PROFIL
PAROKI YESUS GEMBALA BAIK
Pendahuluan
Gereja
Katolik adalah sebuah lembaga keagamaan yang memiliki pengikut yang terbanyak
di seluruh dunia. Jumlah anggota Gereja Katolik tahun 2014 meningkat pada tahun
pertama setelah Paus Fransiskus terpilih. Meskipun umat Katolik Eropa terus
menurun : dari 25,5 % tahun 2005 dan telah jatuh hingga 23,3% tahun 2012. Tapi,
umat Katolik Asia juga meningkat. Asia menyumbang 60% dari populasi dunia dan
Katolik Asia mencapai 11% dari populasi[1].
Tahun 2012, umat Katolik di seluruh
dunia telah mencapai 1,228 miliar, tambah 14 juta atau 1,14 %, seikit melampui tingkat
pertumbuhan populasi global, seperti tahun 2013 yang diperkirakan 1,09%. Gereja
Katolik memiliki presentase populsi global yang tidak berubah di tahun
sebelumnya yakni sekotar 17,2%. Kemudian selama tahun 2012, sekitar 16,4 juta
orang dibaptis baik bayi maupun orang dewasa[2].
Data
di atas menunjukkan bahwa di tengah perkembangan dunia, Gereja Katolik tetap
bertumbuh. Perkembangan tersebut akan dilihat lebih sempit lagi atau di lapangan
yang lebih kecil lagi yakni perkembangan di salah satu paroki di Keuskupan
Manado. Paroki tersebut ialah Paroki Yesus Gembala Baik Paniki Bawah.
Tujuan
pembuatan paper ini ialah untuk membuat sebuah profil paroki. Selain itu juga
untuk melihat perkembangan umat yang ada di dalamnya. Profil paroki ini kiranya
dapat membantu untuk meninjau pertumbuhan umat yang ada di Keuskupan Manado, terlebih
lagi untuk kemajuan dari Paroki Yesus Gembala Baik Paniki Bawah sendiri. Selain
itu juga tujuan penting lain pembuatan paper ini untuk memenuhi tugas akhir
semester dan mendapat nilai semester. Untuk itu, paper ini akan dibagi dalam
beberapa bagian yakni bagian pertama tentang konteks sejarah dari Paroki Yesus
Gembala Baik Paniki Bawah. Kedua, faktor pendukung pertumbuhan umat. Ketiga,
faktor penghambat dan keempat mengenai tokoh-tokoh penting yang berpengaruh di
paroki maupun di stasi-stasi.
A.
Konteks Sejarah
Paroki Yesus Gembala Baik Paniki Bawah merupakan
paroki pecahan dari Paroki Yohanes Penginjil Laikit. Dengan mempertimbangkan
bahwa paroki Laikit wilayahnya cukup besar dan pastor parokinya hanya satu maka
diberikan wewenang kepada stasi Yesus Gembala Baik Paniki Bawah untuk menjadi
pusat paroki sebagai proses pembentukan paroki. Paroki ini baru dimekarkan pada
tanggal 14 September 1994. Paroki ini pada awal pemekaran hanya memiliki 6
stasi tapi dalam perkembangannya paroki ini sudah menjadi 7 stasi. Stasi-stasi
itu adalah stasi Yesus Gembala Baik Paniki Bawah (Pusat Paroki), stasi Sta.
Monika Paniki Atas, stasi St. Petrus Koka, stasi St. Carrolus Borromeus Kima
Atas, stasi Rosa Mystica Lapangan, stasi Sta. Veronika Paniki Dua (Perum) dan
stasi Sta. Veronika Kaiwatu. Berikut ini akan digambarkan Konteks sejarah dari
setiap stasi yang ada ini[3].
1.
