Pertimbangan Buku
Dari
Buku Karangan Thomas. F. O. Dea,
Sosiologi Agama; suatu pengenalan awal. Jakarta: Rajawali Press. 1987.
1.
Isi
Buku
Buku
yang berjudul Sosiologi Agama; suatu
pengenalan awal yang ditulis
oleh Thomas. F. O. Dea tersebut terdiri
dari enam bab dan jumlah halaman 225. Setiap bab memiliki pokok masing-masing
dan sub pokok yang mendukung.
Agama
dan Masyarakat dalam pendekatan kaum fungsionalisme. Agama tentu tak bisa
dipisahkan dari masyarakat. Karena masyarakat adalah suatu realitas yang
menjadi pelaku keagamaan tersebut. Agama yang menyangkut kepercayaan serta
berbagai prakteknya, benar-benar merupakan masalah sosial dan sampai saat ini
masih ditemukan dalam setiap masyarakat. Dalam masyarakat yang sudah mapan,
agama merupakan salah satu struktur institusional yang penting dalam melengkapi
seluruh sistem sosial. Namun masalah agama berbeda dengan masalah pemerintahan
dan hukum. Perbandingan antara aktivitas keagamaan dan aktivitas yang lain
mempunyai kepentingan yang sama. Agama menjadi ciri-ciri dari pemersatu
aspirasi manusia yang paling sublim. Seperti moralitas dan sumber tatanan
masyarakat dan perdamaian batin individu.
Emile
Durkheim seorang pelopor sosiologi agama di Prancis mengatakan bahwa agama
merupakan sumber semua kebudayaan yang sangat tinggi, sedangkan Marx mengatakan
bahwa agama adalah candu bagi manusia. Dalam hubungan dengan teori
fungsionalisme dapat dikatakan sosiologi agama dipengaruhi juga oleh teori ini.
Teori ini memandang masyarakat sebagai suatu lembaga sosial yang berada dalam keseimbangan; yang memolakan
kegiatan-keigatan manusia dalam norma-norma yang dianut bersama. Kebudayaan
merupakan suatu sistem makna-makna simbolis yang sebagian diantaranya menentukan
realitas sebagaimana diyakini dan yang sebagian lain menentukan harapan-harapan
normatif yang dibebankan kepada manusia. Kebudayaan bagi manusia merupakan
kreasi dunia penyesuaian dan kemaknaan dalam konteks mana kehidupan manusia
dapat dijalankan dengan penuh arti. Teori fungsionalisme melihat manusia dalam
masyarakat sebagai ditandai oleh dua tipe kebutuhan dan dua jenis kecenderungan
bertindak. Selama kebutuhan itu mendapatkan pengungkapan dan jalan keluar maka
jawaban terhadap teori fungsionalisme bahwa agama mempunyai fungsi dan bahkan
memerankan sejumlah fungsi. Dari sudut pandang fungsionalisme agama telah
dibatasi sebagai pendayagunaan sarana non-empiris atau supra-empiris untuk
maksud-maksud non-empiris.
Fungsi
agama dan magis, dalam membedakannya, Malinowski menganggap magis mempunyai
tujuan dan dalam pengejaran tujuan itu upacara magis dilakukan. Ritus keagaaman
mengungkapkan perasaan semua orang yang melibatkan diri. Sedang dalam kegiatan
magis tujuan serta prinsip yang mendasarinya selalu jelas dan lurus dan pasti.
Sedangkan dalam upacara keagamaan tidak terdapat tujuan yang diarahkan kepada
peristiwa yang akan terjadi. Dalam agama dan magis, ritus menunjukkan dua ciri
khas. Pertama, membangkitkan kembali situasi awal dengan memunculkan dan
katarsis perasaan yang tepat. Kedua, mengalihkan perhatian dari beberapa aspek
lainnya.
Dari
teori fungsional dapat menyebutkan enam fungsi dari agama. 1) agama mendasarkan
perhatiannya pada sesuatu yang di luar jangkuan manusia yang melibatkan takdir
dan kesejahteraan. 2) agama menawarkan suatu hubungan transendental melalui
pemujaan dan upacara ibadar, karena itu memberikan dasar emosionala bagi rasa
aman baru dan identitas yang lebih kuat ditengah ketidakpastian dan
ketidakmungkinan kondisi manusia dan arus serta perubahan sejarah. 3) agama
mencuilkan norma-norma dan nilai masyarakat yang telah terbentuk,
mempertahankan dominasi tujuan kelompok di atas keinginan individu dan disiplin
kelompok. 4) agama dapat memberikan standar nilai dalam arti dimana norma-norma
yang telah terlembaga dapat dikaji kembali secara kritis. 5) agama melakukan
fungsi identitas yang penting. 6) agama bersangkut paut dengan pertumbuhan dan
kedewasaan individu dan perjalanan hidup melalui tingkat usia yang ditentukan
oleh masyarakat.
