitator, equipper dan capacity builder.
Adapun rencana perintisan untuk Gereja non-perkotaan ialah di Maluku 7 buah, NTT 10 buah, Bali dan NTB 3 buah, Papua 5 buah dan Papua barat 5 buah.
Untuk mencapai misi tersebut, ada langkah-langkah yang dilaksanakan yakni :
1.      Membangun hubungan dengan Gembala-gembala dari gereja-gereja potensial, melalui:
·         Surat penggembalaan BPP
·         Event Hari Misi Januari 2013
·         Presentasi di Event Rakerda di 5 BPD yang ada
·         Melakukan berbagai pendekatan pribadi
·         Daftar lengkao kota/lokal? Dimana gereja kota dan non-kota dibuka
·         Perintis dan program magang di persiapkan
·         Kelanjutan dari Mentoring gereja-gereja baru tersebut
·         Ditemukan sumber-sumber pendanaan.
2.      Membagi fokus kerja Staf DMIT
Sedangkan untuk pembagian target mengembangkan 300 KKA, langkah-langkah strategisnya ialah:
·         Mengutus 3 Kabid KKA dari tiga wilayah bersama stafnya untuk mengikuti paket Training KKA
·         Merumuskan model yang akan di sosialisasikan
·         Mengadakan training KKA ke setiap daerah.
Demikianlah, misi yang akan menjadi sasaran yang harus mereka penuhi. Dapat dikatakan bahwa mereka juga memiliki para misioner di jaman sekarang ini. Sehingga mereka terus berkembang dan maju seperti gereja-gereja lainnya.
b.      DMITA
Misi ini berlaku untuk wilayah yang berada di Indonesia Tengah. Ada 10 area kerja yang menjadi objek misi penyebaran dan perluasan gereja. Daerah-daerah itu ialah Jatim 1, Jatim 2, Kalbar, Kalteng 1, Kalteng 2 dan Kalsel, Kaltim, Sulselbatra, Sulteng, Sulut 1 dan Sulut 2.
Adapun perintisan Gereja Kota tertera pada tabel dibawah ini :

KOTA
CALON PERINTIS
CALON MENTOR
1.
Kuala Pembuang(Kalteng 1)
Pdt Libya Apriyono
Pdt Sundjaya Wijaya(GSJA Sungai Kehidupan)
2.
Pontianak(Kalbar)
Bpk JonatahanBpk. Tan A Chuan
Pdt Yulius Aleng(GSJA Charismata)
3.
Samarinda
Sdr Syarif Semaeli(Mahasiswa Sati)
Pdt Sundjaya Wijaya(GSJA Sungai Kehidupan)
4.
Kraksaan (Jatim 1)
Sdr Agus Setiawan(Mahasiswa Sati)
BPD Jatim 1
5.
Bolang Mongondow
Pdt Clarke Wowor
BPD Sulut 1

Kota-kota lain juga yang menjadi sasaran misi yakni Ratahan (Sulut 2), Tomohon (Sulut 2). Selain itu juga ada perkembangan gereja baru yang berkembang di Indonesia khususnya di Jawa yakni :
1.      GSJA Ebenhaezer, Surabaya
2.      ICA, Surabaya
3.      GSJA Maranatha, Malang
4.      GSJA Maranatha, Batu
5.      GSJA Ponorogo
6.      GSJA air hidup, Madiun
7.      GSJA Nganjuk
8.      GSJA Kediri
9.      GSJA Kharismatik, Tulung Agung
10.  GSJA Sungai Kehidupan, Surabaya.
Demikianlah sasaran yang akan dicapai oleh GSJA di Indonesia. Dengan misi mengembangkan GSJA di daerah Indonesia Tengah.
c.        




II.                DESKRIPSI KHUSUS GEREJA SIDANG JEMAAT ALLAH
Setelah bagian pertama berbicara banyak tentang hal-hal umum tentang GSJA. Maka pada bagian atau pokok pembahasan yang kedua ini, akan dijelaskan tentang salah satu jemaat GSJA yang ada di Minahasa. Jemaat yang menjadi objek penelitian yakni jemaat (Gereja) GSJA yang ada di Kelurahan Wanea-Samrat yakni GSJA Tanjung Batu.
1.                  Gereja Sidang Jemaat Allah Tanjung Batu, Wanea-Samrat
Gereja ini terletak di jalan raya Wanea-Samrat. Gereja yang bersebrangan dengan Pom bensin, kalau dari arah terminal Karombasan, gereja ini terletak di sebelah kiri. Bangunan gereja agak tua, dilihat dari warna catnya yang sudah tidak cerah lagi. Meskipun demikian, gereja ini merupakan gereja kota, karena terletak di kota Manado. Dan pula Pendeta kepala gereja ini adalah ketua BPD Sulut. Sehingga gereja ini bisa dikatakan sebagai pusat dari GSJA yang ada di Sulut.
Pada bagian khusus ini, pokok-pokok yang akan dibahas lebih kepada orang-orang dan praktek yang dilaksanakan dalam gereja. Sehingga tidak terpusat pada bangunan tua gereja tersebut. 
2.                   
III.