Sejarah Gereja Katolik Pusat Paroki Yesus Gembala Baik
Paniki Bawah[4]
Sebelum terbentuk paroki sendiri, Paroki Yesus Gembala Baik Paniki Bawah
merupakan salah satu wilayah pelayan dari Paroki Yohanes Penginjil Laikit. Yang
menjadi pastor Paroki waktu itu adalah Pst. Niko Veldhuyzen, Pr. Sistem
kepemimipinan yang ada di Paroki Laikit yakni sistem ketua periodik. Artinya,
selama 3 tahun dipilih 3 ketua masing-masing 1 tahun kepemimipinan. Tahun 1994
adalah masa persiapan pemekaran stasi Paniki Bawah menjadi sebuah paroki.
Tepatnya pada 14 September 1994 Stasi Paniki Bawah resmi menjadi Paroki Yesus
Gembala Baik, Paniki Bawah dengan pastor parokinya Pst. Niko Veldhuyzen, Pr
dengan 7 stasi. Pada waktu itu yang menjabat sebagai ketua periodik paroki
Laikit adalah Bpk. Feliks Moniaga yang bertemapt tinggal di Paniki Bawah.
Karena itu, beliau langsung ditunjuk untuk mejadi ketua persiapan pembentukkan
dewan paroki baru. Setelah pemekaran dan menjadi sah sebagai paroki, Pak.
Feliks menjabat ketua persiapan pembentukkan dewan paroki baru selama setahun.
Tahun 1995 terpilihlah ketua dewan yang pertama bersama dewan paroki barunya
yakni Bpk. Aloysius Manoppo dengan tidak lagi mengikuti sistem periodik tetapi
dengan masa jabatan 3 tahun. Pada waktu itu, ada 5 wilayah rohani di pusat
paroki dengan kira-kira 400-an KK dan sekitar 1300-an jiwa, berikut data pastor
paroki yang pernah menjabat sebagai pastor paroki di Paroki Paniki Bawah dan
ketua dewan paroki.
|
Pastor Paroki
|
Masa Jabatan
|
|
Pst. Niko Veldhuyzen, Pr
|
1994 – 1997
|
|
Pst. Manuel Poluan, Pr
|
1997 – 2002
|
|
Pst. Herman Kaawoan, Pr
|
2002 – 2008
|
|
Pst. John Karundeng, Pr
|
2008 – 2013
|
|
Pst. Joutje Palit, Pr
|
2013 – sekarang
|
|
Ketua Dewan Paroki
|
Masa Jabatan
|
|
Bpk. Feliks Moniaga
|
1994 – 1995 (persiapan)
|
|
Bpk. Aloysius Manoppo
|
1995 – 1997
|
|
Bpk. Gerald Senduk
|
1997 – 2000
|
|
Bpk. Adri Manengkey
|
2000 – 2003
|
|
Bpk. Weli Pesol
|
2003 – 2006
|
|
Bpk. Adri Manengkey
|
2006 – sekarang
|
Ketika
Pst. Herman Kaawoan, Pr menjabat sebagai pastor paroki, pada tahun 2007 beliau
memekarkan 5 wilayah ini yang memang sudah sangat banyak umat di setiap
wilayah, menjadi 17 wilayah rohani (St. Aloysius Gonzaga, Sta. Theresia dari
kanak-kanak Yesus, St. Ignatius, St. bartolomeus, St. Matius, St. Frasiskus
Xaverius, St. Benedictus, St. Agustinus, Sta. Anna, St. Bernardus, Sta.
Caecilia, Sta. Maria Goretty, Sta. Agatha, Sta.Faustina, St. Ambrosius, St.
Thomas Becket). Faktor penyebab perkembangan umat di wilayah paroki yakni
pesatnya perumahan-perumahan umum dan elit di sekitar wilayah paroki menyebabkan banyak pendatang/penduduk
baru dari tempat-tempat lain. Umat Katolik di tempat lain datang tinggal di perumahan
dan akhirnya menjadi umat paroki Paniki Bawah. Perkembangan umat sangat pesat.
Sekarang ini, kira-kira jumlah umat di Paroki Paniki Bawah sudah mencapai 1547
KK dengan jumlah umat sekitar 5000-an umat. Total semua wilayah rohani di
Paroki Paniki Bawah (terhitung dari semua stasi) yakni 38 wilayah. Pada
persekolahan Katolik di wilayah Paroki yakni TK Sta. Anna, Paniki Bawah; SD 02
Don Bosco, Paniki Bawah; SD 03 St. Yohanes, Mapanget Bawah; SMP Sta. Monika,
Paniki Bawah.