“Pengalaman
keagamaan” tentang Yang Suci, Yang Luar Biasa, dan Fenomena Kharisma dibahas
dengan menggunakan karya dua sarjana klasik yakni Emile Durkheim dan Rudolf
Otto. Durkheim menggolongkan semua pengalaman manusia kedalam dua kategori yang
saling bertentangan yakni pengalaman yang suci dan profan. Pengalaman profan
adalah dunia pengalaman rutin. Sedangkan yang suci itu lebih tinggi martabatnya
dari yang profan. Durkheim juga menambahkan tujuh karakteristik, pertama yang
suci itu sebagai aspek dari yang dialami, menyerukan suatu kepercayaan dan
pengakuan pada kekuasaan atau kekuatan. Kedua, hal yang suci itu ditandai
dengan kekaburan. Berfisik ganda yakni fisik dan moral, human dan kosmos,
posotif dan negatif. Tiga karakteristik dari yang suci itu sesuai dengan
pembahasan Durkheim bersifat non-utilitarian,
non-empiris, dan tidak melibatkan
pengetahuan. Menurut Durkheim ciri keenam ialah sifatnya yang mendukung dan
memberi kekuatan. Kekuatan yang suci berfungsi untuk mempertahankan hidup.
Dalam
buku The Idea of the Holy, Rudolf
Otto berpendapat bahwa rasionalime telah mempengaruhi pemikiran keagamaan
dengan menyurutkan hal yang kudus kepada aspek-aspek ketuhanan yang dapat
dikonseptualisasikan dan dirumuskan secara ilmiah. Hal yang kudus merupakan
sesuatu di luar konsepsi rasional dan etika. Dia menunjukkan hal itu dalam 3
bahasa yakni qadosh (Yahudi), ayios (Yunani), dan sanctus (Latin) menunjukkan pada inti terdalam yang riel (riel
innermost core) dari semua agama. Yang Kudus adalah suatu kekuatan yang lebih
tinggi.
Para
pengamat lain juga seperti Van der Leeuw menitikberatkan kekuasaan dan
timbulnya rasa kagum maupun aspek yang menarik yang terlarang pada hal yang
suci itu. Robert Lowie, mengartikan
hal yang suci itu sebagai sesuatu yang
luar biasa bila dibandingkan dengan suasana yang biasa. Edmund Rochdieu
berbicara tentang struktur sentimen keagamaan yang kompleks yang menyertai
ketergantungan kepada hal yang suci. Yang suci itu menimbulkan perasaan yang
secara simultan ditandai oleh teror dan daya tarik, ketakutan dan cinta serta
horor dan pesona. Sedangkan Max Weber menamakan itu dengan kharisma. Kharisma
memainkan dua peranan yakni sebagai hal yang luar biasa kharisma merupakan
sumber kegoncangan dan pembaharuan. Dalam memperoleh pengikutnya dan dalam
menimbulkan rasa hormat berasal dari sumber asli yang memberikan wewenang
kepada seseorang. Tiga ciri khas dari kharisma yakni pertama kharisma adalah
sesuatu yang luar biasa. Kedua ia bersifat kreatif dan ketiga ia dipandang
sebagai the living God.
Edward
Sapir dalam menganalisa agama dari segi manusia, menunjukkan bahwa hakikat
agama harus ditemukan dalam usaha manusia yang tanpa akhir untuk menemukan
jalan ketentraman spiritual ketika melintasi kebingungan dan bahwa dalam
kehidupan sehari-hari. Agama adalah tanggapan manusia terhadap titik kritis
dimana dia bersentuhan dengan kekuatan tertinggi dan sakral. Sedangkan Paul
Tillich, menekankan sentralitas pertemuan dengan hal yang tertinggi dalam
pengalaman keagamaan. Dia membandingkan cara dimana hal tertinggi itu ditemui
dalam pengalaman filosofis dan intelektual serta dalam pengalaman keagamaan.