2.
Sejarah Gereja Katolik Stasi Sta. Monika Paniki Atas[5]
2.1.
Umat Paniki Atas
sebagai Stasi dari Paroki Laikit
Sebelum tahun 1982, sudah ada umat katolik di daerah Paniki Atas. Pada
masa ini, stasi Paniki Atas merupakan daerah pelayanan dari pastor paroki
Laikit. Pastor paroki Laikit yang berkarya pada masa ini adalah pastor Niko
Veldhuyzen, Pr.
Sekitar tahun 1982, oleh karena aktivitas pelayanan jarang, jumlah umat
katolik yang ada di stasi Paniki Atas berkurang. Mereka yang berupaya bertahan
untuk menghayati iman Katolik adalah keluarga:
·
Mangambah –
Manaroinsong
·
Rori – Mandey
·
Rambing – Dien
·
Anis – Maramis
·
Oma janda
Adelgonda Polii – Pongoh
·
Oma janda Maria
Pongoh.
Setelah tahun 1982, jumlah umat Katolik di stasi
Paniki Atas perlahan bertambah oleh karena perpindahan penduduk dari daerah
lain ke daerah Paniki Atas. Mereka yang
datang kemudian antara lain, keluarga Tumbol – Kaawoan (1984), Tundo – Wantania
(1994), Laki – Umboh (1990-an), Montolalu – Tumewu (1990-an), dan Pangau –
Tahulendeng (1990-an). Pada masa ini, lahan dan gedung gereja stasi Paniki Atas
belum ada, sehingga ibadat sabda dilaksanakan dari rumah kerumah, sementara
perayaan ekaristi diselenggarakan kira-kira tiap tiga bulan sekali di rumah
umat stasi Paniki Atas.
Dalam rentang waktu 1982 – 1994, tokoh-tokoh umat yang
terpanggil untuk memimpin umat stasi Paniki Atas, antara lain Ibu Theodora
Tumewu, Bpk. Refli Tumbol, dan Bpk. Joseph Tundo.
2.2.
Umat Paniki Atas
sebagai Stasi dari Paroki Yesus Gembala Baik Paniki
Pada tanggal 14 September 1994, wilayah stasi Paniki Bawah, Paniki Atas,
Lapangan, Koka, dan Perum tidak lagi menjadi wilayah stasi dari paroki Laikit,
tetapi dari paroki yang baru, yakni paroki Yesus Gembala Baik, dengan tambahan
stasi dari paroki Tuminting, yakni stasi Kaiwatu. Wilayah pusat paroki dari
paroki Yesus Gembala Baik berpusat di Paniki Bawah dengan pastor paroki Niko
Veldhuyzen Pr (1994 – 1997).
Pada masa ini, umat yang ada di stasi Paniki Atas berjumlah 7 KK, dengan
ketua stasi Bpk. Joseph Tundo (1995-2005). Ketika pastor Manuel Poluan Pr (1997
– 2002) menggantikan pastor Niko sebagai pastor paroki, lahan untuk gedung
gereja stasi Paniki Atas dibeli, sehingga pada tahun 1997 didirikanlah sebuah
gedung gereja darurat ukuran 6 m x 7 m, dengan dinding tripleks dan atap seng,
serta tiang-tiang pengancing dari batang kelapa dan dengan bangku-bangku sisa
dari SMP St. Dominikus Savio Manado. Lahan di sekitar gedung gereja yang belum
rata perlahan-lahan ditimbun untuk diratakan dengan tanah-tanah yang
didatangkan dari luar Paniki Atas.