Menurut
Martin Buber hubungan manusia dengan dunia tidak terbatas pada hubungan teknis;
hubungan ini tidak hanya hubungan pembuat sesuatu dan manipulator kekuatan-kekuatan
alam saja. George Simmel menunjukkan dalam agama mempunyai pemuas dan pemisahan
unsur-unsur dari sikap dan hubungan
sehari-hari. Ilmu pengetahuan merupakan suatu penguat, pembaharu, suatu
penyempurna dari metode-metode untuk mengetahui. Sebagian dari manusia yang telah dibicarakan
meyakinkan bahwa tanggapan keagamaan bukan merupakan satu-satunya kemungkinan
tanggapan terhadap hal yang tertinggi (the ultimate). Mereka menunjukkan bahwa
apa yang sebenarnya dihadapi pada situasi – akhir itu merupakan suatu
kehampaan. Sementara manusia yang saleh mengesahkan sebagai sesuatu yang lebih.
Organisasi
agama tumbuh secara khusus semula berasal dari pengalaman keagamaan yang
dialami oleh pendiri organisasi itu dan para pengikutnya. Organisasi yang khusus
merupakan agama yang didirikan dan yang paling khas, berawal dari tokoh
kharismatik dan sejumlah pengikut. Menurut Webber jika kharisma itu tidak tetap
merupakan suatu fenomena transisi, tetapi bersifat hubungan permanen yang
membentuk komunitas para penganut atau kelompok pengikut stabil. Evolusi agama
yang baru didirikan merupakan suatu proses sosial yang kompleks, dimana
rutinitas kharisma dan kesinambungan pengalaman keagamaan yang telah
diselaraskan merupakan aspek yang penting. Disini agama Kristen bisa
diketengahkan sebagai contoh. Masalah inti komunitas Kristen yang awal ini
adalah perkumpulan yang berlangsung setiap hari (Kej 2;46;5;42) dan khususnya
pada suatu hari, Hari Tuhan (1 Kor 16;2) dimana dilakukan upacara sembahyang.
Disini perlu diperhatian dua hal, pertama hakikat hubungan ibadah Kristen yang
awal : ia menegaskan hubungan dengan Yesus sebagai Kristus yang sudah bangkit.
Kedua, pengikut yang baru, disamping melakukan berbagai macam hal, seperti
berdoa dan membantu para anggotanya, dan walaupun para anggotanya masih
berpartisipasi dalam ritual rumah suci Yahudi, terpusat pada ibadah kegiatan
pemujaan.
Kompleks
tanda-tanda, kata-kata dan sarana simbolis yang merupakan inti fenomena
keagamaan yang dinamakan pemujaan (cult) ialah suatu ungkapan perasaan, sikap
dan hubungan. Pemujaan mempunyai nilai misteri yang terkait dalam dirinya
sehingga kita tidak dapat menalarkannya secara penuh. Walaupun pemujaan bermula
sebagai ungkapan spontan, tetapi bahan-bahan tradisional dapat digunakan. Pelembagaan
ritual, pemolaan kata-kata, isyarat dan prosedurnya dimaksudkan sebagai semacam
rasa memiliki dan objektivitas sikap-sikap subyektif dan spontan yang asli dari para pengikut.
“Ritual mengungkapkan perasaan dalam arti logis ketimbang psikologis. Ia bisa
memiliki apa yang oleh Aristoteles disebut sebagai nilai chatartic tetapi itu
bukan merupakan ciri khasnya, ia semata-mata merupakan suatu artikulasi
perasaan.”
Mitos
merupakan bentuk pengungkapan intelektual yang primordial dari berbagai aspek
sikap dan pengungkapan keagamaan. Mitos dianggap sebagai filsafat primitif,
bentuk pengungkapan pemikiran yang paling sederhana. Cassirer menngatakan bahwa
mitos berasal dari emosi dan latar belakang emosionalnya mengilhami semua
hasilnya dengan warnanya yang khusus. Manusia primitif bukan kurang memiliki
kesanggupan untuk memahami berbagai perbedaan empiris dari sesuatu. Tetapi
dalam konsepsinya tentang alam dan kehidupan semua perbedaan ini dihilangkan
oleh perasaan yang lebih kuat. Dalam mitos manusia menyatakan pemahamannya
tentang apa yang disebut Stoics sebagai simpati keseluruhan dan bagian serta
partisipasinya di dalam keseluruhan itu. Waktu mitos selalu saat sekarang, dan
mitos menciptakan dan mengetengahkan kembali apa yang digambarkannya, ia
mengaktualkan apa yang dikisahkannya.