Setelah masa pelayanan pastor Manuel Poluan Pr berakhir, tugas sebagai
pastor paroki Yesus Gembala Baik dijalankan oleh pastor Herman Kaawoan Pr (2002
– 2008). Pada tahun 2002 pembangunan gedung gereja yang baru dimulai dengan
dukungan dari umat stasi Paniki Atas yang secara spesifik dijalankan oleh
panitia pembangunan gereja. Pada masa ini kuantitas umat bertambah terutama
karena datangnya umat-umat Katolik untuk berdomisili di perumahan-perumahan
baru di desa Paniki Atas, pun kemudian di desa Paniki Baru. Pada masa ini pula,
nama stasi Paniki Atas dilengkapi dengan nama Sts. Monika sebagai pelindung
Gereja, stasi, oleh karena inisiatif dan prakarsa dari pastor Herman Kaawoan Pr
sebagai pastor paroki Yesus Gembala Baik. Selain itu, oleh karena jumlah umat
yang semakin bertambah, stasi Sta. Monika
kemudian dikoordinasi menurut wilayah-wilayah rohani, yakni wilayah rohani St.
Kristoforus dan wilayah rohani St. Maria Alacope.
Setelah masa pelayanan pastor Herman Kaawoan Pr berakhir, tugas pastoral
parokial dilaksanakan oleh pastor John Karundeng Pr (2008 – 2013). Pada masa
pelayanannya, tugas pelayanan ibadat hari minggu di beberapa stasi tidak lagi
diembankan kepada para frater yang bertugas week-end
ataupun kepada ketua-ketua stasi, karena telah diusahakan pelayanan Misa
Mingguan oleh pastor paroki dan oleh pastor-pastor dosen dari Sekolah Tinggi
Filsafat Seminari Pineleng. Alhasil, kerinduan umat untuk merayakan ekaristi
pada setiap minggu dapat terfasilitasi.
Sampai saat sekarang (2014), keluarga katolik yang termasuk wilayah
rohani St. Kristoforus berjumlah 30 KK dan keluarga katolik yang termasuk
wilayah rohani St. Maria Alacoque berjumlah 52 KK. Proses pembangunan gedung
gereja terus diusahakan oleh pastor Paroki Joutje Palit, Pr (2013-sekarang),
bersama panitia pembangunan gedung gereja, dengan dukungan dari umat stasi St.
Monika. Semenjak menjadi stasi dari Paroki Yesus Gembala Baik Paniki,
tokoh-tokoh umat menadapat tugas untuk menjalankan tugas sebagai ketua stasi
adalah Bapak Joseph Tundo (1994-2004), Bapak Frans Panggua (2004-2007), Bapak
Jelly Nayoan (2007-2010) dan Bapak Markus Kebung (2010-sekarang).
3.
Sejarah Gereja Katolik Stasi St. Petrus Koka[6]
Sejarah Gereja Katolik di stasi St. Petrus Koka tak bisa dilepaskan dari
sejarah Gereja Katolik di Kima Atas. Umat Katolik yang mengungsi akibat pergolakan
Permesta, beberapa memilih tinggal di wilayah Koka sekarang. Beberapa umat yang
lain juga merupakan pendatang di Koka untuk berkebun. Namun, sempat juga
kegiatan peribadatan berhenti karena umat tidak terkoordinasi dengan baik.
Hingga akhirnya, pada tahun 1963 datanglah seorang Bapak yang bernama Jhony
Darius Angkow, seorang polisi yang bertugas di wilayah Koka. Ia memiliki
pengetahuan yang cukup baik mengenai agama katolik. Sejatinya, ia berasal dari Paslaten Tomohon.
Umat Katolik yang tersebar di perkebunan Koka dan Kima Atas, dikumpulkannya di
rumahnya (rumah Bapak Jhony) untuk diadakan Katekese dan ibadat. Kegiatan
ibadah kadang kala menggunakan alas tikar dan lampu petromax. Waktu itu
berkumpul sekitar tujuh KK antara lain :
·
Keluarga Rambert
– Karundeng
·
Ramoh – Kamoh
·
Pongayow – Ramoh
(dari Tara-Tara)
·
Kaunang - Ngangi (dari Warisa),
·
Pudihang –
Bawingehe (dari Siau)
Mereka menggunakan kolong rumah dari Bpk. Darius
Angkow sebagai tempat melaksanakan kegiatan menggereja. Dari keluarga katolik
mula-mula ini, sebagian umat katolik memang sudah dari awal, tapi khusus
keluarga Kaunang-Ngangi, mereka masuk Katolik karena kedekatan dengan Bpk.
Johny Darius Angkouw. Dapat ditangkap bahwa Bpk. Darius Angkouw adalah polisi
dan tokoh umat yang sangat berpengaruh.
Pada tahun 1964, mulai dibangun sebuah gedung gereja,
dibelakang rumah keluarga Bpk. Darius Angkouw. Gedung gereja ini masih terbuat
dari kayu namun sudah cukup mewah untuk ukuran waktu itu karena sudah dipasangi
“candi” dan lonceng gereja. Pada tahun 1967, umat yang masih kecil ini, sudah
nekat mengadakan penerimaan sakramen krisma, yang dilayani oleh uskup Theodorus
Moors, MSC. Acara penerimaan krisma ini dibuat dengan sangat meriah karena
melibatkan penari tari kabasaran dan drum band dari Tomohon. Pada tahun 1966,
umat mendirikan SD Katolik St. Yohanes Penginjil, yang waktu itu hanya terdiri
dari 5 kelas (kelas 1-5). Kehidupan menggereja umat pada masa-masa ini cukup
baik dimana umat rela berjalan kaki dengan menggunakan obor untuk melaksanakan
kegiatan ibadat leingkungan. Pada tahun 1987, dibangun lagi sebuah gedung
gereja di lokasi gereja sekarang untuk mengganti gedung gereja yang dibangun
tahun 1984. Gedung yang baru ini bertahan hingga pada tahun 2009 diresmikanlah
gedung gereja baru yang dipakai hingga sekarang. Gereja agak lama diresmikan
bukan karena tidak selesai, namun karena PLN, di depan gereja dibangun gardu
listrik yang agak mengganggu. Jadi umat katolik stasi Koka sudah pernah
memiliki 3 gedung gereja hingga sekarang.
Pada tahun 1990-an, jumlah umat berkembang pesat
karena pemukiman baru dibangun diwilayah ini. mulai tahun 1990 dibangun
beberapa perumahan antara lain : perumahan BTN Nusantara pada tahun 1990,
perumahan RSS (rumah sangat sederhana) pada tahun 1994, perumahan Taman
Mapanget Raya (Tamara) pada tahun 2000 dan perumahan Gerbang Mulia pada tahun
2005. Penambahan jumlah umat yang sangat signifikan ini, mempengaruhi juga
pembagian wilayah rohani.
Hingga tahun 1990, belum terdapat pengelompokkan umat
dalam suatu lingkungan atau wilayah rohani. Namun mulali tahun 1991, umat stasi
Koka dibagi dalam lingkungan 1 dan lingkungan 2. Lingkungan 1 dipimpin oleh
Yohanes Pangaribuan dan lingkungan 2 oleh Fidelis Mangetan. Lingkungan 1
kemudian berganti nama menjadi wilayah rohani St. Yosep mulai pada tahun 1994
hingga tahun 2000. Ketua wilayah rohaninya waktu itu ialah : Bpk. Agus Yosua
(1994 – 2000). Tahun 2000 wilayah rohani ini dimekarkan menjadi dua yakni
wilayah rohani St. Paulus dan wilayah
rohani Sta. Angela. Wilayah rohani St. Paulus dipimpin oleh Ibu Pauline selama
2 periode dari tahun 2000 – 2006, dan oleh Bpk. Roy Kainde 2006 – 2009. Pada
tahun 2007, oleh kebijakan pastor paroki yakni Pst. Herman Kaawoan Pr, maka
wilayah rohani St. Paulus berganti nama menjadi wilayah rohani St. Antonius
Padua. Selanjutnya ketua wilayah rohani antara lain Bpk. Ance Untu dari tahun
2009-2012 dan kemudian oleh Ibu Meiske Pontoh dari tahun 2013 hingga sekarang ini.