Para pendiri agama
maupun para pengikutnya serta para penganut baru sering datang dari berbagai
latar-belakang sosial yang beragama. Durkheim menggunakan istilah anomi untuk menunjukkan keadaan disorganisasi sosial
di mana berbagai bentuk sosial dan kultur yang telah mapan ambruk. Dua aspek
dari masalah tersebut ialah hilangnya solidaritas dan hilangnya konsensus
(tumbangnya persetujuan).
Menurut Troeltsch, gereja adalah
sebuah lembaga yang telah dianugerahi kemuliaan dan keselamatan sebagai hasil
karya penebusan; ia mampu menerima massa dan menyesuaikan dirinya dengan dunia.
Sedangkan menurut dia sekte adalah suatu masyarakat suka rela, yang terdiri
dari penganut Kristen yang terikat kuat satu sama lain oleh kenyatan bahwa mereka
telah mengalami kelahiran yang baru. H. Richard Niebuhr, Liston Pope dan
lainnya mempelajari perkembangan sekte bahwa sekte juga menghadapi masalah yang
timbul dari anggota yang harus hidup dalam masyarakat umum. Dua sosiolog
lainnya, Yinger dan Wilson memperlihatkan tidak semua sekte menyesuaikan diri
dan dirutinkan dengan cara seperti itu. Sebagian mereka menjadi sekte yang
mapan terlepas dari perubahan yang ada di dalam dirinya dan situasi, mereka
tetap ada, sekalipun dengan berlalunya generasi sendiri. Ada sekte yang secara
harafiah memisahkan diri dari masyarakat dan setelah mendapatkna daerah
geografis yang terisolir, mereka membentuk suatu komunitas kecil mereka
sendiri. Sedangkan sekte lainnya yang memisahkan diri namun masih tetap berada
dalam masyarakat umum dan dapat dijumpai di masyarakat perkotaan. Tanggapan
yang muncul atas hal ini adalah mistisisme.
Mistisisme timbul bila dunia ide yang membentuk sistem keyakinan keagamaan
telah mengeras menjadi bentuk ibadat dan doktrin formal. Hal tersebut seringkali
merupakan suatu ungkapan protes dengan cara halus. Sementara berhubungan dengan
Tuhan, bukan dengan pembaharuan, ia mengungkapkan keinginan untuk keluar dari
bentuk ibadat yang telah mapan dan juga bentuk ide.
Bagaimana hubungan stratifikasi
internal organisasi keagamaan dengan stratifikasi masyarakat umum? Seluk beluk
keterlibatan Gereja misalnya dalam masyarakat dan stratifikasi internal gereja
dalam stratifikasi masyarakat dapat dilihat pada abad pertengahan. Masyarakat
berkembang di sekitar dua fungsi penting yakni pembentukan dan pemeliharaan
hukum dan peraturan sandang dan pangan. Didalam masyarakat abad pertengahan,
gereja menjadi lembaga sentral dan paling berpengaruh. Sebagai lembaga
keagamaan yang tertinggi gereja terkait dengan tujuan-tujuan dan nilai-nilai
tertinggi. Menjelang akhir abad 11 situasi baru itu telah mengakibatkan konflik
di kota-kota. Kelas-kelas baru berusaha
meningkatkan bagiannya dan memprotes kondisi yang ada di kota maupun di
gereja. Gereja melibatkan diri dalam sistem feodal, yang pengurus atasnya
sangat menekan kelas rendah. Dengan demikian dilihat mengenai masalah agama dan
masalah sosial. Disatu pihak agama menyucikan posisi istimewa tatanan dan
mapannya pemimpin, sedangkan dilain pihak menyediakan ideologi dan
kepemimpinan.
Mengenai hubungan agama dengan konflik,
bila ditempatkan sejajar dengan enam fungsi positif agama dengan enam disfungsi
yang berkaitan. Pertama, agama tidak fungsional kalau ia memberikan ketenangan
emosional dan mempunyai peranan menumbuhkan rekonsiliasi. Kedua, dalam
melaksanakan fungsi kependetaan, utama dalam kaitan yang transendental, agama
bertugas mensucikan ide-ide tertentu dan sikap-sikap sektoral sampai pada satu
jarak yang akan memungkinkan terhalangnya pengetahuan masyarakat akan
lingkungannya dan dalam upaya manusia mengendalikan alam. Ketiga, dalam
mensucikan norma dan nilai-nilai masyarakat agama akan tampil sebagai ciri yang
abadi sebagai pembentuk. Keempat, fungsi risalat suatu fungsi yang begitu
penting dalam agama alkitabiah dalam arti agama memberikan dasar dan legitimasi
kritik dan oposisi pada tatanan yang telah mapan, telah merupakan sarana
terpenting bagi pengembangan masyarakat demokratis barat. Kelima, sebagai
fungsi identitas atau pengenal, agama menjadi objek loyalitas yang jadinya,
merintangi perkembangan identitas baru yang lebih sesuai dengan situasi baru di
mana manusia berada. Keenam, agama sering berperan mengembangkan ketergantungan
pada lembaga keagamaan dan pemimpinnya ketimbang melembagakan kesanggupan untuk
memikul tanggung jawab dan pengarahan diri individu.
Dengan demikian agama tidak hanya
sekedar faktor yang menyumbang bagi integrasi masyarakat. Ia dapat juga
memisahkan suatu penyebab awal ketegangan dan konflik, suatu hambatan terhadap
penyesuaian optimum, dan merupakan gangguan yang sedemikian rupa bagi
reorganisasi yang secara optimal diperlukan. Agama dapat memberikan dukungan
terhadap masyarakat dengan menghibur mereka yang kecewa karena tak terpuaskan,
tetapi dengan proses yang sama ia dapat menghalangi penyesuaian dan perubahan
yang diperlukan serta mengakibatkan masalah-masalah fungisonal yang gawat.
Agama sebagai unsur penting dalam kebudayaan memberikan bentuk dan arah pada pikiran,
perasaan dan tindakan manusia. Ia menyeimbangkan orientasi nilai, aspirasi, dan
ego ideal manusia.
2.
Komentar
Buku
Buku
ini memang sesuai dengan judul kecilnya sebagai suatu pengenalan awal tentang
agama yang berkembang dalam masyarakat. Bagaimana suatu kelompok, sekte dan organisasi
bisa dilembagakan dengan disebut agama. Di dalam buku ini telah dipaparkan
panjang lebar mengenai perkembangan sosiologi agama dari awal munculnya agama
hingga menjadi satu lembaga yang jelas dan diterima umum. Banyak para ahli
sosiolog umum maupun agama yang memberikan pandangan terhadap kelengkapan buku
ini. Juga para antropolog yang semuanya berasal dari dunia Eropa. Sehingga buku
ini memiliki isi yang padat. Karena memiliki informasi dari rujukan buku yang
dapat berpengaruh dalam sosiologi agama. Tentu bagi para sosiolog masa kini,
buku ini dapat membantu dalam memahami gejala kegamaan sekarang ini. Dimana
terjadi ketidakseimbangan antara agama dan lembaga-lembaga lainnya. Agama
sebagai tempat terjadinya kerukunan dan sumber moral kini telah diubah menjadi
lembaga yang mementingkan kelompok agama itu saja, tanpa melihat kelompok lain
sebagai gejala sosial yang harus diterima umum. Sekiranya buku ini menjadi
referensi juga dalam memahami gejala yang timbul pada dunia sekarang ini.
Bisa dikatakan diatas sebagai keunggulan dari
buku tersebut. Karena telah memaparkan nilai-nilai yang terkandung dalam agama
sehubungan dengan orientasi pada masyarakat umum. Namun, hal lain juga bisa
dikatakan, bahwa relevansinya apa masih berguna untuk masyarkat sekarang ini?
Ya, tentu dengan melihat kekurangan dalam buku ini. Buku ini ditulis
berdasarkan perkembangan negara-negara Eropa yang tentu lebih menekankan Kekristenan
sebagai contoh. Sehingga hampir tidak ada bagi agama-agama memiliki tempat yang
sejajar dengan Kristen. Karena yang dirujuk adalah para sosiolog yang memang
memiliki kepercayaan Kristen. Sehingga apakah memang tidak ada para sosiolog
yang berasal dari agama lain? Sehingga bisa dikatakan buku ini merujuk pada
agama Kristen semata. Kalau dirujuk juga dengan para ahli dari agama lain
membuat buku ini semakin kompleks dan memiliki isi yang lebih baik dan berguna
untuk kalangan umum.