Sementara wilayah rohani St. Angela berturut-turut
dipimpin oleh Bpk. Jerru Ramoy, Paulus Warouw, Heice Makalanis (2002-2003).
Selama tiga tahun ini memang terjadi pergantian dalam waktu singkat karena
kesibukan masing-masing bahkan harus keluar daerah sehingga memang harus
diganti. Kemudian dari tahun 2003 – 2006 oleh Ibu Quisye Saming-Samsul. Dari
tahun 2006 – 2009 oleh Bpk. Tropinus Porang. Pada tahun 2007, wilayah ini
dimekarkan menjadi wilayah St. Kristoforus
dan St. Angela. Wilayah St. Angela kemudian dipimpin oleh Bpk. Daniel
Pongayow, sementara Bpk. Tropinus Porang memimpin di Wilayah St. Kristoforus.
Oleh kebijaksanaan pastor paroki saat itu (P. Herman Kaawoan) digabungkan ke
stasi Kima Atas untuk mendukung jumlah umat yang ada disana. Memang posisi
wilayah rohani ini lebih dekat ke Kima Atas meskipun berada di wilayah Koka.
Sementara lingkungan 2 pada tahun 2004 berganti nama
menajd iwilayah rohani St. Theresia. Pemimpinnya antara lain : Ibu Anneke
Pangaribuan-Angkouw (1994-2002), Bpk. Markus Rumambi (2002-2012). Pada tahun
2009, wilayah ini dibagi menjadi wilayah rohani Sta. Theresia dan wilayah
rohani Sta. Perpetua. Wilayah rohani Sta. Perpetua merupakan wilayah rohani
yang baru. Umat wilayah rohani ini adalah orang-orang pendatang yang bekerja
serabutan. Mereka tingga sebagian di Koka dan sebagian lagi di perumahan RSS.
Kesulitan khusus yang mereka alami ialah wilayah geografis yang cukup jauh
antara perumahan dan gedung gereja. Mereka harus melalui hutan-hutan dan sarana
transportasi hanya ojek. Akibatnya jika kegiatan ibadah wilayah rohani
dilakukan di Koka, maka umat dari RSS sulit untuk hadir, demikian juga
sebaliknya. Demikian juga pada hari Minggu, mereka harus naik ojek ke Gereja.
Dengan penghasilan pas-pasan rasanya berat jika satu keluarga harus naik ojek
tiap hari Minggu. Mereka bukannya malas, tetapi jarak tempug, sarana-prasarana
dan ekonomi mereka menghambat mereka untuk melaksanakan kegiatan peribadatan.
Dari tahun 1963 hingga 2013, umat stasi Koka pernah
dipimpin oleh 4 ketua stasi. Mereka itu antara lain: Bpk. Johny Darius Angkouw
(1963-2000), Bpk. Yohanis Pangaribuan (2000-2003), Bpk. Agus Yosua (2003-2009)
dan isteri dari Bpk. Yohanis Pangaribuan (2009-2012). Hingga sekarang, jumlah
umat stasi Koka sudah 95 KK. Sebenarnya jika masih bersama dengan umat
perumahan Tamara (yang digabungkan ke Kima Atas), maka jumlah umat sebenarnya
sudah mencapai 120-an KK).
[1] http://indonesia.ucanews.com/2014/05/25/jumlah-umat-katolik-bertumbuh-di-asia-amerika-dan-afrika-menurun-di-eropa, diunduh
Tgl. 10 Desember 2014.
[3] Kelompok Studi Mitra (KSM)
Skolastikat MSC Pineleng, “Laporan penelitian sejarah gereja katolik di
keuskupan Manado”, juli 2013.
[4] Berdasarkan
hasil wawancara dengan bapak Aloysius Manoppo (ketua dewan pertama), bapak Theo
Manoppo (ketua stasi sekarang), bapak Adri Manengkey (Mantan ketua dewan
sebelum bapak Theo) dan bapak Bartolomeus Lengkong.
[5] Berdasarkan
hasil wawancara bersama Bapak Joseph Tundo, Bartolomeus Lengkong, ibu Masye
Mandagie.